GUIREN

GUIREN
Penolakan



Yingjie menarik tangan Liqin, memeluknya dengan erat dan tentu saja itu membuat Yelu cemburu.


Yelu yang mengawasi mereka dari kejauhan, mengepalkan kedua tangannya, ia sangat ingin sekali menghampiri Yingjie dan memukul wajah pangeran tampan itu.


Liqin melepas pelukan Yingjie, sesaat ia melihat Yelu memandanginya dengan wajah tak suka.


"Apa kau mau bertemu kakakku?"


"Sudah kubilang aku merindukanmu.. untuk apa aku bertemu kakakmu?"


"Haaahh.... baiklah.. ayo masuk"


Yingjie melepas jubah putih nya lalu berbaring di sofa.


"Kau tau... sebenarnya tidak baik seorang laki laki berada di dalam kamar seorang perempuan tanpa adanya ikatan pernikahan, apalagi kau ini pangeran dan aku seorang putri" jelas Liqin.


"Kalau begitu kita menikah saja"sahut Yingjie dengan santainya.


"Lagi lagi begitu, apa kau tidak bosan terus mengatakannya?"


Yingjie berdiri dan berjalan mendekati Liqin yang duduk di kursi meja riasnya.


Yingjie berlutut dihadapan Liqin, menggenggam tangan wanita cantik yang sedari kecil bermain bersamanya.


"Liqin... aku bersungguh sungguh mengatakannya, aku tidak pernah berbohong akan kata kataku... bukankah sudah kubilang aku mencintaimu sedari dulu? apa kau tidak mencintaiku?"


Liqin terdiam, ia memandang wajah Yingjie yang terlihat bersungguh sungguh dihadapannya.


"Yingjie.."


Yingjie menatap mata Liqin dengan serius.


"Katakan saja dengan jujur"


"Kau adalah temanku yang paling berharga, aku sangat menyayangimu layaknya aku menyayangi kakakku sendiri... maafkan aku"


"Apa ada laki laki lain yang kau sukai ?"


"Mmm..... ya.. tapi aku tidak bisa mengatakannya padamu siapa laki laki itu"


"Kau tidak perlu mengatakannya padaku siapa laki laki itu, karna aku sudah mengetahuinya".


Wajah Liqin memerah " Be.. benarkah ? apa kau tau dia siapa? bagaimana bisa?"


"Aku tidak perlu menjelaskannya"


Yingjie berdiri " Aku akan menemui kakakmu, ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengannya" Yingjie berjalan pergi begitu saja.


Liqin menarik lengan baju Yingjie.


"Yingjie..."


Yingjie menghentikan langkahnya.


"Apa.. kau marah padaku?" tanya Liqin.


Yingjie membalikkan badannya lalu memeluk Liqin dengan erat.


"Tidak mungkin aku marah, hanya saja... biarkan aku sendiri terlebih dulu, kau sendiri tau... aku menyukaimu sejak kita kecil, tidak mudah membuang rasa cintaku padamu ini"


Tak terasa air mata Liqin jatuh begitu saja, dadanya terasa sesak, ia bingung memikirkan apakah tindakannya telah benar.. menolak seorang pangeran tampan yang mencintainya dengan tulus demi seorang pria yang bahkan ia sendiri tidak yakin apakah pria itu tulus mencintainya.


Yingjie tersenyum lalu menghapus air mata yang membasahi pipi Liqin.


"Kenapa menangis ?apa kau menyesal ?.. tenang saja, aku akan selalu menunggumu, aku akan dengan setia menunggu sampai kau benar benar membuktikan bahwa laki laki itu mencintaimu dengan tulus"


Liqin tersenyum kecil "Maafkan aku Yingjie, aku tidak bisa membohongi perasaanku... maaf sudah menyakiti perasaanmu"


Yingjie membelai kepala Liqin dan tersenyum hangat.


"Baiklah, aku pergi dulu..."


Yingjie keluar dari kamar Liqin, ia menoleh memandang Yelu yang sedari tadi mengawasi dirinya. Ya... sedari awal bertemu, Yingjie sadar bahwa Yelu selalu memandanginya dengan tatapan cemburu ketika ia bersama dengan Liqin.


Waktu itu Yingjie sengaja mencium Liqin dihadapan Yelu untuk memastikan apakah perkiraannya benar bahwa Yelu menyukai Liqin, dan ternyata benar, Yelu menatapnya dengan rasa tak suka seperti hendak membunuhnya saja.


'Liqin.. kau yakin lebih memilih dia yang bukan siapa siapa itu ?'