GUIREN

GUIREN
Dendam



Changyi segera menemui Qing Shan bersama beberapa pasukan, ia sangat terkejut dengan apa yang ia lihat dihadapannya.Setumpuk mayat dengan memakai seragam yang sama, darah berceceran dimana mana.


"Yang Mulia Raja, saya datang membawa beberapa pasukan"


"Suruh mereka membereskan mayat mayat itu, ah.. dan satu lagi..."


Changyi mengikuti arah Qing Shan berjalan, mereka berhenti didepan mayat pria yang tersungkur dengan panah menancap didadanya.


"Kubur mayat pemuda ini dengan layak, dia memakai kalung yang pernah aku berikan kepada selirku" sahut Qing Shan dengan wajah datar.


"Maksud Yang Mulia Raja... pemuda ini adalah anak dari selir A Hua?"


Qing Shan mengangguk lalu pergi begitu saja.


Qing Shan menjelajahi seluruh isi rumah, berharap menemukan salah satu petunjuk siapa yang berani melakukan pembantaian ini.


Qing Shan masuk keruang senjata milik kakek Yong, tidak ada apa apa disana.


Qing Shan terus meneliti senjata senjata yang ada disana, tangannya mengepal ketika mengetahui pembunuh itu mengambil salah satu pedang yang selalu digunakan kakek Yong ketika berlatih dan mengajari murid muridnya.


Pedang itu sangat spesial karna pedang itu ia buat sendiri bersama kakek Yong sewaktu muda.


Qing Shan membanting pintu lalu keluar dari sana, ia berjalan menuju belakang rumah tempat dimana kakek Yong dikuburkan.


Qing Shan duduk berlutut disana, air matanya menetes seketika membasahi pipinya.


"Kakek...aku bersumpah akan mengambil kembali pedang itu, aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri karna telah merusak tempat ini"


Qing Shan kembali ke istana dengan wajah suram, ia masuk kekamarnya dan menghampiri Zhi Ruo yang tidur di ranjangnya dengan pulas.


Qing Shan mencium kening Zhi Ruo lalu membelai rambut panjangnya. Wanita itu masih terlihat cantik walaupun sudah menjadi seorang ibu, bisa dibilang tidak ada yang berubah darinya.


Zhi Ruo terbangun, Qing Shan menghentikan aktivitasnya.


"Maaf aku membangunkanmu"


Zhi Ruo tersenyum "Apa terjadi masalah?"


Qing Shan menatap mata Zhi Ruo "Murid murid kakek Yong tewas terbantai..."


Zhi Ruo segera duduk karna kaget tak percaya "B... bagaimana bisa?"


"Sepertinya pembunuh itu sangat handal, aku tidak bisa meremehkannya... aku akan membunuhnya dengan kedua tanganku"


"Berhati hatilah..."


Sore harinya


Seperti biasa, Qing Shan selalu berlatih pedang bersama Li Liang,sedangkan Liqin hanya menyemangati mereka dari kejauhan.


Li Liang sudah hampir bisa menyamai kecepatan Qing Shan, ia sangat bersemangat namun ada yang aneh dengan ayahnya hari ini.


Wajahnya dingin tak seperti biasanya yang selalu tersenyum ketika berlatih pedang bersamanya.


Li Liang merasa Qing Shan mempercepat gerakannya, ayunan pedangnya semakin lincah membuat Li Liang tak sanggup lagi menyamainya.


Qing Shan mengayunkan pedangnya sementara Li Liang yang kelelahan hanya bisa menangkisnya dan terjatuh kebelakang.


"Ayah !!! berhenti!!!" teriakan Liqin mampu menyadarkan Qing Shan.


Liqin berlari menghampiri kakaknya yang masih terdiam kaku ditempatnya.


Qing Shan menjatuhkan pedangnya lalu memeluk Li Liang.


"Maafkan aku putraku... hampir saja aku melukaimu"


Li Liang menepuk nepuk punggung Qing Shan.


"Tidak apa apa ayah, aku tau ayah masih memikirkan kejadian itu..."


Qing Shan duduk, ia menghela nafas panjang sambil memijat mijat kepalanya yang terasa pening.


"Kemampuan pedang ayah sangatlah luar biasa, pantas saja ayah ditakuti" sahut Li Liang dengan senyuman, mencoba menghibur Qing Shan.


Qing Shan tersenyum mendengarnya.


"Suatu saat kau akan melebihi diriku... karna kau akan menjadi pewarisku suatu saat nanti"


Liqin bersandar di bahu Qing Shan.


"Ayah... bagaimana denganku?"


Qing Shan tertawa kecil melihat putrinya yang sedang merajuk .


"Aku tidak ingin putriku yang cantik ini menyentuh benda tajam, aku tidak mau benda itu menggores kulit cantikmu ini" sahut Qing Shan sambil mencubit pelan hidung Liqin.