
Kota Anhui
Yelu berjalan sendirian menyusuri kota Anhui yang ramai, ia mencari seseorang disana.
Tiga orang pria berlari kearahnya, lalu berlutut didepannya.
"Tuan muda Yelu... maafkan kami karna datang terlambat, kami....."
"Sshhh... diam dan berdirilah.... jangan memanggilku dengan sebutan itu disini"
"Ma...maafkan kami...Ye..lu"
"Bagus...sekarang bantu aku, kalian pergilah terlebih dulu kearah sini (sambil memberikan secarik kertas dengan gambar peta kota Anhui), disana kalian harus melawan seseorang dengan pakaian serba hitam..hati hati karna mereka licik"
"Baik... bagaimana dengan anda?"
"Aku?... mmm aku akan menyusul kalian setelah urusanku selesai"
"Baik"
Setelah ketiga pria itu pergi, Yelu berjalan menuju seorang wanita paruh baya penjual perhiasan.
"Apa kabar bibi?" sapanya
"Eh.... pemuda tampan yang waktu itu... apa kau mau membelikan kekasihmu perhiasan lagi?"
"Belum menjadi kekasihku bi..."
"Oohh... jadi kau masih berjuang mendapatkannya ya"
"Hmm.. begitulah... bibi.. berikan aku kalung paling cantik disini"
Bibi itu mengambil sebuah kalung mutiara berwarna merah muda.
"Ini dia... dari mutiara merah muda asli, sangat cocok untuk wanita anggun"
"Mm... apa ada yang lebih imut sedikit?"
"Bagaimana kalau ini ? emas asli dengan mainan kupu kupu"
"Baik.. aku akan membelinya"
"Sepertinya kau ini sangat kaya..."
Yelu tertawa kecil "Hahaha.... ambil saja kembaliannya"
"Terimakasih pemuda tampan"
Yelu menunggangi kuda coklat yang baru ia beli sambil memandang kalung yang dipegangnya.
"Dia pasti akan sangat cocok memakai kalung ini"gumamnya.
Yelu membeli anting mutiara untuk Liqin di orang yang sama, ia sempat iri karna Yingjie memberi Liqin sebuah perhiasan, maka dari itu Yelu menyelinap keluar untuk membeli perhiasan yang lebih indah dan mahal dari perhiasan milik Yingjie.
Ia sangat senang karna Liqin menyukainya, melihat Liqin yang begitu cantik memakai perhiasan darinya, ia pun selalu ingin membelikan Liqin lebih banyak lagi perhiasan yang cantik.
Yelu memacu kudanya menuju belakang istana dinasti Ming, karna sangat tidak mungkin baginya masuk lewat gerbang utama.
Sampai di belakang istana, Yelu memanjat tembok besar lalu masuk ke dalam istana dengan mudahnya.
Ia melihat Liqin berjalan di kejauhan membawa sebuah mangkuk besar.
Liqin membawa semangkuk besar air hangat untuk Yingjie, tiba tiba seseorang menyentuh pundaknya.
Liqin menoleh.
TRANGG....
Mangkuk besi yang dipegangnya terjatuh seketika, membuat air yang didalamnya tumpah membasahi kakinya.
"Ye... Yelu..."
"Putri Liqin... maaf saya baru datang sekarang"
Liqin terdiam, ia bingung harus melakukan apa, sampai Li Liang datang berlari menghampirinya.
"Liqin... kau tidak apa apa?" tanya Li Liang sambil memeluknya.
Liqin mengangguk.
"Pangeran Li Liang..."
"Untuk apa kau kemari ? apa kau berniat mencelakai Liqin? sebaiknya kau cepat pergi dari sini"
Yelu menatap wajah Liqin.
"Sebelum itu... biarkan saya menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, pangeran"
Li Liang menarik pedangnya dan mengarahkannya tepat didepan mata Yelu.
"Cepat pergi dari sini!!"
Yelu terdiam, ia sangat ingin berbicara dengan Liqin.
"Putri Liqin... sebenarnya ada yang ingin saya katakan....."
"Yelu... jangan membuatku mengayunkan pedangku" ancam Li Liang.
Yelu mengeluarkan botol guci kecil berwarna putih di sakunya, lalu menaruhnya di lantai.
"Ini... adalah obat penawar racun untuk pangeran Yingjie, saya pergi dulu"
Setelah kepergian Yelu, Li Liang mengambil botol itu.
"Apa itu benar obatnya kak?" tanya Liqin.
"Kita akan tau nanti setelah tabib mengeceknya"
Li Liang berjalan pergi membawa obat yang diberikan Yelu agar di teliti lagi oleh tabib istana, sementara Liqin berlari ke belakang istana.
'Dia.. benar benar pergi'
Liqin merasa dadanya sesak, ia seakan tidak bisa melihat wajah Yelu lagi nantinya.