
Sore harinya, A Hua dan mentri Ping pergi keluar istana. A Hua beralasan ingin membeli beberapa obat kecantikan, mereka mampir ke toko obat. Mentri Ping menunggu di kudanya, sedangkan A Hua membeli beberapa obat untuk rencananya.
Mentri Ping dan A Hua kembali ke istana setelah selesai membeli obat.
Tak lupa A Hua mencium sekilas pipi mentri Ping agar sewaktu ia butuh bantuan mentri Ping masih mau membantunya.
A Hua kembali ke istana selir dan menyimpan obat itu di lemarinya dengan aman.
Jia Li terus memperhatikan nona nya, entah mengapa ia merasakan firasat buruk sedari pagi. Jia Li juga melarang Zhi Ruo keluar karna rasa khawatirnya, Zhi Ruo menurut agarJia Li merasa lebih tenang.
Zhi Ruo berbaring di ranjangnya sedangkan Jia Li duduk disebelahnya sambil menyisir rambut Zhi Ruo
"Nona"
"Ya......."
"Nona jangan lupa apa kata kata Yang Mulia Raja dan juga kata saya, jangan sia siakan hidup nona"
Zhi Ruo tersenyum sambil memandangi kuku kuku tangannya yang baru dipoles.
"Ada apa? kenapa berkata seperti itu?"
"Tidak ada... hanya saja saya terlalu khawatir meninggalkan nona sendirian"
"Aku tidak akan kemana mana"
Jia Li mengepang rambut Zhi Ruo dengan lembut dan rapi.
"Sebagai pelayan, saya sangat senang diperlakukan seperti ini oleh nona, nona juga sudah menganggap saya sebagai adik nona"
Zhi Ruo bangun dari tidurnya dan memeluk Jia Li.
" Hey... ada apa denganmu hari ini ? kau tidak perlu khawatir Jia Li... sekarang giliranmu, biar aku mengepang rambutmu"
Jia Li tersenyum mengangguk.
Kuda kuda diikat di pepohonan dengan rumput rumput hijau agar mereka makan, tak lupa para prajurit memberikan kuda kuda mereka minum.
Qing Shan duduk disebuah bangku pinggir jalan bersama Ma Chou menikmati minumannya.
"Kalau kita mempercepat perjalanan, kita akan sampai besok malam Yang Mulia Raja"
"Ya...biarkan yang lain makan sampai kenyang dan juga bawa persediaan air yang banyak"
"Baik Yang Mulia Raja"
Qing Shan melepas jubahnya, angin berhembus menerpa rambut panjangnya.
Setiap penduduk kota Wuhan yang lewat menunduk menghormatinya, ada juga anak anak kecil yang melambaikan tangannya padanya.Para gadis mengintipnya dari jendela rumahnya membuat Qing Shan teringat akan pertama kali bertemu Zhi Ruo.
"Mereka semua menunduk hormat padaku, mencuri curi pandang dari ku... dan kau dengan beraninya menatap ku tajam dari jendela dengan tatapan seperti itu wanita ku"gumam Qing Shan sambil mengamati rumah rumah penduduk.
Dua jam kemudian
Qing Shan dan yang lainnya tengah bersiap untuk melanjutkan perjalanannya. Ma Chou memeriksa kuda milik Qing Shan dan juga kuda miliknya, setelah semua siap mereka segera melanjutkan perjalanannya.
Kota Wuhan tidaklah besar, namun kota ini sangat bersih dan terawat.
Setelah keluar dari kota Wuhan, mereka memasuki hutan yang tidak terlalu gelap karna cahaya bulan yang sangat terang. Bintang bintang terlihat sangat banyak menunjukkan malam ini sangat cerah dan tidak akan turun hujan.
Setelah beberapa jam perjalanan, malam telah sangat larut. Qing Shan dan pasukannya mendirikan tenda di tengah hutan untuk tidur.
Kuda kuda diikat di pohon, para prajurit berjaga bergiliran.
Qing Shan berbaring didalam tendanya sambil memandangi hanfu merah yang telah ia beli, lagi lagi ia membayangkan Zhi Ruo memakainya dan menggodanya.
Seketika wajahnya merona, Qing Shan langsung membungkus hanfu itu dan menyembunyikannya dibawah bantal agar ia berhenti berpikiran kotor.