GUIREN

GUIREN
(END) season 1



Yelu... Yelu... kau bisa mendengarku ?


Terdengar suara seorang wanita dengan nada yang sangat lembut memanggilnya.


Yelu membuka matanya secara perlahan.


Ia merasakan pening di kepala dan juga sakit di kedua kakinya.


Perlahan penglihatannya semakin jelas, dan ia dapat mengetahui siapa yang memanggilnya.


"Yelu... ? kau bisa mendengarku ? jawab aku... aku sangat khawatir"


"Putri Liqin ?"


Liqin yang sedari tadi duduk disamping Yelu akhirnya bernafas lega, ia menggenggam tangan kiri Yelu.


"Haaah... syukurlah... kau membuatku takut"


Yelu menoleh ke kanan dan ke kiri, ia mengawasi sekitar.


"Di... dimana ini putri ?" tanya nya sambil berusaha untuk duduk.


"Dinasti Ming... kau pingsan cukup lama... ayah membawamu kemari dan membiarkan tabib mengobati lukamu, aku sangat khawatir karna kakimu terlihat bengkak dan berdarah... apa kau menginjak sesuatu yang tajam ? apa kau terjatuh dari ketinggian ?...."


Yelu tersenyum memandangi Liqin yang terus mengoceh di sampingnya.


"Bagaimana ayah bisa bertemu denganmu ? tapi syukurlah kau sekarang baik baik saja" sahut Liqin.


Yelu tak menjawabnya, ia hanya tersenyum lalu memeluk Liqin erat erat.


Liqin terdiam, ia kebingungan karna takut Yelu akan merasakan debaran jantungnya yang begitu cepat.


"Umm... Yelu ? apa kau butuh sesuatu ?"


"Putri Liqin.... saya... hanya takut tidak bisa bertemu lagi dengan putri Liqin"


Liqin tersenyum "Terimakasih Yelu... sudah mengejarku dan tidak menyerah begitu saja"


"Ehem"


Yelu dan Liqin terkejut, dengan cepat mereka melepas pekukannya ketika Qing Shan tengah berdiri di pintu sambil memandangi Yelu dan Liqin.


"Yang Mulia Raja" sapa Yelu.


"Liqin... biarkan ayah berbicara berdua dengan Yelu sebentar"


"Baik ayah"


Liqin pergi keluar meninggalkan Qing Shan dan Yelu.


Qing Shan duduk di salah satu kursi yang ada di dalam ruangan itu.


"Bagaimana kondisimu ? apa kau merasa baikan?"


Yelu tersenyum " Saya sudah merasa baikan, terima kasih Yang Mulia Raja sudah menolong saya"


Qing Shan tersenyum dengan tampan " Aku sudah menduga kau pasti mengejar kuda ku lewat hutan"


"Yang Mulia Raja..siapa yang pertama kali menemukan saya? seingat saya.. saya melihat putri Liqin dikejauhan, setelah itu saya tidak sadarkan diri"


"Sebelum melanjutkan perjalanan, aku memeriksa sisi hutan tempat dimana aku menemukanmu"


"Terimakasih atas kebaikan Yang Mulia Raja"


"Sebenarnya aku ragu melepas Liqin begitu saja... karna bagaimanapun juga, Liqin putri ku yang sangat aku sayangi... tapi aku merasa sedikit lega kalau melepas Liqin agar dia bahagia bersama denganmu"


Yelu terdiam, ia berusaha mencerna perkataan Qing Shan yang mengejutkan bagi nya.


"Kenapa diam saja?"


"Ti.. tidak... saya.. saya hanya merasa sangat senang karna Yang Mulia Raja menyetujui hubungan saya dengan putri Liqin"


Qing Shan menaikkan sebelah alisnya.


"Hah ? hubungan ? hubungan apa ? apa kau berencana untuk membawa Liqin bersamamu begitu saja dan tidak menikahinya ?"


"Bu... bukan begitu Yang Mulia Raja.. maksud saya menikah.. sa.."


"Ya.. .ya... aku hanya bercanda... kalau begitu aku akan menyiapkan hari pernikahan kalian nanti"


"Terimakasih banyak Yang Mulia Raja"


Qing Shan bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju pintu.


B R A K K K...


Qing Shan dan Yelu sama sama terkejut ketika melihat Liqin terjatu tepat dihadapan Qing Shan.


"A.... Aduh..." sahut Liqin sambil tetap menunduk,ia sangat takut memandang wajah Qing Shan.


"Liqin... apa kau menguping ?" tanya Qing Shan.


"A.. aku hanya memastikan ayah tidak akan mengancam Yelu... itu saja"


Qing Shan membantu Liqin berdiri, lalu mengusap poni Liqin.


"Hmm... sudah ayah bilang berapa kali... seorang putri tidak boleh menguping pembicaraan orang lain... itu tidak sopan"


"Maafkan aku ayah"


"Sekarang temani kakakmu"


"Baik"


Liqin berjalan dengan malas menghampiri Li Liang yang sedang menyapu membersihkan halaman depan istana utama.


Li Liang tertawa dengan gembira melihat Liqin datang menghampirinya.


"Hahaha... apa kau juga dihukum ?"


"Sudahlah... lebih baik kakak diam saja"


"Baiklah.. kakak diam, tolong bantu kakak ya" ledeknya.


Setelah dua hari dirawat di istana dinasti Ming, akhirnya Yelu boleh kembali ke desanya.


Upacara pernikahannya dengan Liqin akan dilaksanakan beberapa hari lagi.


Pernikahan mereka dilaksanakan di desa suku manchu atas keinginan Liqin sendiri, Qing Shan hanya bisa menyetujuinya karna Liqin selalu merengek dan memelas kepadanya agar permintaannya terpenuhi.


Zhi Ruo, Changyi dan Liqin keluar istana untuk membeli gaun pernikahan, tentunya dengan beberapa pengawal bersama mereka.


Mereka berhenti di salah satu toko milik bibi Lin.


Bibi Lin dulunya adalah tetangga Zhi Ruo saat ia masih menjadi Yue Ying, anak angkat dari keluarga Fang, bibi Lin lah yang selalu memberinya makanan ataupun roti saat ia kelaparan karna hanya diberi makanan yang sedikit dan tidak layak.


Bibi Lin berlutut menyambut kedatangan Zhi Ruo.


"Yang Mulia Ratu... saya merasa terhormat atas kunjungan Yang Mulia di toko saya" sahut bibi Lin.


Zhi Ruo membantu bibi Lin berdiri.


"Bibi... tidak perlu berlutut dihadapanku... bagaimanapun bibi selalu membantuku saat aku kelaparan... aku sangat berterimakasih padamu bi.. panggil saja aku Zhi Ruo"


Bibi Lin tersenyum hangat memperlihatkan kerutan di wajahnya yang semakin terlihat jelas.


"Zhi Ruo... bibi sangat bersyukur dan ikut senang akhirnya kau bahagia sekarang..." sahutnya.


"Terimakasih bibi Lin.. umm aku membutuhkan bantuan bibi".


"Bantuan apa ? tentu saja bibi akan membantumu"


"Putriku Liqin beberapa hari lagi akan menikah... bisakah bibi berikan aku pakaian paling indah dan cocok untuknya?"


Bibi Lin menyentuh kedua pipi Liqin.


"Lihatlah putri yang sudah besar ini... begitu mirip ibunya saat masih muda"


"Apa ibuku sangat cantik saat masih muda ?".


"Ya.. tentu saja... ibumu wanita paling cantik di kota Anhui.. andai saja anak bibi masih hidup... mungkin seumuran dengan ibumu... kalau begitu, tunggu sebentar ya, bibi akan ambilkan pakaian pernikahan yang paling cocok untukmu"


"Terimakasih bibi"


Bibi Lin menggeledah seluruh toko pakaiannya, setelah sedikit lama mencari, akhirnya bibi Lin menemukan pakaian yang dicarinya.


"Bagaimana dengan ini ?"


Bibi Lin menunjukkan sebuah hanfu berwarna merah ditutupi jubah berwarna putih dengan tekstur kain tipis, dibagian pinggangnya berupa kain merah yang terikat dan menjuntai kebelakang.


"A.. aku menyukainya..." sahut Liqin


"Kau yakin ? apa kau tidak mau yang lebih mewah ?" tanya Zhi Ruo


Liqin menggeleng "Tidak... aku menyukai hanfu ini... tinggal tambahkan hiasan yang cantik pada rambutku dan semua akan terlihat sempurna" sahutnya


"Baiklah..kalau itu maumu..bagaimana dengan Yelu ?"


"Yelu juga memakai warna yang sama"


"Bibi Lin.. biar kubeli hanfu itu"


Zhi Ruo memberikan sekantong emas pada bibi Lin.


"Zhi Ruo... tidak perlu, anggap saja ini hadiah dariku"


"Bibi... terima saja.. anggap saja aku membalas semua kebaikan bibi"


"Tapi.. ini terlalu..."


"Sshh... aku harus kembali sekarang"


Beberapa hari kemudian, akhirnya upacara pernikahan Liqin dan Yelu selesai.


Qing Shan dan Zhi Ruo sedang bercengkrama bersama De Wu dan yang lainnya.


"Umm.. Yelu, aku sangat lelah, aku akan beristirahat sebentar..dimana aku bisa beristirahat ?"


"Biar saya antar"


Yelu membawa Liqin ke kamarnya.


"Silahkan masuk.. mm maaf kamarnya tidak sebagus kamar putri Liqin di istana"


"Tidak apa apa..."


Pertama kali baginya masuk kedalam kamar pria selain kakaknya.


Kamar Yelu sangatlah sederhana, tidak seperti kamarnya yang dipenuhi dengan hiasan dimana mana.


"Yelu... aku akan beristirahat sekarang"


"Ya... silahkan saja putri Liqin... jangan sungkan''


"Aku tidak sungkan... kubilang aku akan beristirahat sekarang"


Yelu membuka lemarinya "Silahkan saja putri Liqin"


Liqin menarik pelan lengan Yelu.


"YEELUUU.. kubilang aku mau istirahat sekarang!!"


Yelu kebingungan.


"Saya bilang silahkan putri Liqin..."


"Lalu kenapa kau masih disini ?"


"Saya juga mau beristirahat"


"A.. apa?"


Yelu melepas jubahnya dihadapan Liqin dan hanya mengenakan hanfu biasa.


Yelu terdiam sesaat,lalu ia membelai rambut Liqin.


"Putri Liqin... bukankah kita sudah menikah ? wajar saja kalau kita berada dalam satu kamar"


Wajah Liqin memerah "Ta.. tapi.."


"Dan juga... kenapa kita masih saja terlihat kaku... bisakah aku memanggilmu sayang ?"


"Haa... ti.. tidak itu memalukan..."


"Liqin saja ?... Liqin.. bukankah setelah menikah kita akan melakukan sesuatu?"


"A.. apa ? apa maksudmu ?"


Yelu mendorong Liqin pelan hingga bersandar di lemari kayu nya. Ia menyentuh pipi Liqin dan mendaratkan ciuman disana.


Liqin mendorong Yelu agar menjauh darinya.


"Cu.. cukup.. baiklah.. aku mengerti maksudmu... tapi aku punya persyaratan"


"Hmm ? apa itu ?"


Liqin memasang tampang imut dan memelasnya bersamaan.


"Bi.. bisakah kita melakukannya nanti malam saja?.. a.. aku masih belum siap"


Yelu tertawa terbahak bahak.


"Hahahaha... putri Liqin sangat menggemaskan.. maaf.. saya hanya menggoda saja"


Liqin melepas hiasan di kepalanya lalu berbaring di tempat tidur milik Yelu.


"Aku membencimu.. jangan ganggu aku"


Yelu berbaring di samping Liqin, ia memeluk Liqin dari belakang.


"Maafkan saya putri Liqin"


Liqin menoleh.


"Baiklah.. aku memaafkanmu asal kau membiarkanku istirahat sebentar di kamarmu sendirian saja"


"Apa ?!!"


Liqin memasang wajah cemberut.


"Baiklah"


Yelu segera keluar dari kamarnya sambil menghela nafas panjang.


"Hei"


"Kau mengagetkanku Zuyu"


Zuyu tertawa "Kenapa begitu cepat ?"


"Maksudmu ?"


"Umm.. itu... yang biasa dilakukan setelah menikah"


Yelu menarik hidung Zuyu "Jadi.. kau hendak mengintip ?"


"Ti.. tidak... aku hanya bertanya"


"Sudahlah.. ayo temani aku bertemu Yang Mulia Raja dan Yang Mulia Ratu"


Malam harinya,


Qing Shan dan yang lainnya bersiap untuk pulang kembali ke istananya.


Zuyu telah berbicara pada Qing Shan tentang tekadnya untuk menjadi prajurit dinasti Ming, sementara Qing Shan masih mempertimbangkannya.


Setelah semua persiapan selesai, Qing Shan pun berangkat.


Yelu hanya memperhatikan Liqin dari kejauhan.Ia sadar Liqin mencoba menghindarinya dengan membuat kesibukan.


Liqin selesai membantu anak anak suku manchu membuat mainan dari ranting pohon, iapun segera kembali karna sudah larut malam.


Liqin berjalan pelan menuju kamar Yelu, ia menduga Yelu pasti sudah tertidur disana.


Liqin membuka pintu kamar dengan pelan, sesuai dugaannya, Yelu telah tertidur di tempat tidurnya.


Liqin melepas hanfunya yang kotor, sesekali ia menoleh memastikan Yelu masih tertidur.


Setelah cukup aman, Liqin melepas seluruh pakaiannya dan mengambil hanfu putihnya yang biasa ia gunakan untuk tidur.


Liqin memakai hanfunya dengan perlahan agar tidak menimbulkan suara dan membangunkan Yelu.


Setelah selesai, Liqin duduk di kursi meja rias yang sudah Yelu persiapkan untuknya.


Liqin melepas kepangan rambutnya dan menyisirnya dengan pelan.


Setelah selesai, ia berbaring di samping Yelu, ia melakukannya dengan sangat pelan dan hati hati.


"Apa putri Liqin tidak merasa lelah setelah menghindari saya sejak tadi sore?"


Liqin terdiam, badannya kaku seketika.


Yelu memeluk Liqin dari belakang, diciumnya punggung Liqin dengan lembut.


"Ye.. Yelu.. apa aku membangunkanmu ?"


"Saya tidak tidur"


"Ja.. jadi ?..apa kau melihatnya ?"


"Melihat apa ?"


Melihatku... mengganti pakaianku ?"


"Mmm... maaf... sebenarnya saya tidak berencana mengintip, tapi saya tidak tahan untuk melihatnya... bagaimanapun juga.. saya seorang laki laki"


Wajah Liqin memerah "Um..bisakah kau berpura pura untuk tidak pernah melihatnya?"


Yelu tersenyum, ia tak menjawab perkataan Liqin.


Liqin terdiam kaku ketika merasakan tangan Yelu mengusap usap perutnya.


"Ye... Yelu.. apa kau tidak mau tidur ?"


"Umm.. setelah ini ?"


"Setelah ini ?"


Yelu bangkit dari tidurnya, ia memandang wajah Liqin yang terlihat sangat gugup.


Yelu menahan tawanya melihat ekspresi Liqin saat ini, sebenarnya ia merasa kasihan, namun ia tidak sabar untuk menjadikan Liqin miliknya seutuhnya.


Yelu melepas hanfu putih Liqin dengan lembut, ia melakukannya selembut mungkin agar Liqin tidak gugup dan percaya padanya.


Yelu terdiam sesaat, ia memandang tubuh Liqin yang tanpa sehelai benang pun.


Liqin menutup matanya rapat rapat.


"Liqin... tatap mataku"


Liqin menatap mata Yelu.


"Percayalah padaku...aku tidak akan menyakitimu"


Liqin menatap mata Yelu dan senyumannya yang sangat lembut.


Liqin memberanikan diri, ia melepas hanfu milik Yelu, pandangannya teralihkan pada bekas luka di dada Yelu.


"Apa ini ?"


"Ini simbol untuk ketua suku Manchu"


"Apa terasa sakit ?"


"Mm.. ya... sedikit"


Liqin menyentuh bekas luka itu yang berbentuk matahari.


"Mm.. Maaf.."


"Untuk apa ?"


"Karna menghindarimu"


Yelu membelai pipi Liqin "Tidak masalah... saya mengerti perasaan putri Liqin"


Liqin mengalihkan pandangannya.


"Umm... panggil saja Liqin"


Yelu mencium bibir mungil Liqin dengan lembut, lalu menciumi leher dan dada putih nya.


Liqin sedikit takut karna ini pertama kali baginya, ia mencengkeram lengan Yelu sambil menutup matanya.


"Liqin... ini juga pertama kalinya bagiku... aku ingin kau membuka matamu dan lihat aku.. rasakan sentuhanku.. aku akan melakukannya dengan sangat lembut... dan aku ingin kau mengingatnya"


Liqin membuka matanya, ia memandang wajah Yelu yang terlihat sangat tampan dengan senyuman lembut khasnya.


Badannya berotot dan bekas lukanya membuatnya terlihat menggoda.


Yelu mencium bibir Liqin, memainkan lidahnya didalam bibir Liqin.


Liqin hendak menjerit namun Yelu menahannya dengan ciumannya.


Setelah Liqin mulai tenang, ia melepas ciumannya.


"Apa sakit ? aku tidak akan memaksamu kalau kau merasa tidak nyaman"


Liqin menggeleng pelan "Umm.. hanya sakit sedikit... aku tidak apa apa"


Yelu tersenyum mendengarnya, lalu kembali mencium bibir Liqin.


Liqin membuka matanya dengan perlahan, ia mendengar suara ramai diluar, yang artinya hari sudah siang.


Liqin menoleh, ia memandang wajah Yelu masih tidur dengan lelapnya.


Pandangannya tertuju pada telinga Yelu yang masih mengenakan anting anting pemberiannya.


Liqin tersenyum, semalam Yelu menepati janjinya untuk melakukannya dengan lembut.


Liqin kembali berbaring menghadap Yelu.


Yelu membuka matanya.


"Mm.."


"Maaf.. aku membangunkanmu" sahut Liqin.


Yelu tersenyum dengan mata yang masih mengantuk.


"Ayo kembali tidur"


"Tapi ini sudah siang"


"Biarkan saja... siapa yang mau melarang ? aku ketuanya disini"


Liqin tertawa kecil.


"Haha.. kau mulai terdengar seperti ayahku saja"


Yelu tersenyum, ia memeluk Liqin dan melanjutkan tidurnya.


GUIREN season 1 selesai_