Hidden Mommy

Hidden Mommy
Bab 67. Barbeque



Malam harinya mereka mengadakan pesta barbeque. Lee menyiapkan panggangan di halaman, sementara Renata mengambil makanan yang siap untuk dibakar.


Tidak ada petugas yang membantu mereka, karena Lee sengaja membuat waktu mereka jauh lebih berharga. Gio dan Shasha tampak menggelar tikar bersama, hingga mereka benar-benar tampak seperti keluarga.


"Apakah ada lagi yang bisa kami kerjakan?" tanya Gio sambil menatap Lee dan Renata secara bergantian.


Renata mengulum senyum, dia merasa senang karena semenjak malam itu sikap Gio jadi lebih hangat. Bahkan pria kecil itu tak segan untuk berbicara langsung padanya.


"Ke marilah, saya butuh bantuan Tuan Kecil dan Nona Shasha untuk menusuk-nusuk daging," kata Renata sambil menggerakkan tangan, meminta kedua anaknya untuk mendekat.


"Bagaimana caranya, Kakak Cantik?" tanya Shasha.


Renata langsung mengambil daging dan tusukan secara bersamaan. "Perhatikan dulu yah, dan kalian juga harus hati-hati karena ujungnya ini tajam."


Gio tersenyum remeh, seolah pekerjaan itu adalah hal yang paling mudah. "Itu bukan sesuatu yang sulit."


"Kalau begitu cobalah," tantang Renata sambil tersenyum tipis.


"Aku juga mau mencobanya," timpal Shasha, gadis kecil itu pun ikut mengambil tusukan dan beberapa olahan yang hendak dibakar.


Sementara di ujung sana, Lee terus diam dan memperhatikan. Tidak dipungkiri hatinya benar-benar merasa senang melihat kedekatan antara Renata dan kedua anaknya. Karena selama ini dia jarang memanjakan si kembar, akibat sibuk dengan pekerjaan.


"Aku benar-benar merasa gagal setelah kepergianmu, Alice," lirih Lee, kemudian dia melangkah mendekati ketiga orang itu. Dia berdiri di belakang Renata, dan tanpa meminta izin, pria itu meraih rambut Renata untuk dikuncir.


"Tuan?" panggil Renata seraya melirik ke samping, ingin melihat apa yang akan dilakukan pria yang ada di belakangnya.


"Aku ingin membantumu menguncir rambut. Karena sepertinya rambutmu ini mengganggu," ucap Lee dengan lemah lembut.


"Andai saya mau, saya bisa melakukannya, Tuan," jawab Renata, yang membuat pergerakan tangan Lee terhenti.


Lee ingin menjawab, tetapi Gio lebih dulu menimpali. "Tapi tangan Aunty kotor. Biar Daddy saja yang bantu, lagi pula Daddy sedang menganggur. Iya kan, Dad?"


Pria yang diajak bicara itu langsung menganggukkan kepala. Entah kenapa dia merasa bahwa si kembar adalah partner yang baik untuk mendapat perhatian Renata.


"Tapi saya tidak mau, Tuan Kecil," bantah Renata.


"Rambut Aunty itu panjang, kalau terkena makanan bagaimana? Bukankah nantinya jadi tidak higienis?"


Renata akhirnya bungkam, kalau Gio sudah bicara dia seperti kehabisan kata-kata untuk menjawab.


"Lagi pula Kakak Cantik akan semakin terlihat cantik kalau dikuncir. Seperti aku," sambar Shasha sambil mengibaskan rambut panjangnya. Yang membuat Lee jadi terkekeh.


Tanpa meminta persetujuan Renata, Lee langsung melanjutkan niatannya. Dia menata rambut Renata dengan telaten hingga terlihat rapih, baru setelah itu mengikatnya menjadi satu.


Sementara Renata terus terdiam. Kenapa dia selalu merasa bahwa apa yang dilakukan Lee berkaitan dengan masa lalu mereka. Karena hal ini salah satu kebiasaan Lee ketika dia hamil. Lee memang bukan pria yang pandai berkata-kata, tapi Lee selalu menunjukkan kasih sayangnya melalui tindakan.


"Sudah, kamu jadi lebih leluasa 'kan?"


Lee menganggukkan kepala, lalu tatapannya beralih pada Gio dan Shasha. "Berikan pada Daddy. Biar Daddy yang memanggangnya."


Dua bocah itu serempak memberikan miliknya masing-masing.


"Yang ini punyaku," ucap Shasha menandai kepemilikannya.


"Haish, yang mana saja! Lagi pula rasanya itu sama," balas Gio, tetapi Shasha tetap tak mau dengar. Dia yang sudah memasukkan sosis ke dalam tusukan, jadi sosis itu miliknya.


"Kalian hanya ingin makan satu?" sambar Renata yang sudah membawa beberapa tusukan.


"Wah benar, Kakak Cantik sudah mendapatkan banyak daging dan sosis. Aku tidak boleh kalah, oh iya, aku juga akan membuatkannya untuk Daddy," ujar Shasha dengan mimik wajahnya yang terlihat sangat menggemaskan.


"Terima kasih, Sayang," ucap Lee sambil mengusak puncak kepala putrinya.


"Berterima kasihlah dengan hal lain, Dad. Aku ingin tas Barbie terbaru, jadi Daddy harus membelikannya saat pulang nanti," jawab Shasha dengan gaya centilnya. Mengingatkan dia ketika Alicia menginginkan sesuatu.


"Oh my God, putriku sudah mengerti uang."


Lee yang sudah merasa tak tahan segera mengecupi wajah Shasha, hingga gadis kecil itu terkekeh.


Beberapa saat berlalu, Lee sudah berhasil memanggang semua makanan yang menjadi menu mereka malam ini. Dengan tersenyum pria itu membawa nampan ke arah ketiga orang yang sedang bermain musik.


"Saatnya makan," seru Lee, membuat ketiga orang itu langsung mengalihkan pandangan.


"Wow, kelihatannya enak sekali," ucap Shasha sambil bertepuk tangan.


"Ingatlah berapa milikmu tadi?" kata Gio.


"Apa-apaan kamu ini, milikku itu banyak tahu. Tadi kan Kakak Cantik membantuku."


"Harusnya kamu berusaha sendiri!" cibir pria kecil itu sambil mengambil satu tusuk daging.


"Hih sama saja, aku dan Kakak Cantik kan satu tim," ujar Shasha tak mau kalah.


"Tidak baik berdebat di depan makanan. Lebih baik kalian coba dengan mayones ini." Renata mencoba menengahi dengan mengulurkan mangkuk berisi mayones.


Lee mengambil satu tusuk sosis lalu mencelupkannya ke dalam mangkuk. Namun, dia malah mengulurkannya ke depan mulut Renata. "Makanlah ...."


Renata langsung tertegun. Ingin menolak tapi dia merasa lelah jika terus berdebat, karena dia yakin membantah Lee bukanlah keputusan yang tepat.


Hingga dia memilih untuk menggigit apa yang ada di hadapannya. Dan hal tersebut membuat Lee mengulum senyum.


Kenapa kamu bersikap menggemaskan? Aku jadi ingin menciummu sekarang.