
Pagi telah tiba, para pasukan menyiapkan senjata mereka masing masing begitu pula para panglima perang yang akan memimpin setiap baris pasukan. Para penjaga membantu mengecek kuda kuda, memisahkan yang paling kuat dan yang lemah.
Ma Chou memoles pedang kesayangannya, ia terampil dalam menggunakan dua pedang ditangannya.Pedang yang terlihat biasa saja namun sangat tajam dan penuh kenangan dalam hidupnya karna ia membuat pedang itu ditemani oleh mendiang istrinya. Setelah perang selesai nanti, Ma Chou berniat untuk mengajak putrinya untuk jalan jalan keluar istana karna sudah lama ia tidak menemani putrinya yang semakin cantik itu.
Qing Shan duduk di sofa kamarnya bersama Zhi Ruo sambil menikmati teh.
Para pelayan datang membawakan baju besi Qing Shan yang biasa ia gunakan dalam peperangan.
Qing Shan menaruh cangkir tehnya dan membiarkan para pelayan membantunya memakai baju besi itu.
Zhi Ruo hanya memandanginya dari belakang, Qing Shan terlihat gagah dengan baju besinya.
Tok Tok Tok
Ma Chou datang menghampiri Qing Shan, ia juga telah siap mengenakan baju besinya.
"Yang Mulia Raja, senjata dan kuda telah disiapkan"
"Siapkan pasukan"
"Baik Yang Mulia Raja"
Para pelayan pergi setelah selesai membantu Qing Shan.
Qing Shan menghampiri Zhi Ruo,ia berlutut dihadapan wanitanya, sedangkan Zhi Ruo merasa tidak enak karna walaupun begitu Qing Shan adalah Rajanya.
"Yang Mulia Raja.."
Qing Shan menggenggam kedua tangan Zhi Ruo sambil memandang wajah cantik itu.
"Kau sangat cantik Zhi Ruo... aku bersyukur bertemu denganmu"
Wajah Zhi Ruo merona mendapatkan pujian dari Qing Shan.
"Saya yang paling bersyukur memiliki Yang Mulia Raja"
Para pasukan telah siap, mereka menunggu didepan gerbang istana membentuk barisan panjang yang rapi. Ma Chou menunggu Qing Shan tepat di pintu gerbang, ia telah siap diatas kuda hitamnya yang juga diberi besi pelindung.
Zhi Ruo mengekor dibelakang Wing Shan.
Baru kali ini Zhi Ruo melihat pasukan kerajaan sebanyak ini, para selir menatap Zhi Ruo dengan sinis.
Qing Shan berdiri disebelah kuda putihnya, ia memandang wajah Zhi Ruo yang selalu mengingatkannya pada mendiang ibunya.
"Ingat kata kataku, hanya aku yang boleh menyentuhmu..."bisik Qing Shan ditelinga Zhi Ruo.
Zhi Ruo mengangguk pelan "Pastikan pulang dengan selamat Yang Mulia Raja... saya akan menunggu di pintu gerbang setiap harinya"
Qing Shan membelai pipi Zhi Ruo lalu segera menaiki kudanya.
Zhi Ruo terus memandang Qing Shan yang semakin jauh,dan pintu gerbang pun tertutup rapat. Selama Qing Shan tidak ada di istana, para penjaga memperketat penjagaan mereka, memperbanyak jumlah pasukan penjaga disetiap pos masing-masing karna apabila mereka lalai dalam bertugas,Qing Shan akan segera memenggal kepala mereka.
Jia Li menghampiri Zhi Ruo yang masih berdiri ditempatnya.
"Nona.. sebaiknya nona masuk kedalam, saya akan siapkan buah-buahan untuk nona"
"Baiklah"
Jia Li mengupaskan apel untuk Zhi Ruo, mereka duduk dalam satu sofa.
"Jia Li... maaf beberapa hari ini aku menemani Yang Mulia Raja, jadi tidak sempat untuk mengobrol denganmu"
"Nona tidak perlu minta maaf, itu sebuah kemajuan bagi nona... Yang Mulia Raja pasti sangat mencintai nona"
"Apa dinasti Han itu sangat kuat ?"
"Ya nona, dalam segi bertarung Yang Mulia Raja yang lebih unggul, tapi dalam segi pasukan mereka lebih unggul... maka dari itu Yang Mulia meminta bala bantuan dari dinasti Shun, dinasti Han juga terkenal sangat licik nona.. tapi nona tidak perlu khawatir karna Yang Mulia Raja pasti akan baik baik saja"
Zhi Ruo menunduk, walaupun khawatir Zhi Ruo percaya bahwa Qing Shan pasti akan menang dan pulang dengan selamat.