
Qing Shan memperketat penjagaan dalam istananya, sudah satu minggu sejak kejadian pembantaian itu.
Qing Shan duduk di sofanya bersama Zhi Ruo sambil menikmati teh herbal dan buah buahan.Tak lama kemudian, Liqin berlari masuk menerobos pintu kamar Qing Shan.
"Ibu... ayah.."
Zhi Ruo menaruh cangkir tehnya.
"Sudah ibu bilang, jangan berlari dan menerobos masuk seperti itu... kau ini kan seorang putri"
Liqin menunduk "Maaf ibu"
Qing Shan tersenyum "Kemarilah gadis kecil"
"Tidak!! aku bukan gadis kecil"
"Wanita dewasa tidak akan berlari sampai menerobos pintu seperti dirimu" sahut Qing Shan sambil meminum tehnya.
Liqin mengerucutkan bibirnya lalu duduk disebelah Qing Shan.
"Ayah... aku ingin jalan jalan ke kota"
"Tidak.. diluar sangat berbahaya"
"Ayah temani aku saja dan keselamatanku pasti terjaga karna ayah sangat hebat"
Zhu Ruo tertawa kecil "Haha... lihatlah putri cantikku ini sedang merayu ayahnya"
Qing Shan membelai rambut hitam Liqin.
"Baiklah.. tapi hanya sebentar"
Kota Anhui tidak terlalu ramai di siang hari, dan pada saat itulah Qing Shan mengajak Liqin keluar.
Liqin memakai hanfu dan juga cadar biru tuanya sesuai perintah Qing Shan agar tidak ada yang mengenali wajahnya.
Mereka menaiki kuda putih milik Qing Shan diikuti beberapa pengawal dibelakang.
Sesampainya di kota Anhui, Liqin menunjuk sebuah kedai ayam panggang dan mereka pun mampir kesana.
Kebetulan kedai itu masih sepi, tidak ada satupun pelanggan disana.Sang pemilik kedai segera berlutut mengetahui Qing Shan datang ke kedainya.
"Paman, aku ingin dua porsi ayam panggangnya, ayam panggang paman sangat enak"
"B.. baik tuan putri, terimakasih atas pujiannya"
Qing Shan dan Liqin duduk di kursi dekat jendela.
Tak lama kemudian, ayam panggang pesanan mereka datang, Liqin segera memakan ayam panggangnya sementara Qing Shan hanya memandangi putrinya yang dengan lahap memakan dua porsi ayam panggangnya.
BRUKK..
Suara hantaman keras terdengar diluar, Qing Shan segera berlari keluar dan mendapati para pengawalnya telah tewas begitu saja.
Liqin menyusul Qing Shan, ia menjerit ketika melihat darah berceceran diluar.
Qing Shan mendorong Liqin hingga terjatuh ketika seorang pria berpakaian serba hitam dengan cadar berlari dan mengayunkan pedang kearahnya.
Dengan cepat Qing Shan menarik pedangnya dan menangkis pedang pria itu.
Pria itu melompat mundur, para penduduk yang melihat segera berlari masuk kedalam rumah mereka masing masing karna takut akan menjadi sasaran pria misterius itu.
Qing Shan berlari menghampiri pria yang sudah pasti pelaku pembantaian itu.
Mereka bertarung dengan sengit, suara pedang terdengar nyaring di telinga. Pria itu bahkan mampu mengimbangi kecepatan Qing Shan dalam berpedang.
Bruakk...
Qing Shan menendang pria itu hingga jatuh terpental, namun pria itu dengan cepat berdiri dan kembali mencoba melukai Qing Shan menggunakan pedangnya.
Mata Qing Shan teralihkan dengan simbol yang ada pada pedang yang dipakai pria itu, simbol pedang milik kakek Yong yang berarti pria inilah yang mencuri pedang itu.
Pria itu menendang perut Qing Shan saat perhatiannya teralihkan.
Pria itu melompat, mengarahkan pedangnya kedepan dan hendak menusuk Qing Shan.Liqin yang melihatnya sontak menjerit, namun seorang pria datang dan menangkis pedang yang hanya beberapa inci lagi akan menusuk kepala Qing Shan.
Qing Shan mendongak, seorang pria berpakaian putih dengan rambut terikat dan juga anting besar berdiri dihadapannya, melindunginya.
Liqin menghela nafas lega dan tak percaya akan siapa yang dilihatnya.
"Yelu..."