
Keesokan harinya
Para penjaga membawa selir Peiyun ke depan istana utama.
Semua penghuni istana berkumpul disana, seperti biasanya mereka dipaksa untuk menonton Rajanya memenggal kepala orang yang bersalah, para selir pun ikut menonton.
Qing Shan telah siap, ia berdiri dihadapan selir Peiyun yang duduk membungkuk dihadapannya.Qing Shan menatap wajah Zhi Ruo yang ikut berbaris bersama yang lainnya, tidak ada rasa takut diwajah wanita itu,disaat semua orang menunduk, hanya Zhi Ruo yang berani mamandang Qing Shan yang hendak memenggal kepala selir Peiyun.
'Bagus... lihat aku, jangan tundukkan kepalamu.. lihat aku yang akan membunuh siapapun yang akan menyakitimu Zhi Ruo'
Sampai pada saat Qing Shan memenggal kepala selir Peiyun, Zhi Ruo masih saja memandanginya, menatap darah yang bercucuran dari kepala yang telah terpisah dengan badannya.Qing Shan menutup pedangnya dan meninggalkan mereka.
Semua yang berkumpul segera kembali ke tempat mereka masing masing, Zhi Ruo hanya diam ditempatnya.
Zhi Ruo masih saja menatap mayat selir Peiyun, ia merasa ketakutan memandang wajah Qing Shan yang terlihat menyeramkan ketika hendak membunuh seseorang,namun disisi lain ia semakin mengaguminya, mengagumi keberanian dan ketegasannya.
Ma Chou menghampiri Zhi Ruo
"Selir Zhi Ruo, Yang Mulia Raja memanggil anda"
Zhi Ruo hanya mengangguk dan pergi kekamar pribadi Qing Shan.
Ia melihat Qing Shan tengah berendam di bak mandi kayu nya, tidak ada pelayan yang membantunya.
"Kemari dan bantu aku"
"Baik Yang Mulia Raja"
Zhi Ruo menggosok punggung Qing Shan menggunakan kain dengan lembut.Terasa hening tanpa adanya percakapan sedikitpun, hanya suara air yang terdengar.
Selesai mandi, Zhi Ruo mengambil kain untuk menutupi badan Qing Shan.
Qing Shan berdiri didepan cermin sementara Zhi Ruo membantunya memakai hanfu hitamnya, lalu mulai mengeringkan rambut Qing Shan.
Zhi Ruo duduk di ranjang Qing Shan sambil mengeringkan rambut Qing Shan, Qing Shan hanya berbaring dengan paha Zhi Ruo sebagai bantalnya.
"Ibuku selalu melakukan ini padaku, ia mengeringkan rambutku sampai aku tertidur dipangkuannya" sahut Qing Shan dengan mata terpejam.
"Kalau begitu saya akan melakukan hal yang sama, Yang Mulia Raja silahkan tidur"
Qing Shan hanya tersenyum mendengar perkataan Zhi Ruo.
A Hua berada didalam mentri Ping, mentri Ping mengunci seluruh pintu dan jendela.
"Mentri Ping... terimakasih sudah membantuku"
"Agar saya bisa mendapatkan posisi permaisuri, saya akan melakukan apa saja agar menjadi ratu disini"
Mentri Ping hanya terdiam sambil duduk di sofanya. Ia tidak menyangka perempuan ini sangatlah licik, ia juga akan berhati hati agar tidak terjebak dengan tipu daya A Hua.
Malam harinya
Qing Shan membawa Zhi Ruo keluar istana, mereka menaiki kuda putih Qing Shan.Qing Shan menyuruh Zhi Ruo duduk didepan agar ia bisa memeluknya dari belakang.
Terpaan angin tidak membuat Zhi Ruo kedinginan karna Qing Shan yang memeluknya dari belakang, pertama kali baginya merasakan kebahagian seperti ini.
Mereka berhenti disebuah sungai yang berada tak jauh dari istana, mereka duduk di perahu yang tak terpakai.
"Disini sangat tenang bukan?"sahut Qing Shan sambil memandangi pemandangan sungai.
Zhi Ruo mengangguk "Ya.. disini sangat tenang...dan juga indah"
Qing Shan menatap mata Zhi Ruo sambil membelai rambut hitam Zhi Ruo.
"Zhi Ruo... bagaimana perasaanmu padaku?"
Zhi Ruo terdiam kaku, ia bingung akan menjawab seperti apa.Wajahnya memerah karna malu dan juga gugup.
"Sa..sa...saya..."
Qing Shan menarik tangan Zhi Ruo hingga Zhi Ruo jatuh kedalam pelukannya.
"Apa kau mencintaiku Zhi Ruo ? apa kau ingin aku menjadi milikmu?"
Zhi Ruo menatap wajah pria yang terlihat sangat tampan dengan cahaya rembulan yang menyinarinya, air matanya mengalir seketika.
"Saya... sangat mencintai Yang Mulia Raja..."
"Panggil namaku Zhi Ruo... hari ini saja, katakan kau mencintaiku"
"Qing...a..."
Zhi Ruo menghapus air matanya.
"Aku mencintaimu Qing Shan.. aku ingin kau menjadi milikku"
Qing Shan memeluk Zhi Ruo dengan erat, ia menutup matanya mengingat wajah ibunya yang saat ia masih berumur 5 tahun, ibunya membawanya kemari menaiki perahu yang sama sambil mengatakan 'Ibu mencintaimu Qing Shan, ibu menyayangimu'