
Di sisi lain Renata baru saja mencari makan malam di luar. Ketika dia hendak naik lift, tiba-tiba seseorang muncul di sampingnya. Dan dia adalah Regina. Wanita itu baru saja pulang dari rumah sakit, setelah menghabiskan jam prakteknya.
Renata tersenyum tipis ketika melihat wanita itu lagi, dia memiringkan kepala sambil melayangkan satu pertanyaan. "Hai, Nona, apa anda tinggal di sini juga?"
Mendengar itu, Regina langsung menoleh ke samping, dan ternyata hanya ada mereka berdua. Sudah tentu Renata bertanya padanya. "Oh iya. Aku sudah setahun tinggal di sini, Nona. Apakah Nona orang baru?"
"Betul, saya baru saja pindah. Saat pertama kali kita bertemu tepatnya," balas Renata dengan sopan.
"Kalau begitu kita adalah tetangga, namaku Regina. Panggil saja Gina," ucap Regina sambil mengulurkan tangan ke arah Renata.
Namun, bukannya lekas menjabat tangan wanita yang ada di sampingnya. Renata justru bergeming, karena dia merasa tidak asing dengan nama itu. Dia berusaha mengingat-ingat, hingga akhirnya pintu lift terbuka.
Regina menarik kembali tangannya dengan gugup, lalu mengajak Renata masuk. Mendapati hal itu Renata merasa tidak enakan. Dia tidak bermaksud untuk mengabaikan Regina, dia hanya merasa mengenali wanita itu. Tapi di mana?
"Maaf, Nona. Apakah anda seorang dokter?" tanya Renata, karena seingatnya Arshlan pernah memberikan dia nomor seseorang yang bernama Regina, dan wanita itu berprofesi sama dengan Arshlan.
Regina pun mengangguk pelan. Sementara Renata langsung menganga, jangan-jangan benar dugaannya, bahwa wanita ini adalah seseorang yang Arshlan maksud.
Dengan tergesa Renata membuka ponselnya dan memperlihatkan nomor kontak Regina. "Apakah ini nomormu, Nona?"
Regina mengejanya pelan-pelan, dan dia langsung mengerutkan keningnya. Dia tidak pernah merasa memberikan nomor pribadinya pada siapapun, kecuali orang-orang terdekatnya. "Dari mana kamu mendapat nomorku?" Tanya Regina penasaran.
Renata langsung tersenyum lebar.
"Apakah anda teman dokter Arshlan?" Bukannya menjawab, Renata justru kembali memberikan pertanyaan.
"Arshlan? Oh jadi, kamu orang yang katanya pindah ke ibu kota untuk bekerja dan kuliah?"
Regina ikut merasa terkejut, karena ternyata orang yang dititipkan sahabatnya sudah ada di depan mata. Bahkan pertemuan mereka tanpa disengaja. Sungguh rencana Tuhan benar-benar ajaib.
"Benar, Nona, namaku Renata," jawab Renata dengan antusias, dia pun segera menjabat tangan Regina.
"Kalau begitu panggil saja aku Gina. Karena aku juga akan memanggilmu Renata atau Rena."
Renata pun segera mengangguk setuju. "Baiklah, mulai saat ini saya akan memanggil anda Gina."
"Tentu saja, kalau begitu ayo main ke apartemenku."
***
Pagi datang.
Di dalam perjalanan menuju perusahaan, Lee mendapatkan sebuah amplop coklat dari Zack. "Seseorang menitipkannya untukmu, Kak." Ucap pria itu apa adanya.
Lee pun meraih amplop tersebut dengan kening yang berlipat-lipat. Dan dia teringat dengan data lengkap Renata yang dia minta kemarin. Dia segera membuka amplop tersebut, dan mengeluarkan isinya satu persatu.
Dia membaca dari atas, mengenai orang tua Renata, dan di mana wanita itu dilahirkan. Lee terlihat sangat serius, hingga dia tak sadar, kalau sedari tadi Zack memperhatikannya.
Zack tidak tahu kalau Lee sedang menyelidiki Renata. Karena dia merasa bahwa Renata baik-baik saja. Dia tidak curiga sedikitpun bahwa Renata memiliki hubungan dengan istri kedua kakak sepupunya itu.
Lee terlihat sangat terperangah. Karena ternyata Renata tidak memiliki sedikitpun hubungan darah dengan Alicia. Bahkan mengenal pun tidak, karena kota kelahiran mereka memiliki jarak yang cukup jauh.
Lalu kenapa bisa aku selalu terbayang-bayang wajah Alicia? Kenapa dia memiliki sesuatu yang membuat aku selalu merasa bahwa Alicia ada di dekatku?
Pria tampan itu membatin dengan raut gusar. Entah kenapa dia tidak merasa puas dengan data yang diberikan oleh anak buahnya. Karena dia berharap mendapatkan sebuah petunjuk.
"Kamu ada masalah, Kak?" tanya Zack, karena melihat Lee yang begitu kusut. Tidak seperti biasanya.
"Tidak, Zack. Sampai di perusahaan, bilang saja pada Renata, kalau aku membutuhkan revisi data proyek yang sedang kita kerjakan."
"Baiklah. Tapi kalau ada apa-apa, jangan segan untuk bercerita. Aku ini bukan hanya asistenmu, tapi aku juga keluarga," terang Zack berusaha menghibur Lee. Dia sadar setelah kepergian Alicia, membuat hidup Lee berantakan.
Dan dia mengakui bahwa itu salah satu kesalahannya juga.
"Iya, Zack. Terima kasih, kamu memang yang paling pengertian," ujar Lee sambil menepuk bahu Zack, dia berusaha tersenyum karena tak mau membuat orang-orang yang ada di sekitarnya merasa khawatir.
Melihat itu Zack pun ikut tersenyum pula.
Untukmu, aku juga tidak menyerah untuk mencari wanita itu, Kak.
***