
Cuaca siang hari ini tidak sepanas biasanya,yang menandakan tak lama lagi musim gugur akan tiba. Liqin meminta pelayannya menyiapkan air untuk ia berendam.
"Apa Yang mulia Raja dan Yang Mulia Ratu ada di kamarnya ?" tanya Liqin pada pelayannya.
"Yang Mulia Raja dan Yang Mulia Ratu pergi menuju makam kakek Yong tuan putri.."
"Haah... bisa bisanya mereka tidak mengajakku" gumam Liqin.
"Tuan putri, air sudah saya siapkan"
"Baik, terimakasih... aku akan mandi sendiri "
"Baik tuan putri"
Liqin melepas seluruh pakaiannya lalu berendam di bak yang dipenuhi air dingin yang terasa segar di kulitnya. Liqin memejamkan matanya, ia masih memikirkan perasaan Yingjie yang terluka karnanya.
"Maafkan aku Yingjie"
Yingjie bertanya kepada salah satu pelayan dimana Li Liang berada.
"Pangeran Li Liang sedang berada di istana utama bersama Changyi"
"Baiklah, terimakasih"
Para pelayan wanita terkagum kagum dengan ketampanan Yingjie, Yingjie berjalan dengan santainya mengabaikan tatapan tatapan yang tertuju padanya.
Sampai di depan istana utama, Yingjie terdiam sejenak ketika melihat tidak ada satu orang penjaga pun diluar, Yingjie melanjutkan langkahnya pelan.
K r e k k k....
Yingjie membuka pintu istana utama yang besar dan kokoh.
"Li Liang..." panggilnya.
Ruangan besar dan luas itu sangat sepi, hanya berisikan singgasana mewah milik Qing Shan dan beberapa barang lainnya.
Yingjie merasakan kejanggalan, sialnya ia lupa meninggalkan pedangnya di kereta kudanya.
"Li Liang.... Changyi..."
Yingjie menunduk, ia melihat setetes darah di lantai.
B U G G..
Seseorang memukul punggungnya dengan keras, membuatnya jatuh tersungkur.
Belum sempat ia menoleh, sebuah pedang belati tertancap di perutnya.
Yingjie terdiam, ia merasakan darah segar mengalir mengotori hanfunya.
Yingjie jatuh tengkurap, ia merasakan pening di kepalanya, pandangannya pun mulai buram.
'Sial.... belati ini beracun' pikirnya.
".....Uhukk..." cairan berwarna merah keluar dari mulutnya
Dengan sisa kesadarannya, ia menoleh.
"......Y....YELU....!!!"
Gelap seketika, Yingjie pun tak sadarkan diri.
Liqin merasakan firasat aneh, ia segera keluar dari bak mandi lalu memakai hanfu putih yang telah disediakan oleh pelayan sebelumnya.
Tok Tok Tok
Liqin segera membuka pintu.
"Kakak? dimana Yingjie?"
"Yingjie ? apa dia kemari ?"
"Yingjie bilang mau menemui kakak"
"Aku tidak melihatnya"
"Ayo cari kak, firasatku tidak enak"
"Baiklah, rapikan dulu pakaianmu"
Liqin Yingjie bertanya pada setiap pelayan yang ia lewati.
"Apa kalian melihat pangeran Yingjie?" tanya Li Liang pada 3 orang pelayan yang sedang membersihkan jendela kamar Qing Shan.
"Saya melihat pangeran Yingjie berjalan menuju istana utama, pangeran"
"Terimakasih"
"Kak... firasatku semakin tidak enak, aku takut"
Li Liang menggenggam tangan Liqin.
"Ayo kita kesana sekarang"
Liqin mengangguk.
Mereka berdua berlari menuju istana utama.
"Tidak ada satupun penjaga disini" sahut Liqin.
Li Liang membuka pintu istana utama.
"YINGJIE...." teriak Liqin.
Liqin dan Li Liang berlari menghampiri Yingjie yang sudah tak sadarkan diri.
Li Liang memeriksa nadi Yingjie, beruntungnya, Yingjie masih hidup namun dalam kondisi lemah dan mengkhawatirkan.
Liqin segera mendudukkan Yingjie,sementara Li Liang langsung menggendong Yingjie di punggungnya dan membawanya ke tabib istana.
Liqin masih diam di tempat Yingjie tak sadarkan diri, ia mencari cari petunjuk disana.
Liqin tidak menemukan apapun selain darah milik Yingjie di lantai.
Tiba tiba saja ia memikirkan Yelu, dadanya terasa sesak tiba tiba.
Liqin berlari mencari keberadaan Yelu.
Tak lama kemudian, setelah mengelilingi seluruh tempat di dalam istana.
Sudah lelah ia berlari, air mata mengalir dengan sendirinya. Liqin masih tidak dapat menemukan keberadaan Yelu, hatinya terasa sakit.
Apakah Yelu pelakunya? Kenapa disaat terjadi sesuatu seperti ini, Yelu selalu saja menghilang entah kemana.
Liqin merasa sangat bersalah kepada Yingjie, dan iapun menyesal telah mempercayai Yelu begitu saja.
"Maaf... maaf.... semuanya salahku.." isak Liqin.
Dengan langkah gontai, Liqin berjalan kembali menuju ruang perawatan untuk menemani Yingjie yang sedang dalam penanganan tabib istana.