
Qing Shan dan Zhi Ruo berdiri di depan kamarnya.Mereka mengenakan hanfu dengan warna dan motif yang sama.
Tak lama kemudian Li Liang dan Liqin menghampiri mereka.
"Jangan berlari" sahut Qing Shan.
Li Liang dan Liqin hanya tertawa kecil bersama.
"Ibu masih tetap sangat cantik walaupun rambut ibu tidak sepanjang dulu" puji Liqin.
Zhi Ruo membelai rambut Liqin yang terlihat rapi dan anggun dengan pita dan bunga merah di kepalanya.
"Putri cantik ibu terlihat anggun hari ini"
Setelah bersiap siap, Qing Shan mengulurkan tangannya pada Zhi Ruo agar lebih mudah saat menaiki kuda putihnya.
Sementara Liqin menaiki kuda hitam bersama Li Liang.
Para pengawal siap di belakang mereka, mereka pun segera berangkat keluar dari istana.
Mereka menuju kota Shenyang yang jaraknya lumayan jauh dari kota Anhui.
Daun daun berguguran mengotori sepanjang jalan yang mereka lewati. Udara yang terasa hangat di siang hari dan juga angin yang bertiup kencang karna kecepatan kuda, membuat rambut mereka menari nari dengan indahnya.
"Ada apa di kota Shenyang kak?" tanya Liqin
"Kata ayah ada festival musim gugur disana"
"Mm... apa akan menarik ?"
"Kakak tidak tau... tapi besok mereka mengadakan festival kue bulan... bukankah kau suka kue ?"
"Wahh... kue bulan.. aku suka, apa ada atraksi lainnya ?"
"Entahlah... lihat saja besok"
Sampai di sebuah desa, mereka berhenti untuk mengistirahatkan kuda mereka masing masing.
Para pengawal memberi kuda kuda air untuk minum, sementara Qing Shan dan lainnya masuk ke dalam kedai mie yang terlihat sepi.
"Paman.. sepuluh mangkuk mie daging"
"Baik"
"Enam porsi berikan pada pria pria diluar"
"Baik tuan"
Setelah dirasa cukup untuk beristirahat, mereka melanjutkan perjalanan mereka kembali.
Sesampainya di kota Shenyang.
Qing Shan turun dari kudanya, mereka berhenti di depan sebuah penginapan.
Para pengawal mengurus kuda kudanya.
Setelah memesan kamar, Qing Shan dan Zhi Ruo segera beristirahat disana, sementara Liqin dan Li Liang berjalan jalan mengelilingi kota Shenyang dan tentunya ditemani oleh tiga orang pengawal.
Liqin menarik tangan Li Liang, mengajaknya untuk memancing ikan koi di stand bermain yang ada disana.
"Silahkan nona cantik... semoga beruntung" sahut lelaki paruh baya yang menjaga stand ikan tersebut.
Liqin mencoba berkali kali namun selalu saja gagal, sementara Li Liang sudah mendapat tiga ekor ikan di timba kecilnya.
Beberapa orang yang ada disana ikut melihat Li Liang yang dengan santainya memancing ikan ikan itu.
Terlihat sang pemilik stand ikan mulai khawatir karna ia akan rugi kalau Li Liang terus mendapatkan ikan ikannya.
Akhirnya timba milik Li Liang penuh dengan ikan ikan koi yang berenang berdesakan di dalamnya.
"Lihat?"
"Wah.. kakak hebat.. aku baru dapat dua hahaha"
Li Liang memberikan timba nya yang berisi banyak ikan koi kepada pemilik standbikan itu.
"Paman... ini... aku hanya membutuhkan dua koi ditangan adikku ini"
Te.. terimakasih. kalau begitu biarkan saya menaruh koi itu didalam plastik".
Liqin terus memandangi ikan koi miliknya yang ada didalam plastik berisikan air.
"Liqin.... jangan terus memandangi ikan itu... kalau ada batu didepan kau bisa terjatuh"
"Iya.. iya.."
"Pangeran Li Liang... tuan putri..." teriak seseorang di belakang.
Li Liang dan Liqin menoleh.
"Ketua ?"
"Hahaha.... sekarang bukan aku ketuanya... jadi panggil saja paman"
"Hahaha... baiklah paman De Wu.."
" Yang Mulia Raja dan Yang Mulia Ratu ada disini ?"
"Iya... ayah dan ibu sedang istirahat di penginapan depan... umm kenapa paman ada disini ?"
"Tentu saja paman kesini... seluruh suku manchu ada disini untuk menghormati hari panen"
Liqin terdiam, paman De Wu mengatakan bahwa suku Manchu semua ada disini, yang artinya Yelu juga berada disini.
Deg Deg Deg
Jantungnya berdegup kencang hanya dengan memikirkannya saja.
"Dimana Yelu ?" tanya Li Liang.
"Yelu... ummm ..."
Jantung Liqin semakin berdetak tak karuan, wajahnya terasa panas dan dingin menunggu jawaban dari paman De Wu.
"Yelu... ah.. itu dia ada di sana" sahut De Mu sambil menunjuk kearah dimana Yelu berada.
Liqin menoleh, ia dapat melihat Yelu sedang berdiri tertawa ria disana, namun bukan Yelu yang Liqin pandangi, melainkan seorang wanita berpakaian berwarna merah yang duduk di batu besar dengannya.
Mereka terlihat sangat akrab bahkan terlihat serasi.
Liqin menahan air matanya yang hampir saja menetes.
"Kak... aku lelah.. aku kembali ke penginapan dulu" sahut Liqin.
Belum sempat Li Liang menjawab, Liqin telah berlari pergi, kedua pengawal ikut berlari memastikan Liqin kembali ke penginapan dengan selamat.