Hidden Mommy

Hidden Mommy
Bab 62. Kenangan



Suara dari dua tubuh yang jatuh itu terdengar sangat keras. Lee menahan kepala Renata dengan kedua tangannya, agar tidak menempel langsung pada lantai yang sebenarnya dilapisi oleh karpet tebal.


Posisi mereka sekarang benar-benar mengkhawatirkan. Sebab Lee berada tepat di atas tubuh Renata yang terbujur lemah, sementara bibir mereka menyatu membuat suasana kian membingungkan.


Dua pasang mata itu saling tatap, menciptakan hening di sepersekian detik. Di dalam jarak yang sedekat itu, Renata bisa merasakan detak jantung serta hembusan Lee.


Dan seharusnya hal tersebut menjadi alasan agar dia cepat-cepat menyingkir. Namun, tubuh Renata seolah kaku hingga tak dapat bergerak.


Mereka sama-sama menyelami pikiran masing-masing. Akan tetapi mereka telah mencapai satu tujuan, hingga dalam bayangan otak mereka tergambar jelas kenikmatan bercinta di ruangan ini.


Lee berusaha untuk tidak terpancing. Meskipun rasa ingin mengulang kenangan itu lebih mendominasi. Hingga dia merasa bahwa otak dan hatinya tak sejalan, sebab dalam detik selanjutnya Lee menggerakkan bibir, dan membuat Renata langsung mendorong pria itu.


Bruk!


Lee langsung berguling ke samping, sementara Renata berusaha untuk bangkit, dia bukanlah wanita murahan yang bisa digoda dengan mudah. Apalagi jatuh pada pria yang sama.


"Sebaiknya saya tunggu di bawah, Tuan. Dan saya minta tolong pada anda, agar anda menjaga sikap!" tegas Renata, tak peduli bagaimana hubungan Lee dan Sofia, dia tidak mau menjadi yang ketiga di antara keduanya.


"Anda tidak perlu terlalu berlebihan menolong saya. Karena status saya bukan siapa-siapa, terlebih saya bisa menjaga diri saya sendiri!" sambung wanita cantik itu.


Lee hanya bisa bungkam sambil memperhatikan Renata yang pergi meninggalkannya. Dia tahu semua ini bukanlah sesuatu yang mudah bagi mereka.


Menjalani Kepura-puraan dan hidup dengan dendam.


"Kamu akan terus seperti itu sampai berhasil mendapatkan apa yang kamu mau, Alice?" tanya Lee, dia bangkit dan menatap nanar. Namun, siapa peduli dengan pertanyaannya?


Sebab rasa cinta di hati Renata telah lama membeku, berubah dengan kebencian yang entah kapan bisa menghilang.


Renata terus merutuki dirinya yang sangat ceroboh. Bisa-bisanya dia selalu mengingat kenangan buruk bersama badjingan itu. "Aku tidak bisa seperti ini terlalu lama. Aku harus cepat-cepat membuat Gio dan Shasha percaya bahwa aku ibu mereka. Lalu pergi dari kota ini."


Wanita itu mengeluarkan ponsel, lalu melihat foto kedua anaknya yang sedang tersenyum. Dengan melihat itu, perasaan Renata selalu menghangat dan jauh lebih tenang.


"Semoga saja kalian mau menerima Ibu," gumam Renata dengan tersenyum getir, antara yakin dan tidak yakin, sebab kedua bocah itu pun dekat dengan ayahnya.


Tak berapa lama kemudian, Lee menyusul dengan membawa beberapa buku yang ia jadikan alasan. Dia turun naik dua kali, agar Renata benar-benar percaya akan ucapannya.


Baru setelah itu, dia kembali duduk di kursi kemudi. Akan tetapi dia tak langsung menyalakan mesin mobil, dia terdiam sesaat lalu berkata dengan nada pelan. "Maafkan sikapku tadi. Aku terlalu hanyut dalam suasana."


"Saya sudah memaafkannya, Tuan. Karena saya juga bersalah, lain kali saya akan lebih berhati-hati."


Lee menghela nafas dengan sunggingan senyum tipis. "Sebagai permintaan maaf, bagaimana kalau kita makan malam?"


Renata langsung melirik ke samping, lalu menggelengkan kepala. "Sama seperti anda, saya juga memiliki segudang kesibukan. Jadi, lebih baik kita langsung pulang."


"Baiklah, tapi jangan lupa untuk akhir pekan. Kita akan berangkat jam 7 pagi, usahakan jangan telat."


"Tentu saja, Tuan, karena saya yakin anda pasti sudah bicara dengan Nona Shasha mengenai hal ini, jadi saya tidak akan mengecewakannya."


Senyum di bibir Lee semakin lebar. Sekarang dia hanya bisa mengandalkan Gio dan Shasha untuk memiliki waktu lebih lama dengan Renata.


Meskipun entah apa yang akan terjadi di hari esok. Entah kebahagiaan atau justru perpisahan yang menyakitkan.


Aku akan menerima konsekuensinya, kamu boleh menghukumku setelah ini, Alicia.