GUIREN

GUIREN
Berlatih



Li Liang mengayunkan pedangnya dengan cepat seperti yang Qing Shan pernah ajarkan padanya.


Tok Tok...


Changyi masuk kedalam ruang berlatih, ia berjalan mendekati Li Liang.


"Pangeran, Yang Mulia Raja memerintahkan saya untuk menemani pangeran berlatih"


Li Liang memasang wajah kesal "Apa ?!! bukankah ayahku sudah berjanji akan menemaniku berlatih ?"


"Yang Mulia Raja berkata beliau masih ada pekerjaan mendadak"


"Haaaahh.... baiklah... kau temani aku saja"


"Baik Pangeran".


Sementara itu, Liqin duduk di bangku taman ditemani Yelu dan juga satu pelayannya yang memegang sepiring buah yang telah dikupas.


"Aku sudah kenyang,kau boleh pergi"sahut Liqin.


"Baik tuan putri"sahut pelayan,pelayan itu pun segera kembali ke dapur.


Liqin menghela nafas panjang sambil memandang langit biru yang begitu cerah.


Liqin menoleh kearah Yelu yang hanya berdiam diri di sampingnya.


"Ummm.... Yelu"


"Ya putri Liqin ?"


"Apaa.....kau pernah menyukai seseorang ?"


Yelu terdiam sesaat sembari menatap langit yang biru, Liqin memandang wajah Yelu.


"Saya.... menyukai seorang wanita yang sangat cantik, wanita itu terlalu cantik sampai sampai saya tidak akan mempunyai kesempatan untuk menyatakan perasaan saya"


"Kenapa? apa alasannya?"


Yelu menatap mata Liqin dengan tatapan lembut sambil sedikit tersenyum.


"Karna... saya bukan apa apa dibandingkan dengan wanita itu, dan juga... wanita itu memiliki seorang lelaki yang mencintainya"


"Kenapa tidak mencobanya?"


Yelu terdiam mendengarnya,Liqin melanjutkan kata katanya.


"Siapa tau saja kalau kau menyatakan perasaanmu, wanita itu ternyata juga menyukaimu"


"Saya belum siap, saya takut kalau saya mengatakannya...wanita itu akan membenci saya dan tidak mau melihat saya lagi"


Liqin menggenggam tangan kanan Yelu.


"Kita tidak akan tau sebelum mencobanya"


'Haruskah ia menyatakannya sekarang?Akankah Liqin menerimanya dengan tulus setelah mengetahui rahasianya?' Semua kata kata ini yang terus berputar di kepala Yelu.


Liqin melepas genggaman tangannya.


"Aku mau melihat kakak berlatih"


"Saya antarkan putri"


Liqin berjalan menuju ruang berlatih diikuti Yelu dibelakangnya.


Sampai di ruang berlatih, Liqin duduk di salah satu kursi sementara Yelu hanya berdiri di sampingnya.


Li Liang menaruh pedangnya lalu menghampiri Liqin.


"Mengapa kemari ?"tanya Li Liang pada Liqin.


"Aku hanya ingin melihat kakak berlatih, apa kakak keberatan ?"


Li Liang mencubit pelan pipi adiknya yang memasang wajah cemberut itu.


"Aku sama sekali tidak keberatan".


Li Liang memandang Yelu yang tersenyum hormat padanya.


"Mm...bagaimana kalau kau temani aku berlatih.. Changyi pasti sudah kelelahan"


Yelu tersenyum lembut "Baik pangeran... saya akan menemani pangeran berlatih pedang"


"Baguslah, ayo ikut aku"


"Baik pangeran"


Yelu mengambil pedang yang diberikan Li Liang, ia memasang kuda kuda dan mempersiapkan dirinya.


Liqin takjub dengan kemampuan berpedang Yelu yang dapat menyamai kemampuan berpedang milik kakaknya, gerakan mereka sama sama cepat.


Setelah cukup lama berlatih, Li Liang menaruh pedangnya, begitu pula Yelu.


"Terimakasih sudah menemaniku berlatih, kemampuanmu dalam berpedang sangatlah bagus, lain kali aku ingin mengajakmu lagi berlatih bersamaku"


"Terimakasih atas pujiannya,pangeran. Saya dengan senang hati akan menemani pangeran berlatih"


"Baiklah"


Liqin menghampiri Yelu.


"Apa kau lelah?aku bisa meminta pelayan membawakan minuman untukmu"


"Tidak perlu putri... saya bisa mengambilnya sendiri, sebaiknya putri beristirahat, saya akan mengantar putri ke kamar"


"Hmm.. baiklah