
Bukan hanya tentang Fenny dan Zack yang membuat Regina bertanya-tanya. Namun, kedatangan kedua orang itu pun membuat Regina merasa penasaran, jika dari gelagatnya, mereka berdua bukan datang untuk menemuinya.
Atau jangan-jangan Zack sudah menyewa sebuah apartemen. Untuk? Tiba-tiba mata Regina terbelalak lebar, dengan pikiran yang ke mana-mana.
"Zack, tunggu!" teriak Regina sambil mengejar langkah dua orang itu. Mendengar namanya dipanggil, tentu Zack langsung menghentikan langkah.
Dia menoleh ke belakang hingga melihat Regina yang berlari dengan nafas yang terengah-engah.
"Ada apa lagi?" tanya Zack dengan nada kesal, entah kenapa dia merasa sang sepupu mengganggu waktu berduanya dengan Fenny.
Regina menarik nafas lalu membuangnya secara perlahan.
"Mau ke mana kamu? Aku yakin kamu tidak ingin menemuiku! Aku sedikit curiga." Regina memberikan tatapan penuh selidik, sementara Zack hanya memutar bola matanya jengah.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak, kami ke sini untuk menemui Nona Re."
Kening Regina langsung berkerut. "Renata? Untuk apa?"
Zack terdiam sesaat, ia yakin sebentar lagi seluruh keluarganya juga akan tahu mengenai hal ini. Jadi, dia tidak bisa menyembunyikannya dari Regina.
"Aku akan memberitahumu sesuatu."
"Apa itu?"
"Sebenarnya Nona Re adalah ibu kandung Gio dan Shasha. Dia adalah wanita yang selama ini Kak Lee cari," jawab Zack apa adanya. Namun, bukan Regina yang merasa terkejut, tetapi Fenny, wanita itu terperangah mendengar pernyataan Zack.
Sementara Regina sudah tahu kalau Renata adalah ibu si kembar. Karena pada saat itu, Gio memberitahunya, namun, dia disuruh untuk merahasiakan ini semua dari seluruh keluarga.
***
Akhirnya Regina ikut pergi ke unit apartemen Renata. Di dalam lift, Zack terus menceritakan bagaimana keadaan Lee sekarang. Hingga membuat Regina terenyuh, walau bagaimanapun ini adalah bentuk kesalahpahaman.
Lee tidak sepenuhnya salah. Namun, mereka juga tidak bisa mengklime bahwa Renata tidak boleh membenci pria itu. Tugas mereka sekarang adalah mendamaikan mereka berdua.
Karena mereka yakin, sebenarnya Renata juga masih memiliki sedikit rasa terhadap Lee. Itu terbukti dari semua kebiasaan Lee yang masih dihafal oleh Renata sampai saat ini.
Regina memencet bel dengan keras, agar Renata segera membuka pintu. Berhasil, harapannya terkabul, sebab tanpa menunggu lama benda persegi panjang itu sudah terbuka dan menampilkan wajah Renata.
Kelopak mata Renata membola.
"Gin, Asisten Zack, dan—Fenny? Ada apa?" tanya Renata terbata-bata. Jujur saja dia takut kalau mereka akan merebut paksa kedua anaknya. Hingga dia selalu bersikap waspada.
Namun, pikiran wanita itu salah. Karena tidak ada satupun niat jahat di hati ketiga orang itu. Mereka datang karena ingin membantu. Apalagi ini semua menyangkut kebahagiaan si kembar yang pastinya menginginkan sebuah keluarga yang utuh.
"Kami hanya ingin berkunjung, Re," balas Regina. "Boleh kami masuk?"
Renata sedikit merasa ragu, namun akhirnya dia pun mengizinkan ketiga orang itu untuk masuk ke dalam apartemennya dan bertemu dengan kedua anaknya.
"Aunty Gin, Uncle Zack!" seru Gio saat melihat sepupu ayahnya datang. Dan tak ketinggalan sosok wanita yang kini menjadi pengasuhnya. Gio tersenyum lebar ketika melihat Fenny. "Nanny!"
Dengan tangan terbuka Fenny langsung meraih tubuh Gio. "Tuan Kecil, di mana Nona Shasha?"
"Ada, tadi dia sedang membantu Ibu memasak. Ah tidak, sebenarnya dia hanya mengacau di dapur," jawab Gio bercanda. Fenny bisa melihat binar bahagia di mata Gio saat memanggil Renata dengan panggilan seperti itu, dan rasanya dia ikut merasa haru.
Baru saja Gio ingin memanggil Shasha, tiba-tiba bocah cantik itu sudah keluar sambil berteriak kencang. "Wah, semua orang datang menjengukku, apakah kalian sudah rindu padaku?"
Zack mengulum senyum tipis, dilihat dari keadaannya, kedua bocah ini tak paham dengan situasi yang terjadi di antara kedua orang tuanya. Hingga membuat Zack merasa prihatin.
"Tentu saja, Bocah cantik yang cerewet," balas Zack sambil menggendong Shasha.
"Eum, aku tinggal sebentar yah. Aku akan menyiapkan makan malam," ucap Renata, menyela drama pertemuan itu. Dia merasa bahwa semua orang sudah tahu siapa dirinya, ya, pasti Lee telah bercerita pada anggota keluarganya.
Fenny juga ingin ikut, tetapi tiba-tiba sebuah kedipan mata membuatnya urung. Dia menutup mulutnya kembali, lalu tersenyum malu-malu.
"Bagaimana kalau kita bermain saja?" ajak Zack, membuat Gio dan Shasha langsung bersemangat.
"Ayo! Kita bagi kelompok, aku dengan Nanny, dan Uncle Zack dengan Shasha. Tim yang kalah harus mencuci piring malam ini," tantang Gio yang langsung disetujui oleh semua orang.
Di saat Renata dan Regina pergi ke dapur, mereka justru pergi ke ruang tamu untuk bermain.
Dan Zack sengaja mengatur ini semua, agar Regina bisa bicara berdua dengan Renata. Setidaknya mereka berusaha untuk meluluhkan hati wanita itu, agar bisa memaafkan sang kakak sepupu.
Regina terus mengikuti langkah Renata, hingga saat mereka berada di ruangan yang sama. Regina memanggil Renata.
"Re."
"Kalian sudah tahu siapa aku," tukas Renata tanpa menjawab panggilan Regina. Dan hal tersebut membuat Regina menghela nafas panjang.
"Tentu, ternyata kamu adalah orang yang selama ini Kak Lee cari. Dunia kita benar-benar sempit ya, Re. Tapi ... aku bersyukur, karena dengan begitu Kak Lee berhasil menemukan kembali wanita yang tidak pernah hilang dari pikirannya."
Regina tersenyum tipis, lalu menyentuh bahu Renata, hingga membuat wanita itu menoleh. "Kamu juga beruntung, memiliki dua anak yang sangat pintar. Aku iri denganmu, Re. Aku ingin dicintai sebegitu dalamnya, sama seperti Kak Lee mencintai kamu."
"Sebenarnya kamu bicara apa, Gin? Apa tujuanmu?"
"Tujuanku? Tidak ada. Aku hanya ingin memberitahu kamu, bahwa semua orang punya rasa sakit, Re. Kamu tidak akan tahu apa yang mereka rasakan, kecuali kamu berada di posisi itu."
"Begitu juga dengan kamu. Kamu tidak tahu apa yang sudah aku lalui, Gin!" cetus Renata, entah kenapa dia ingin menjadi si egois sekarang.
"Tentu. Aku memang tidak tahu seberapa dalam rasa sakit di hatimu. Tapi ... apakah kamu ingin terus mengingat rasa sakit itu? Apakah kamu tidak ingin berdamai? Sementara ada dua sosok yang menantikan itu semua? Kamu sanggup mengecewakan mereka?"
Mata Renata kembali berkaca-kaca. Mengingat senyum kedua anaknya, tentu membuat hati Renata menjadi lemah.
"Re."
"Cukup, Gin!"
"Re, dengarkan aku!"
"Cukup, Gin!" sentak Renata dengan nada kesal, tetapi Regina tahu bahwa Renata hanya butuh usaha Lee yang lebih keras.
"Kamu datang hanya untuk membahas itu?" tanya Renata, dan Regina langsung menggelengkan kepala.
"Kamu juga tidak tahu rasa sakit apa yang diterima Kak Lee, Re. Kamu tidak tahu apa yang dilaluinya selama ini. Dari dulu, sampai sekarang, aku tidak pernah lagi melihatnya tersenyum lebar, kecuali ketika dia melihat Gio dan Shasha."
Renata memalingkan wajah dengan air mata yang tiba-tiba menetes. Dia segera mengusapnya dengan kasar.
"Tapi kamu tenang saja, aku tidak akan memihak siapa-siapa. Kamu boleh memutuskan apapun, tapi ingat, pikirkan lebih banyak dan jangka panjangnya. I support you, Re. Kita sesama wanita, kamu boleh sekali terbuka padaku."
Renata menggigit bawahnya dengan kuat, menahan diri agar tidak terlalu hanyut, namun, pada akhirnya tangis wanita itu kembali pecah. Dan Regina langsung memeluk tubuh Renata.
***
Aku gak kenal kamu, tapi dari komentar kamu ini aku jadi bisa nilai, kalo kamu adalah tipikal orang yang gak bisa hargain orang lain. Lagi pula, kalo orang yang pinter pasti bisa nyimak cerita dari awal, aku gak mungkin nyelipin cerita out off the book (Keluar jalur) kecuali emang lagi promosi karya.
Jadi, buat kalian, dimohon dengan sangat kerja samanya. Aku dan para author, udah berusaha nyajiin karya yang semenarik mungkin. Tapi, kalo emang kurang berkenan, jarinya tetap dijaga ya ... supaya kita sama-sama enak, kalo mood author enak, updatenya juga lancar.
Thank you semua✨
Salam anu👑