
Pagi Harinya
Liqin membuka matanya, disaat bersamaan seorang pelayan wanita masuk.
"Tuan putri.. saya membawakan sarapan"
Liqin turun dari ranjangnya dengan rambut acak acakan.
Pelayan wanita itu menyiapkan air sementara Liqin menikmati sarapan paginya.
Li Liang selesai memakai hanfu hitamnya lalu berjalan keluar dari kamarnya.Ia melihat Yelu tengah memberi makan kuda putih milik Qing Shan di halaman.
Yelu menoleh kearah Li Liang lalu mengahmpirinya dengan senyuman dibibirnya.
"Pangeran... apa ada yang pangeran butuhkan? saya bisa membantu"
"Tidak ada, yang lebih butuh pengawal itu adikku, dia sangat ceroboh dan penakut.. aku harap kau dapat melindunginya dengan baik"
"Saya akan melindungi tuan putri dengan nyawa saya pangeran"
"Baguslah... jangan sampai ada yang menyakitinya atau aku akan memenggal kepalanya"
"Baik pangeran"
Li Liang pergi meninggalkan Yelu yang masih berdiri di tempatnya.
Liqin segera mandi dan memakai hanfu kuningnya dibantu oleh pelayannya,rambut panjangnya yang masih basah di biarkan terurai begitu saja.
"Apa Yang Mulia Ratu sibuk?" tanya Liqin pada pelayannya.
"Yang Mulia Ratu tidak sibuk, Yang Mulia Ratu sekarang berada di bangku taman bersama pelayan Jia Li"
"Emm..baiklah"
"Apa tuan putri mau saya antar kesana?"
"Tidak perlu, kau boleh pergi''
"Baik tuan putri"
Pelayan itu segera pergi.
Liqin mengambil jepitan bunganya di laci lalu membawanya keluar.
Liqin membuka pintu kamarnya dan mendapati Yelu tengah berdiri di samping kamarnya.
"Tuan putri" sapa Yelu.
"Y... yelu.. umm ada apa?"
"Pangeran Li Liang menugaskan saya untuk selalu menjaga tuan putri, mulai saat ini saya akan selalu berada di sisi tuan putri demi keselamatan tuan putri"
"Tuan putri?" Yelu menyadarkan Liqin dari lamunannya.
"Oh. ahaha.. mm..maaf..ya baiklah, panggil saja putri Liqin tidak perlu pakai kata tuan"
"Baik putri Liqin"
Wajah Liqin memerah, ia merasa malu ketika Yelu memanggilnya begitu padahal ia sendiri yang menyuruhnya.
Liqin berjalan mencoba mengabaikan Yelu yang mengikutinya dari belakang.Jantungnya masih berdegup dengan kencang tak beraturan, ia mempercepat jalannya sambil menunduk kebawah memandangi kakinya yang melangkah semakin cepat.
"Putri Liqin!!"
Yelu menarik tangan kanan Liqin dengan cepat ketika melihat Liqin berjalan begitu cepatnya tanpa melihat didepannya terdapat seorang koki membawa sekarung besar beras.
Brukk
Liqin menabrak dada bidang Yelu, ia terdiam saking terkejutnya.
"Apa putri baik baik saja? apa saya menarik terlalu keras?"
Liqin menggeleng cepat.
"Haah syukurlah... telat sedikit mungkin putri sudah menabrak koki itu dan beras itu akan jatuh berceceran"
Liqin baru sadar, ia melihat koki didepannya menaruh karung berasnya dan berlutut dihadapannya.
"Tuan putri, maafkan saya... saya tidak bermaksud menghalangi jalan tuan putri" sahut koki itu dengan wajah memelas.
Liqin berjongkok lalu menyentuh pundak koki yang sudah berumur itu.
"Tidak perlu meminta maaf, ini salahku... aku tidak melihat ada siapa didepan... paman boleh pergi"
"Terimakasih tuan putri"
Koki itu melanjutkan pekerjaannya.
Liqin menoleh memandang wajah tampan Yelu yang sedari tadi memandanginya.
"Terimakasih... maaf aku berjalan tanpa melihat kedepan"
Yelu tersenyum lalu mengacak acak pelan poni Liqin dengan gemas,Liqin terdiam seketika.
Yelu menghentikan tangannya.
"Mm.. maafkan saya putri... saya hanya merasa putri Liqin sangat menggemaskan, maaf atas ketidaksopanan saya" sahut Yelu sambil menunduk.
"Tidak apa apa"