GUIREN

GUIREN
Suku Manchu



Yelu berdiri di samping kuda coklatnya, ia membelai rambut panjang kuda itu.


"Maaf... aku tidak bisa memperkenalkanmu pada Bibin(kuda putih milik Qing Shan)"


Yelu mendongak dengan mata terpejam, ia mengingat kejadian beberapa saat yang lalu.


Flashback saat Yingjie tertusuk.


"....Y.....YELU....."


Yelu yang sedang lewat di depan istana utama dikagetkan dengan keadaan Yingjie yang tersungkur dengan darah di perutnya, ia segera berlari mendekati Yingjie.


"Pangeran Yingjie"


Sayangnya Yingjie tak sadarkan diri, Yelu memeriksa luka Yingjie.


"Beracun...maaf pangeran Yingjie.... saya pergi mengambil penawarnya, bertahanlah seseorang pasti kemari tidak lama lagi"


Yelu berlari pergi, dari pada memilih keluar dari gerbang utama, ia lebih memilih memanjat tembok karna lebih cepat.


Yelu bergegas karna satu satunya orang yang ia kenal memiliki obat penawar untuk Yingjie adalah ayahnya sendiri.


Kebetulan sekali, ayahnya datang ke kota Anhui dengan beberapa pengawal.


Sebelumnya Yelu menyuruh mereka tinggal di penginapan.


Brakk.. Brakk.. Brakk..


Seorang pria berambut pendek beruban dengan anting anting memenuhi telinganya keluar dari balik pintu.


"Ayah !!!"


"Hm... jadi begini caramu menyapaku ??"


Yelu berlutut di kaki ayahnya.


"Maaf ayah... tapi aku butuh bantuanmu"


"Bantuan??? ayah tidak akan membantumu lagi..."


"Aku berjanji akan pulang setelah ayah membantuku"


"Benarkah ??"


Yelu mengangguk.


"Baiklah... kau harus janji tidak akan kabur lagi dan melakukan tugasmu sebagai penerusku...."


Dengan berat hati Yelu mengangguk "Baik ayah... aku... berjanji"


"Kau tau kan... sebagai suku Manchu..kalau mereka melanggar janji mereka?"


"Hukum cambukan sebanyak 100 kali tanpa diberi makan dan minum selama tiga hari"


Dan akhirnya Yelu mendapatkan penawar racun langka yang ia butuhkan untuk Yingjie, walaupun dengan persyaratan ia harus kembali memimpin suku Manchu, yang artinya ia tidak akan bertemu Liqin lagi.


Flashback selesai.


Yelu sangat mencintai Liqin, namun setiap cinta pasti harus ada pengorbanan, dan ia memilih mengorbankan dirinya sendiri.


Yelu sadar, Yingjie lebih pantas untuk Liqin karna Yingjie adalah seorang pangeran, sedangkan dirinya hanya pemimpin suku Manchu tanpa gelar pangeran ataupun kaisar.


Suku Manchu terkenal dengan gaya bertarungnya yang barbar dan tidak mengenal kata ampun bagi mereka yang dianggap sebagai musuh.


Pria suku Manchu selalu memakai anting anting di telinganya, sedangkan para wanita diharuskan menguasai teknik berpedang.


Yelu tersenyum lalu menunggangi kudanya menyusul 3 pria utusannya.


Qing Shan dan pengawalnya telah sampai di tempat Zhi Ruo disekap. Berkat penyelidikan Zhang Mingyu, ia dapat menemukan lokasi Zhi Ruo.


Kuda kuda diikat di pohon agar tidak menyebabkan keramaian, sementara Qing Shan dan yang lainnya berjalan mengendap endap.


Terdengar suara pedang bertentangan, mereka bersembunyi di balik semak semak belukar.


"Yang Mulia Raja.... dua orang pria yang memakai pakaian serba hitam itulah target kita, tapi siapa tiga orang pria yang bertarung dengan mereka ?" tanya Zhang Mingyu


"Aku juga tidak tau... kita perhatikan saja dulu"


Han Jian dan A Guan kesulitan melawan tiga pria asing didepannya, teknik pedang mereka terlalu cepat baginya.


Han Jian dan A Guan mundur.


"Ada urusan apa kalian!!!" bentak Han Jian.


"Kami diperintahkan untuk membunuh kalian"


Seorang pria menaiki kuda coklat datang.


Han Jian dan A Guan terdiam di tempatnya.


"Tuan muda Yelu" sapa tiga pria itu sambil berlutut.


Qing Shan, Li Liang dan Changyi dibuat terkejut seketika dengan kedatangan Yelu.


Li Liang hendak menghampirinya namun Qing Shan mencegahnya.


"Tuan muda Yelu... mereka berdua yang telah menculik permaisuri dinasti Ming"


Yelu turun dari kudanya, namun ia terdiam seketika saat sadar ada seseorang di balik semak semak mengawasinya.


Yelu menunduk hormat.


"Yang Mulia Raja Qing Shan" sapanya, membuat Han Jian dan A Guan terdiam kaku ditempatnya