
(Hari Kelima)
Matahari telah terbit,
Qing Shan dan pasukannya membereskan barang barang mereka.
Qing Shan bermimpi buruk semalam, ia memimpikan Zhi Ruo dalam bahaya. Qing Shan memerintahkan pasukannya untuk segera bergegas.
Dinasti Ming
A Hua dan Peiyun pergi ke dapur istana, A Hua menunggu diluar sedangkan Peiyun masuk kedalam dapur untuk menuangkan obat kedalam teh yang setiap pagi dibawa kekamar Zhi Ruo.
Peiyun menengok kekanan dan kekiri, tidak ada siapa siapa disana. Peiyun segera memasukkan obat kedalam teko yang biasa digunakan Zhi Ruo.
"Selir Peiyun ?"
Peiyun sangat terkejut ketika salah satu koki istana memanggilnya.
"Oh... umm... aku hanya ingin mengambil beberapa roti, aku sangat lapar"
Koki istana tersenyum lembut "Rotinya masih dipanggang, beberapa saat lagi matang.. sebentar lagi saya akan suruh pelayan membawakannya untuk selir Peiyun"
"Baiklah terimakasih"
Peiyun berlari kecil keluar dari dapur istana dan kembali ke istana selir.
Jia Li mengeringkan rambut panjang Zhi Ruo menggunakan kain putih.
Tok Tok Tok
Jia Li membuka pintu, seorang pelayan mengantar teh untuk Zhi Ruo.
Jia Li menaruh tehnya dimeja dan lanjut merapikan rambut Zhi Ruo, setelah selesai Zhi Ruo duduk di sofa ditemani Jia Li yang sedang menuangkan tehnya.
"Jia Li... apa kau sakit? wajahmu terlihat sedikit pucat"
"Saya tidak apa apa nona, dari kemarin saya merasakan firasat yang tidak enak"
"Minum teh bersamaku dan beristirahatlah"
"Tidak apa apa nona, saya akan mengambil teh saya sendiri di dapur"
"Sudah minum saja ini, tuang dua cangkir"
"Baik nona"
Jia Li menuang tehnya.
"Silahkan nona"
"Ya.. umm minumlah aku akan mengambil bantal untukmu"
Zhi Ruo berdiri mengambil bantal di ranjangnya dan menaruh nya disofa.
"Berbaringlah disana, setelah ini kau akan merasa baikan"
Zhi Ruo menyelimuti Jia Li lalu kembali duduk di sofa kecil.
Jia Li merasakan ada yang salah dengan perutnya, dadanya terasa panas dan sesak. Jia Li segera menghentikan Zhi Ruo yang hendak meminum tehnya.
Jia Li menepis tangan Zhi Ruo yang menyebabkan cangkir teh jatuh dan pecah.
"Nona..."
Jia Li memegangi perut nya yang terasa perih, Zhi Ruo panik, ia menghampiri Jia Li dan menyentuh badannya yang terasa dingin.
"Jia Li... apa yang terjadi?"
"Teh...nya.." sahut Jia Li dengan nafas tersenggal.
Zhi Ruo segera berlari pergi menuju tabib istana. Ia tidak memperdulikan rambutnya yang bahkan masih belum disisir dan kaki yang masih belum memakai alas.
Brak.. brakk.. brakk..
Zhi Ruo memukul pintu kamar tabib istana dengan kencang. Seorang pria tua dengan jubah biru tua membuka pintu.
"Tabib... tolong... Jia Li keracunan"
"Selir Zhi Ruo harap tenang... dimana Jia Li?"
"Dia dikamarku, cepat kesana!!!"
Zhi Ruo dan tabib istana berlari kekamar Zhi Ruo.
Tabib istana mengecek kondisi Jia Li dan memberikan semacam pil hitam lalu memanggil penjaga agar membantu membawa Jia Li ke ruang pengobatan.
Zhi Ruo mengikuti dari belakang.
Tabib istana menyuruh Zhi Ruo menunggu diluar agar tidak mengganggunya saat melakukan pengobatan.Kira kira satu jam lamanya, akhirnya tabib istana keluar dengan wajah berkeringat.
"Selir Zhi Ruo... Jia Li keracunan.. dan racun itu berdosis tinggi menyebabkan rusaknya organ dalam Jia Li, saat ini saya sudah memberinya pereda rasa sakit agar Jia Li masih bisa bernafas"
Zhi Ruo menangis sesenggukan.
"Lalu apakah dia bisa sembuh?"
"Saya akan mencoba mencari penawarnya"
Tabib istana pergi meninggalkan Zhi Ruo, Zhi Ruo masuk kedalam ruangan itu dan mendapati Jia Li yang tertidur dengan wajah pucat. Zhi Ruo tak dapat menahan tangisnya memandang wajah Jia Li yang sangat pucat, dibelainya rambut pelayannya yang juga ia anggap adiknya.
"Jia Li... kau harus sembuh.. kau pasti bisa bertahan" bisik Zhi Ruo ditelinga Jia Li.