
"Kau.....tidak apa apa?"
"eh?"
Liqin mengangguk dengan cepat seketika, wajahnya memerah karna malu.
"Y..y..ya...aku tidak apa apa, terimakasih tuan sudah menolong saya" sahut Liqin dengan sedikit membungkuk.
Pria itu tersenyum "Namaku Yelu, siapa namamu?"
"Liqin"
"Hmm...aku tidak pernah melihatmu sebelumnya"
Liqin terdiam sesaat,ia melihat Li Liang dikejauhan tengah kebingungan mencari dirinya.
"ummm..... aku baru pindah kemari, terimakasih telah menolongku tuan Yelu,aku harus pergi...sampai jumpa"
Liqin berlari menghampiri Li Liang, meninggalkan Yelu yang masih memandang kepergiannya.
"Kak"
Li Liang menoleh kebelakang dan mendapati Liqin tengah berlari kearahnya.
Liqin memeluk kakaknya, sementara Li Liang mencubit telinga Liqin.
"Adik kecilku yang manis, apa kau tidak tau kakak mencari dirimu seperti orang gila"
"Maafkan aku kak, tadi ada segerombolan pria mabuk yang menggangguku, tapi untunglah aku diselamatkan oleh seorang pemuda"
Wajah Li Liang berubah serius "Dimana pengawal kita? bisa bisanya mereka lalai"
"Sudahlah kak, ayo kita terbangkan lampionnya"
Li Liang dan Liqin kembali ke istana dengan membawa beberapa kue.
"Dimana pengawal kalian?" tanya Qing Shan
"Kami tidak tau ayah, kami tidak dapat menemukan mereka sejak di kota" sahut Li Liang.
Zhi Ruo menghampiri mereka "ayo kalian masuk kedalam,diluar dingin"
Li Liang dan Liqin segera masuk ke kamar mereka.
Zhi Ruo memeluk Qing Shan dari belakang.
"Aku takut terjadi apa apa pada mereka"
Qing Shan membalikkan badannya, membelai rambut panjang Zhi Ruo.
Pagi harinya
Qing Shan mengajak Li Liang dan Liqin mengunjungi rumah mendiang kakek Yong.Kakek Yong meninggal karna sakit 10 tahun lalu, posisinya sekarang digantikan oleh salah satu murid kepercayaannya.
Sesampainya disana, Qing Shan membuka pintu gerbang yang tidak terkunci.
Tidak ada satupun orang didalam, Qing Shan segera masuk diikuti oleh Li Liang dan Liqin dibelakangnya.
Qing Shan membuka pintu kamar kakek Yong, namun tetap tidak ada siapa siapa disana.
"Li Liang jaga Liqin, jangan jauh jauh"
Liqin menggenggam tangan kiri Li Liang, sementara tangan kanan Li Liang memegang pedangnya.
Qing Shan memegang pedangnya, lalu berjalan ke halaman belakang.
Li Liang segera menutupi mata Liqin dengan tangannya ketika melihat pemandangan menyeramkan didepannya.
Mayat mayat para murid tergeletak di halaman dengan darah bercucuran.
Qing Shan berlari menghampiri mayat mayat itu, berharap ada yang selamat dari puluhan murid kakek Yong.
Qing Shan melihat salah satu murid menggerakkan tangannya.
Qing Shan menghampirinya, lalu duduk disebelahnya.
''Katakan... siapa yang melakukan semua ini''
Pria yang sudah sekarat itu bersusah payah untuk membuka bibirnya yang memuntahkan darah segar.
"A....a..."
"Ayah... menghindar!!!!" teriak Li Liang.
Qing Shan reflek melompat kekanan, dan disaat bersamaan, sebuah panah melesat dari belakang dan mengenai kepala pria yang sekarat itu.
Qing Shan menoleh dengan wajah marah.
Seorang pria bercadar mengenakan pakaian serba hitam berdiri diatas rumah kakek Yong.
Qing Shan hendak mengejarnya, namun pria misterius itu kabur dan menghilang entah kemana.
"Bawa Liqin pulang, dan sampaikan pada Changyi untuk segera menyusulku kemari bersama beberapa pasukan"
"Baik ayah"sahut Li Liang.
Li Liang menarik Liqin keluar dari sana lalu pulang kembali ke istana menggunakan kereta kuda.