GUIREN

GUIREN
Para Selir



Keesokan harinya A Hua dan para selir lain duduk di taman, mereka sengaja duduk disana agar bertemu dengan Zhi Ruo. Mereka menunggu sekitar satu jam dan akhirnya melihat Zhi Ruo dari kejauhan berjalan kearah mereka.


"Nona"sahut Jia Li


"Mereka hanya mau membuat masalah, abaikan saja mereka"


Para selir berdiri menghadang Zhi Ruo yang bersama pelayannya.


"Sombong sekali" sahut Peiyun


"Wanita murahan memang tidak tau sopan santun, sekali diberi gelar dia sudah sangat sombong"


Zhi Ruo menatap tajam mereka.


"Berhenti memanggil saya murahan, bisakah para selir berhenti mengganggu saya?"


A Hua tertawa kencang "Hahahaha.... kenapa? bukankah kau wanita murahan dari rumah bordil yang dipungut Yang Mulia Raja?"


Zhi Ruo terkejut mereka mengetahui rahasianya.


"Selir A Hua... tolong berhenti mengganggu nona Zhi Ruo"


"Memang kenyataannya begitu... bahkan dia sudah tidak suci lagi... bagaimana bisa wanita ini bersanding dengan Yang Mulia Raja ?"


Zhi Ruo tak bisa lagi membendung tangisnya, ia menundukkan kepalanya dengan tangan mengepal.


Jia Li menggandeng tangan Zhi Ruo.


"Nona.. ayo kita kembali saja"


Jia Li membawa Zhi Ruo kembali ke kamarnya, terdengar para selir menertawakannya.


Zhi Ruo berbaring di tempat tidur, Jia Li mengambil segelas air dan memberikannya pada Zhi Ruo.


"Nona... abaikan kata kata mereka..nona tidak perlu memikirkannya, Yang Mulia Raja akan melindungi nona"


Zhi Ruo menangis sambil memeluk bantalnya.


"Mereka mengetahuinya.... aku sangat malu Jia Li... bagaimanapun juga perkataan mereka ada benarnya, aku tidak pantas dicintai oleh Yang Mulia Raja"


Jia Li memeluk Zhi Ruo, tak terasa air matanya ikut mengalir karna ia mengerti bagaimana rasa sakit yang dihadapi nona nya itu.


A Hua dan para selir lainnya duduk bersama sambil mentertawakan reaksi Zhi Ruo yang membuat mereka sangat puas.


"Akan lebih bagus kalau kita terus menekan wanita murahan itu dengan cara ini"


Tao mengangguk setuju.


"Ya.. kita harus membuat wanita itu gila, dengab begitu Yang Mulia Raja tidak akan menyukainya lagi"


Para selir lainnya tersenyum senang.


Jia Li kebingungan bagaimana caranya menenangkan Zhi Ruo, sejak tadi Zhi Ruo menolak untuk makan.


Zhi Ruo berinisiatif untuk menghukum dirinya sendiri menggunakan bambu, ia memukul mukulkan bambu itu ke kedua kakinya didepan Zhi Ruo.


"Nona.. kalau nona masih tidak mau makan saya akan menghukum diri saya sendiri..menjaga kesehatan nona adalah tanggung jawab saya"


Zhi Ruo merampas bambu ditangan Jia Li.


"Maafkan aku... aku akan makan, jangan sakiti dirimu... aku tidak mau ada luka kecil dibadanmu"


Jia Li tersenyum senang dan langsung menyuapi Zhi Ruo sepiring bubur.


Setelah makan, Jia Li melepas hanfu Zhi Ruo dan membantunya mandi di air hangat wangi bunga yang telah ia siapkan berharap kesedihan nonanya mengurang.


"Sebaiknya hari ini nona beristirahat dikamar... saya akan terus menemani nona disini"


Zhi Ruo hanya mengangguk pelan sambil memandangi wajah Jia Li yang masih terlihat sangat muda.Seandainya tidak ada Jia Li disisinya, mungkin ia akan mengakhiri hidupnya sekarang.


Jia Li tersenyum, dengan bola mata besarnya yang terlihat sangat polos.


"Ada apa nona memandangi saya?"


"Tidak ada... aku hanya sangat bersyukur ada kau bersamaku... kalau seandainya kau tidak ada disini, mungkin aku sudah mengakhiri hidupku sekarang".


"Nona... sebaiknya nona jangan selalu berputus asa, nona harus menyayangi diri nona sendiri... karna dibalik penderitaan nona, masih banyak orang diluar sana yang jauh lebih menderita dibandingkan nona. Kalau nona menginginkan kematian... banyak juga diluar sana yang menginginkan kehidupan, jangan sia siakan hidup nona"


Zhi Ruo terharu mendengarnya "Terimakasih Jia Li... sepertinya kau lebih dewasa daripada aku".


Jia Li tertawa kecil yang diikuti dengan Zhi Ruo.


'Akhirnya nona tertawa' batin Jia Li merasa senang Zhi Ruo tidak lagi larut dalam kesedihannya.