
Liqin terdiam mendengarnya, ia memandang wajah Yelu yang terlihat tampan dengan rambut yang lebih rapi dari biasanya.
"Maaf" sahut Yelu kemudian.
Liqin mengangkat kedua bahunya " Hmm ? untuk apa ?"
"Karna tiba tiba mengatakannya, saya hanya takut tidak mempunyai kesempatan lagi untuk mengatakannya"
Liqin tersenyum "A..."
Tiba tiba beberapa teman Yelu dari suku Manchu datang.
"Ketua..." sapanya
Yelu mengepalkan tangannya, ia menoleh dan menatap empat temannya dengan tatapan membunuh.
"Oh... ada wanita cantik disini... hahaha maaf maaf, kalau begitu kami pergi dulu"
Yelu tidak menjawabnya, ia hanya terus memelototi mereka sampai mereka benar benar pergi.
Liqin menutupi wajahnya yang memerah dengan kedua tangannya.
Yelu menghela nafas panjang "Maaf.. mereka teman temanku...."
Yelu terdiam sesaat ketika melihat Liqin menutupi wajahnya.
"Putri Liqin... apa putri baik baik saja?"
Liqin menunduk "Umm... aa.. sebaiknya.. aku kembali, ayah pasti sedang mencariku"
"Mm..... baiklah"
Liqin *** pakaiannya 'Aaa.. aku malu sekali' pikirnya.
"Putri Liqin, ayo... saya antar" sambil menjulurkan tangan kanannya.
Liqin terdiam sambil memandangi tangan Yelu yang diarahkan padanya.
'Eh.. apa ini ? ada apa ini ? apa ini maksudnya kita akan bergandengan tangan ?' pikirnya dengan wajah memerah.
"Putri..?panggil Yelu.
Liqin *** pakaiannya.
"A..a.. lihat... ada kue ikan disana" sahut Liqin sambil menunjuk pedagang kue ikan.
Liqin berjalan cepat kesana, sementara Yelu hanya mengikutinya dari belakang.
"Paman... tolong dua kue ikannya"
"Silahkan nona"
"Terimakasih paman"
Liqin memegang kue ikannya dengan dua tangannya, ia sengaja menghindar agar tidak bergandengan tangan dengan Yelu.
Yelu hanya tersenyum melihat tingkah Liqin yang terlihat begitu gugup.
"Besok.. ada festival kue bulan disini, apa putri Liqin mau berkeliling bersama saya ?"
"Mm... b... baiklah"
Qing Shan melihat Liqin datang bersama Yelu.
"Teaternya sudah dimulai sedari tadi" sahutnya
"Maaf ayah..."
"Maaf atas kelancangan saya Yang Mulia Raja... saya yang membawa putri Liqin untuk membeli kue"
Keesokan harinya
Qing Shan dan Li Liang pergi keluar untuk menyapa para suku Manchu, sementara Zhi Ruo berbaring di tempat tidur penginapannya sembari memperhatikan putrinya yang sedari pagi kebingungan.
"Liqin... ceritakan saja pada ibu"
Liqin masih berdiri di samping jendela sambil memandangi kota Shenyang yang masih belum terlalu ramai.
"Ibu... bagaimana ibu bisa jatuh cinta pada ayah?" tanyanya
Zhi Ruo tersenyum mendengarnya, sekilas ia mengingat masa lalunya saat bertemu Qing Shan pertama kali.
"Ibu ... ?"
"Hahaha ( tertawa pelan ).... maafkan ibu... ibu tidak bisa menceritakannya"
"Apa? kenapa?... apa ibu malu ?"
"Tidak... bukan begitu. Hanya saja... terlalu banyak yang ibu dan ayahmu lalui... sulit untuk menceritakannya.."
Liqin memandang wajah ibunya dengan serius.
"Tapi aku ingin tau.. aku ingin tau masa lalu ibu.."
Seketika senyuman di wajah Zhi Ruo hilang, wajahnya terlihat sedih dengan mata yang menatap lurus ke arah lilin merah yang ada di meja.
"Ibu... tidak mau menceritakannya... masa lalu ibu... terlalu.. menjijikkan"
Liqin terkejut mendengarnya, ia bisa melihat setetes air mengalir di pelipis mata ibunya.
Liqin berjalan kearah Zhi Ruo dan memeluknya dengan erat.
"Maafkan aku ibu... maaf... seharusnya aku tidak bertanya hal itu, maaf membuatmu mengingat masa lalumu"
Zhi Ruo tersenyum lembut "Tidak apa apa... ini bukan salahmu.. seharusnya ibu menceritkannya padamu, tapi.. ibu tidak ingin putri cantikku ini mendengar cerita ibu yang...mm... bisa dibilang sangat buruk"
"Aku mengerti ibu... aku tidak akan bertanya lagi"
Zhi Ruo membelai rambut hitam panjang milik Liqin.
"Jadi... maukah kau bercerita pada ibu tentang masalahmu ?"
Liqin mengangguk pelan.
"Ibu... sebenarnya... semalam.. Yelu berkata padaku bahwa dia menyukaiku".
Zhi Ruo hanya tersenyum, sebenarnya ia sudah tau dari dulu saat ia berbicara dengan Yelu .
" Nanti sore Yelu mengajakku berkeliling, aku menyetujuinya..tapi aku takut ayah dan ibu marah"
"Untuk apa ibu marah... lagipula, bagaimana perasaanmu ? apa kau juga menyukai Yelu"
Liqin mengangguk pelan "Emm... ya.."
"Kalau begitu.. apa lagi yang membuatmu bingung ?''
"Bukankah seorang putri kerajaan hanya diperbolehkan menikah dengan pangeran kerajaan lain ? sementara Yelu bukanlah seorang pangeran"
Zhi Ruo memeluk Liqin.
"Emm.. dengarkan ibu, ibu akan menceritakan sedikit masa lalu ibu kepadamu"
Liqin menatap mata ibunya dengan serius.
"Kalau itu membuat ibu sedih... ibu tidak perlu menceritakannya"
"Ibu tidak sedih... karna ibu pikir... itu hanya sebuah masa lalu saja"