
Pagi telah tiba, Qing Shan dan yang lainnya telah siap di posisi masing masing. Menara kapal Han Xin hanya diam di tengah teluk tanpa ada pergerakan sedikit pun.
Brukk Brakk Brukk Brakk....
Suara hentakan kaki terdengar dari kejauhan dan semakin mendekat, terlihat Han Xin dan pasukannya membentuk barisan memanjang.
Li Zicheng tersenyum kecil "Akhirnya dia menampakkan diri"
Han Xin mengangkat pedangnya dan seketika para pasukannya menyerbu pasukan Qing Shan, Qing Shan dan Li Zicheng berteriak memerintahkan pasukan mereka untuk maju.
Lagi lagi suara pedang nyaring terdengar, jeritan kuda kuda yang tertusuk dan juga para jendral yang dengan gagahnya menusukkan tombak mereka ke dada musuh.
Dinasti Ming
Hari menjelang siang, matahari tak menampakkan sinarnya dan digantikan dengan awan awan gelap yang semakin membuat dirinya khawatir. Entah mengapa sejak semalam ia merasakan firasat yang aneh, ia berdoa demi keselamatan Qing Shan.
Zhi Ruo berdiri di belakang pintu gerbang seorang diri, berharap mendengar tapak kaki kuda yang menandakan kedatangan Yang Mulia Rajanya. Jia Li berlari kecil menghampiri nonanya.
"Nona.."
Zhi Ruo menoleh.
"Nona... sudah cukup lama nona disini, ayo kita masuk"
"Jia Li... kenapa Yang Mulia Raja belum datang juga? apa perang kali ini cukup menyusahkan?apa Yang Mulia Raja akan baik baik saja?"
"Nona harus bersabar, Yang Mulia Raja tak akan terkalahkan... ayo masuk nona sebelum hujan"
Dikejauhan A Hua hanya menatap Zhi Ruo dengan tatapan bencinya.A Hua menghampiri mentri Ping yang berdiri didepan kamarnya,ia terlihat sibuk dengan beberapa lembar kertas ditangannya.
"Mentri Ping" panggil A Hua.
Mentri Ping menoleh "Selir A Hua ?"
A Hua mendorong mentri Ping masuk kekamarnya.
"Tentu saja, tapi kuda kuda yang ditinggal adalah kuda kuda lemah"
"Mentri Ping, berikan saya salah satu kuda terlemah itu"
"Untuk apa?"
"Mentri Ping tidak perlu tau itu" sahut A Hua sambil tersenyum manja memberikan kode seperti biasanya.
Mentri Ping menaruh kertas kertas ditangannya, lalu mendorong A Hua bersandar di tembok. Diciuminya leher wanita dihadapannya lalu turun ke dadanya dan membuat tanda merah disana.
A Hua menikmati setiap sentuhan mentri Ping karna memang sudah lama ia tidak menerima sentuhan dari Qing Shan.
Dengan rakus mentri Ping menciuminya dan menyentuh tubuhnya, Mentri Ping melepas celananya dan mengangkat kaki A Hua.
Dimasukkannya secara paksa benda miliknya, A Hua menahan jeritannya ketika mentri Ping menggoyangkan badannya dengan cepat.
A Hua hanya bisa membayangkan mentri Ping saat ini adalah Qing Shan.
Cairan hangat mengalir di pahanya, mentri Ping tersenyum puas melihat A Hua yang seketika terduduk di lantai.
Pasukan Han Xin terus berdatangan, sedangkan pasukan Qing Shan dan Li Zicheng semakin berkurang.
Qing Shan dan yang lainnya mulai kewalahan, lagi lagi Han Xin bersembunyi entah dimana.
Ma Chou menebas satu persatu musuh yang berdatangan, entah sudah berapa nyawa mati ditangannya.
Li Zicheng menghampiri jendral perang miliknya dan mengutusnya untuk menghancurkan menara kapal milik Han Xin agar Han Xin tidak melarikan diri.
Ma Chou menoleh kearah Qing Shan, memastikan rajanya baik baik saja.Perhatiannya terfokuskan pada Han Xin yang memacu kudanya dengan cepat dari arah belakang dan melemparkan tombak kearah Qing Shan.
Ma Chou berlari kearah Qing Shan.
"Yang Mulia Raja Qing Shan awas !!!!"