
"Kau mau membawaku kemana?"
"Aku butuh cermin, ayo kekamarmu saja"
Yingjie menggandeng tangan Liqin menuju kamarnya, para pelayan menunggu diluar.
Liqin duduk didepan meja rias sementara Yingjie berdiri tepat dibelakangnya.
Yingjie melepas jepitan rambut berbentuk bunga berwarna putih dikepala Liqin.
"Eh? kenapa melepasnya?"
Yingjie mengambil sesuatu dari saku celananya.
Yingjie memakaikan sebuah tusuk konde emas dengan hiasan berbentuk kupu kupu dengan permata merah di rambut Liqin yang setengah tergelung keatas.
"Bagaimana?"
"Cantik sekali, terimakasih Yingjie"
"Aku bisa memberikanmu yang lebih cantik dari ini asal kau ikut denganku ke dinastiku"
Liqin menghela nafas panjang lalu berdiri tepat menghadap Yingjie.
"Pangeran Yingjie sedari kecil selalu saja memaksa membawaku pergi"
"Hmm? Aku kan pernah bilang kalau aku akan menikahimu setelah dewasa nanti, dan kau setuju"
"Itu hanya perkataan kita waktu kecil, tidak ada yang serius"
Yingjie mendekatkan wajahnya dan menatap mata Liqin dengan tajam.
"Tapi aku serius"
Liqin sangat gugup sampai terduduk di meja riasnya.
"Umm...bukankah wajah kita terlalu dekat?"
Yingjie tersenyum memandang wajah Liqin yang memerah.
Cup
Wajah Liqin semakin memerah ketika Yingjie mencium pipi kirinya, ia terdiam kaku ditempatnya sementara Yingjie hanya berdiri menertawainya.
Yelu berkeliling istana sembari menunggu Liqin atau Li Liang memanggilnya.
Ia berhenti didepan sebuah pintu besar.
"Yelu"
"Yang Mulia Ratu"
Zhi Ruo tersenyum.
"Dimana Liqin?"
"Putri sedang bersama pangeran Yingjie Yang Mulia Ratu"
"Oh baiklah... emm apa yang kau lakukan disini?"
"Saya hanya berkeliling dan penasaran apa yang ada sibalik pintu besar ini Yang Mulia Ratu... maafkan saya"
"Ini ruang penyiksaan, sayangnya aku tidak bisa mengajakmu melihat lihat kedalam"
"Tidak apa apa Yang Mulia Ratu, terima kasih sudah memberitahu saya"
"Baiklah, aku kembali dulu.Tolong tetap jaga Liqin"
"Baik Yang Mulia Ratu"
Yelu memutuskan untuk menunggu Liqin didepan kamarnya, ia berjalan sembari bersiul pelan.Yelu mempercepat langkahnya begitu melihat Liqin yang baru saja keluar dari kamarnya, langkahnya terhenti ketika melihat pangeran Yingjie dibelakang Liqin.
Yelu terdiam,entah mengapa ia merasa tidak suka melihatnya.
Yelu masih saja terdiam di tempatnya memandangi wajah Liqin yang tertawa ceria bersama Yingjie, mereka berdua terlihat sangat serasi.
Yelu teringat pertama kali ia bertemu dengan Liqin.Ia sedang duduk di salah satu kedai, seorang pemuda tampan datang bersama seorang gadis cantik yang mempesona dengan tawa yang selalu menghiasi wajahnya.
Yelu terus memandangi wanita itu disudut ruangan sambil meminum teh buatan pemilik kedai.
Tak lama kemudian mereka pergi keluar kedai, Yelu memutuskan untuk mengikuti mereka sampai mereka pun berhenti di tempat menerbangkan lampion. Pemuda itu pergi mengantri untuk membeli lampion sedangkan gadis cantik itu berdiri sendirian.
"Kesempatan bagus" sahut Yelu dikala itu.
Yelu memanggil para pria pria yang sedang duduk bersama tak jauh darinya.
"Ini uang untuk kalian, pergi takuti gadis cantik dengan hanfu hijau itu, jangan sentuh dia sampai aku datang kesana"
Melihat jumlah uang yang Yelu berikan, pria itu pun menyetujui rencana Yelu dan melancarkan perannya.
Siapa sangka gadis itu benar benar ketakutan.
Dengan bangga Yelu menghampiri gadis itu sebagai seorang penyelamat.
Yelu memeluk gadis itu dan mengusir pria pria yang mengganggunya, gadis itu berterimakasih dan mereka pun berkenalan.
Yelu terus mengingat nama gadis itu, Liqin.. nama yang indah,pikirnya.