
Hari sudah sore, Jia Li tak kunjung sadar juga.
Zhi Ruo terus menemani Jia Li, ia bahkan membersihkan badan Jia Li menggunakan air hangat sambil mengepang rambut Jia Li.
Zhi Ruo tidak memperdulikan dirinya sendiri yang belum makan sedari pagi, para pelayan lain sudah membujuknya namun ia bersikeras tidak mau makan sebelum Jia Li sadar.
Tabib istana keluar dari istana untuk mencari penawar racun itu.
A Hua dan Peiyun mengintip kamar Zhi Ruo.
"Tidak ada siapa siapa" sahut Peiyun
"Apa mungkin wanita jalang itu sudah meminum tehnya?"
"Mungkin saja kak, sebaiknya kita kembali sebelum ada orang lain yang melihat"
Tabib istana kembali membawa roti untuk Zhi Ruo yang masih duduk disebelah Jia Li.
"Selir Zhi Ruo, sebaiknya makanlah dulu roti ini, saya membeli beberapa tanaman obat, semoga saja setelah ini Jia Li bisa sembuh"
"Benarkah?"
Tabib istana mengangguk "Selir Zhi Ruo makanlah dulu dan kembali kekamar, biarkan saya yang merawat Jia Li"
Zhi Ruo tersenyum kecil "Terimakasih tabib...tapi biarkan saya menemani Jia Li disini"
Qing Shan dan pasukannya telah berada di kota Nanjing, mereka beristirahat disana.Setelah melewati kota Nanjing mereka akan sampai di kotanya, kota Anhui.
Ma Chou menghampiri Qing Shan yang sedari tadi hanya berdiri memegang araknya.
"Yang Mulia Raja... apa ada yang Yang Mulia Raja pikirkan?"
"Firasatku semakin tidak enak...aku akan pergi terlebih dulu, kau temani yang lain"
"Yang Mulia Raja, biarkan saya menemani Yang Mulia Raja".
"Tidak perlu... kalian baru saja beristirahat.. lagipula Anhui sudah dekat"
Qing Shan memacu kudanya, kuda putihnya yang terlatih melaju dengan sangat cepat memperlihatkan ketangkasannya.
Entah mengapa kekhawatirannya tak kunjung hilang.
Qing Shan terus memacu kudanya tanpa beristirahat, sampai malam tiba akhirnya ia telah memasuki kota Anhui.Rakyatnya berlutut menyambut Rajanya yang dengan gagah menunggangi kuda putihnya. Qing Shan memperlambat lajunya agar tidak ada orang orang yang tertabrak karna suasana kota Anhui memang sangat ramai.
Qing Shan bernafas lega ketika istananya mulai terlihat didepan mata.
Mentri Ping memanggil A Hua kekamarnya, sesuai kesepakatan, A Hua harus siap melayaninya maka mentri Ping akan bekerja sama dengannya. Mentri Ping melepas hanfu A Hua dengan terburu buru, ia sudah tidak tahan dengan nafsunya yang menggebu gebu. Nafasnya tak beraturan melihat wanita cantik dengan tubuh indah berada tepat dihadapannya.
Diciuminya leher A Hua yang sangat wangi lalu turun ke dadanya yang putih. Demi tercapainya keinginannya, A Hua hanya berpura pura menikmati setiap sentuhan dari mentri Ping.
Suara pintu gerbang terbuka, terdengar para penjaga meneriakkan nama Yang Mulia Raja yang berarti Qing Shan telah kembali.
A Hua segera mendorong mentri Ping dan memakai kembali hanfunya.
Qing Shan turun dari kudanya dan berlari menuju kamar Zhi Ruo.
Tidak ada siapa siapa disana, Qing Shan menghampiri pelayan yang lewat dibelakangnya.
"Dimana Zhi Ruo"
"Yang Mulia Raja, selir Zhi Ruo berada di ruang pengobatan..."
Belum sempat pelayan menyelesaikan kata katanya, Qing Shan berlari meninggalkannya menuju ruang pengobatan.
Qing Shan membuka pintu ruang pengobatan dan melihat Jia Li terbaring di ranjang perawatan, sedangkan Zhi Ruo tertidur di kursi sambil bersandar di tembok.
Qing Shan mendekati Zhi Ruo yang terlihat sangat berantakan, rambut acak acakan dan kaki yang tanpa memakai alas apapun.
Qing Shan menggendong Zhi Ruo dan membawanya kekamar pribadinya. Zhi Ruo masih saja tidak terbangun, Qing Shan menyentuh dahi Zhi Ruo yang terasa panas.
Qing Shan segera menemui tabib dan meminta obat untuk Zhi Ruo.