GUIREN

GUIREN
Hanfu merah



(Hari keempat)


Pagi harinya Qing Shan Ma Chou dan para bawahannya tengah menikmati sarapan mereka sebelum kembali ke kerajaan Ming. Li Zicheng menghampiri Qing Shan yang sedang menghabiskan secangkir teh herbal favoritnya.


Li Zicheng mengambil kantong hitam di sakunya dan memberikannya pada Qing Shan.


"Ini... untuk wanita yang kau sukai"


Qing Shan membuka kantong hitam itu, ia tersenyum melihat sebuah gelang kaki yang terbuat dari emas dengan hiasan berbentuk bunga.


"Ini bukankah gelang kaki milik permaisuri mu?"


"Ya... dulu aku memberikannya saat dia masih menjadi selirku... sekarang dia adalah ratuku, aku memberikan gelang itu padamu sebagai jimat agar wanitamu itu juga yang akan menjadi ratumu nanti"


"Terimakasih Li Zicheng"


Qing Shan dan yang lainnya telah keluar dari istana Shun, Ma Chao memimpin didepan dengan kuda hitamnya sedangkan Qing Shan menaiki kuda putih favoritnya.


Kelima jendral dan prajurit yang berjumlah 15 orang mengekor dibelakang dengan kuda coklatnya. Qing Shan mempercepat lajunya agar segera sampai ke istananya, setelah memasuki kota Xi'an, Qing Shan berhenti seketika lalu turun untuk membeli hanfu merah yang menarik perhatiannya.


Ma Chao tersenyum kecil disebelah Yang Mulia Rajanya.


"Kenapa tertawa?" tanya Qing Shan


"Maaf Yang Mulia Raja... hanya saja ini pertama kalinya saya melihat Yang Mulia Raja membeli hanfu yang sangat menggoda itu"


Qing Shan menyembunyikan wajah malunya, ia memang sengaja membelinya agar setelah sampai di istana nanti Zhi Ruo memakai hanfu seksi pemberian darinya dan menghabiskan malam dengannya.


Qing Shan menaiki kudanya sambil memandangi kantong berisi hanfu merah untuk Zhi Ruo.


'Apa ini terlalu berlebihan?... sepertinya aku terlalu mesum' batin Qing Shan dengan wajah memerah sambil membayangkan Zhi Ruo memakai hanfu pemberiannya.


Siang harinya mereka telah melewati sungai Huai, mereka tetap melanjutkan perjalanannya tanpa beristirahat disana.


Dinasti Ming


A Hua merias wajahnya secantik mungkin, hari ini ia berencana untuk bertemu dengan mentri Ping. Mentri Ping merupakan mentri militer,bertugas mengawasi setiap jendral dan prajurit istana dan ia berumur 46 tahun.


A Hua tersenyum dan langsung masuk kedalam. A Hua duduk di sofa sambil menyilangkan kakinya, memperlihatkan paha mulusnya.


"Selir A Hua... ada yang bisa saya bantu?" tanya mentri Ping yang sedari tadi pandangannya tak luput dari paha menggoda A Hua.


"Duduklah bersamaku mentri Ping"


Mentri Ping menelan ludahnya ketika A Hua semakin mmperlihatkan kedua pahanya, ia duduk disebelah A Hua dengan wajah berkeringat.


"Mentri Ping... aku butuh bantuan"


"Bantuan apa yang diinginkan selir A Hua?"


"Aku ingin jalan jalan keluar istana, hanya 1 jam saja.. para selir dilarang keluar istana, padahal aku ingin sekali keluar..."


"Mmm.. Yang Mulia Raja tidak akan mengizinkan"


A Hua duduk dipangkuan mentri Ping sambil memainkan jenggot yang berwarna putih itu.


"Kalau ditemani mentri Ping mungkin para penjaga akan mengizinkan.. lagipula hanya sebentar, sebagai gantinya..."


A Hua meraih tangan mentri Ping dan meletakkannya di dadanya.


Mentri Ping yang tidak mempunyai istri tidak dapat menahan nafsunya, apalagi seorang wanita cantik duduk diatas tubuhnya.


A Hua tersenyum kecil ketika merasakan milik Mentri Ping mengeras.


A Hua berdiri


"Baiklah.. kalau mentri Ping tidak mau lebih baik aku pergi saja"


Mentri Ping segera menarik tangan A Hua, mendorongnya di sofa dan melepas hanfu putih milik A Hua.


A Hua hanya tersenyum senang karna rencananya berhasil, setelah ini ia tinggal melanjutkan rencana keduanya.