
Qing Shan meggendong Zhi Ruo yang sangat lemah, ia keluar dari gubuk lalu membawa Zhi Ruo menaiki kuda putihnya yang terikat di samping pohon.
Sepanjang perjalanan, tak henti hentinya ia menatap wajah Zhi Ruo.Rasa bersalah dan marah bercampur aduk dalam pikirannya.
Baru kali ini ia merasa gagal, gagal melindungi orang yang paling ia cintai. Perasaannya kini sama dengan perasaannya waktu kecil ketika kehilangan ibunya.
Air mata mengalir membasahi pipinya, memperlihatkan seluruh kelemahannya.
Daun daun mulai berguguran, tanda musim gugur akan segera tiba.
Sampai di depan istana, para penjaga membukakan gerbang untuk kaisarnya.
Hening seketika tatkala mereka harus melihat pemandangan raut wajah sedih kaisarnya untuk yang pertama kalinya.
Qing Shan berjalan dengan langkah gontai menuju kamarnya. Tabib istana datang membawa perlengkapannya.
"Yang Mulia Raja... saya akan mengobati Yang Mulia Ratu.. luka Yang Mulia Raja cukup parah, sebaiknya beristirahatlah dulu"
Qing Shan tak menjawab, ia duduk di sofa nya sambil bersandar dan menutup matanya yang terasa berat.
Salah satu pelayan membantu membersihkan luka Qing Shan dan menutupnya dengan kain agar tidak terjadi pendarahan.
Beberapa saat kemudian, setelah selesai mengobati luka Zhi Ruo, tabib segera menjahit luka Qing Shan, sementara pelayan membersihkan badan Zhi Ruo yang kotor terkena darah dan tanah.
Malam harinya
Qing Shan memakai jubah hitamnya yang tebal, ia memandang wajah Zhi Ruo yang tertidur lelap.Qing Shan mencium kening Zhi Ruo lalu berjalan keluar dari kamarnya menuju istana utama.
Li Liang dan Liqin berlari kecil menghampirinya.
"Ayah... apa ayah tidak apa apa? bagaimana dengan ibu?" tanya Liqin khawatir.
"Ayah dan Ibu baik baik saja... jangan khawatir" sahut Qing Shan dengan senyuman yang hangat agar kedua anaknya itu tak lagi khawatir.
"Syukurlah"
Mereka bertiga berjalan menuju istana utama bersama.
Penjaga membukakan pintu istana utama, mereka segera masuk di sambut beberapa orang disana.
Liqin menoleh kearah Yelu yang sedang berdiri tanpa memandang kearahnya.
'Apa lagi yang kuharapkan? sadarlah!!' pikirnya.
Kali ini Qing Shan tidak duduk di singgasananya, ia lebih memilih duduk bersama Yelu dan romobongannya.
"Salam dari kami suku Manchu Yang Mulia Raja" sapa De Wu ayah Yelu.
De Wu tertawa "Hahaha... saya sangat merindukan berlatih dengan Yang Mulia Raja"
Mereka berdua tertawa bersama sama mengingat kejadiannya dulu saat Qing Shan berlatih pedang dengan De Wu.
"Yang Mulia Raja... maafkan ketidaksopanan putra saya"
"Tidak apa apa... aku tidak mengira bahwa Yelu adalah penerusmu... hahaha... lagipula dia sangat membantuku, dia berkali kali melindungiku, aku sangat berterimakasih padamu Yelu"
"Terimakasih Yang Mulia Raja, maaf saya tidak berkata jujur"
"Tidak apa apa... De Wu sudah menceritakan alasannya padaku"
Setelah cukup lama berbincang bincang, akhirnya para suku Manchu pamit pulang.
Qing Shan kembali ke kamarnya karna ia harus banyak beristirahat agar lukanya cepat pulih.
Li Liang dan Liqin berdiri menunggu Yelu dan yang lainnya pulang.
Liqin bingung, ia ingin sekali meminta maaf sekaligus berterimakasih telah menyelamatkan Yingjie.
Liqin sungkan terhadap ayah Yelu, ia pun memilih diam .
Setelah selesai berkemas, Yelu dan yang lainnya menunggangi kudanya.
'Kumohon.. untuk terakhir kalinya tersenyumlah padaku...' pinta Liqin dalam hatinya.
Namun sayangnya, Yelu hanya pergi begitu saja tanpa memandang kearahnya sedikitpun.
Liqin menyentuh pipinya yang basah terkena air matanya, ia berlari pergi ke kamarnya.
"Liqin.."panggil Li Liang.
Yelu mengepalkan tangannya, bukan keinginannya untuk menghiraukan Liqin begitu saja, tapi itu perintah ayahnya.
De Wu bukanlah seorang kaisar, Yelu juga bukanlah seorang pangeran. Derajat mereka sangatlah jauh dan tidak sama, itulah alasan De Wu menjauhkan Yelu dengan Liqin.
Untuk terakhir kalinya Yelu memandang Liqin dari kejauhan.
'Dia menangis... ?'
Terasa sesak dadanya melihat Liqin menangis karnanya.
Yelu menatap langit malam yang tak menunjukkan satu bintangpun.
"Bahkan bintang pun tak mau memperlihatkan wujudnya"