GUIREN

GUIREN
Mereka menyalahkanku



Yue Ying membuka pelan matanya,ia menyentuh kepalanya yang terasa sangat sakit. Yue Ying melihat darah di pahanya dan ia menangis terisak isak.


"Yue Ying" teriak ibu dari luar kamar


Yue Ying menghapus air matanya "Ya Ibu... sebentar lagi aku datang"


Yue Ying membersihkan darah di dahi dan di pahanya, lalu mengganti bajunya dan mengikat rambut hitam panjangnya.


Plakk...


Sebuah tamparan yang sangat keras diterimanya dari ibunya.


"Kenapa lama sekali, cepat cuci baju baju itu atau kau tidak akan mendapatkan sarapan"


"Baik ibu"


Yue Ying duduk di kursi kayu kecil sambil mencuci baju baju mereka yang sangat banyak didekat sumur belakang rumah.


Seorang wanita paruh baya yang menjadi tetanggaku menghampiriku.


"Yue Ying"


"Bibi.."


"Ini roti untuk sarapan, bersabarlah dengan mereka, bibi tidak bisa membantu apa apa"


Seketika air mata mengalir di pipi Yue Ying.


"Terimakasih, bibi sebaiknya cepat pulang agar tidak ketahuan oleh ibu"


"Baiklah, bibi pulang dulu"


Yue Ying menghabiskan rotinya dan kembali mencuci baju, setelah semuanya ia cuci dan ia jemur, Yue Ying segera mandi dan sarapan di dapur.Tentu saja hanya makanan sisa yang ia dapat, namun ia tetap bersyukur karna masih diberi makan.


Ayah menghampiri Yue Ying dengan membawa segelas air yang berwarna keruh.


"Pastikan kau meminum ini"


Yue Ying hanya mengangguk pelan, selesai menghabiskan makanannya ia meminum air itu, air yang pastinya diberi obat agar Yue Ying tidak hamil anaknya.


Yue Ying membersihkan kamarnya yang terlihat menjijikkan karna ulah ayah bejatnya.


Yue Ying duduk di sudut kamarnya sambil menunduk, ia sudah tidak sanggup lagi untuk menjalani kehidupannya. Yue Ying mengambil pecahan botol arak di tempat sampah dan terus memandanginya.


Ia mengumpulkan keberanian untuk menggores pergelangan tangannya dan mengakhiri hidupnya.


Yue Ying dikagetkan dengan suara pintu kamarnya yang terbuka dengan keras. Ayahnya memandangi pecahan botol di tangan Yue Ying dengan marah, ia menendang tangan Yue Ying, pecahan itu terpental jatuh dibawah tempat tidur.


"Apa kau mau bunuh diri hah?!!" bentak ayahnya.


Yue Ying menangis menundukkan kepalanya.


Dengan kasar Ayahnya menarik tangan Yue Ying dan mendorong Yue Ying ke ranjang.


Yue Ying kesulitan untuk berdiri karna setengah badannya tengkurap di tempat tidur sedangkan punggungnya ditahan dengan tangan kanan ayahnya.


Dengan kasar Ayahnya menurunkan celana dalamnya.


Yue Ying berteriak sekencang kencangnya.


"IBUU.... IBUU... TOLONG.."


Ayahnya yang terlihat marah menarik rambut Yue Ying dan menampar pipi Yue Ying beberapa kali.Yue Ying merasa sekujur tubuhnya lemas tak berdaya, saat ayahnya hendak membuka celananya,terlihat Fang Yin, Fang Hua dan Ibunya terkejut didepan pintu kamar Yue Ying.


"Fang De!!!" bentak Ibu


Ayah yang merasa takut hanya memasang kembali celananya.


Ibu menghampiri Yue Ying dengan tatapan membunuh.


Yue Ying berlutut menangis di kaki ibunya.


"Ibu... tolong aku ibu..."


Berharap ibunya membelanya namun ternyata tidak sesuai dugaannya.


Ibu menarik rambut Yue Ying dan menyeret Yue Ying keluar.


"Fang Yin... Fang Hua"


"Ya ibu" jawab mereka bersamaan.


"Bawa pelacur ini keluar, dan jual dia ke rumah bordil.."


"Baik ibu"


Yue Ying tak sanggup lagi berkata kata, air matanya pun terasa kering.


Mereka berjalan kerumah bordil atau tempat para pelacur. Jaraknya tak terlalu jauh, setelah sampai disana seorang wanita paruh baya dengan make up tebal memberikan uang kepada Fang Hua dan membawa Yue Ying masuk.