GUIREN

GUIREN
Rahasia



Tiga hari telah berlalu semenjak kejadian kebakaran itu.


Qing Shan masih tidak dapat menemukan petunjuk apa pun.Pelaku pembakaran itu cukup ahli untuk menghilangkan jejaknya.


Li Liang terus mengawasi pergerakan Yelu, bahkan ia melarang Yelu untuk dekat dekat dengan adiknya, Liqin. Liqin sempat memprotesnya, namun ia tak bisa berbuat apa apa selain menurutinya karna Qing Shan pun ikut melarangnya berbicara dengan Yelu sebelum Yelu terbukti tidak bersalah.


Yelu berdiri di samping Bibin,kuda putih milik Qing Shan.


Ia membelai punggung kuda putih yang penurut itu sambil menikmati udara sore yang mulai dingin.


"Bibin... apa kau tidak bosan berada didalam istana terus menerus?apa kau tidak mau berlari bebas diluar?"


Yelu terdiam sejenak.


"Aku tidak suka dikekang, aku suka kebebasan.Apa jadinya aku kalau jadi kau bibin... terus berada didalam istana dan hanya keluar saat dibutuhkan"


Yelu tertawa kecil.


"Hahaha....cih.... apa aku sudah gila? bisa bisanya aku berbicara dengan seekor kuda.. bahkan sempat membayangkan bertukar posisi menjadi seekor kuda!! bodoh"


"Yelu"


Yelu menoleh seketika mendengar suara yang ia rindukan memanggilnya dari belakang.


"Putri Liqin ?"


Liqin berdiri tak jauh darinya, ia sangat merindukan wajah cantik dan imut itu.


Liqin tersenyum "Apa kau sibuk ?"


"Tidak... saya tidak sibuk"


Liqin duduk di bangku yang berada tak jauh darinya.


"Umm... aku.. hanya.. merasa kesepian. Kakak dan ayah sibuk, ibu juga begitu, kuharap kau tidak keberatan kalau aku..."


Liqin menghentikan perkataannya ketika Yelu tiba tiba saja memeluknya erat, lagi lagi jantungnya berdegup sangat kencang ketika bersama Yelu.


"Saya.....sangat merindukan tuan putri"


Liqin terkejut mendengarnya, jantungnya berdegup tak beraturan.


Liqin memberanikan diri, ia membalas pelukan Yelu.


"Maafkan aku"sahut Liqin dengan nada pelan.


Yelu melepas pelukannya, ia duduk ditanah yang ditumbuhi rerumputan hijau.


"Putri Liqin.... saya hanya berharap putri mempercayai saya... cukup itu saja, saya... "


Liqin menutup bibir Yelu menggunakan jarinya.


"Aku mempercayaimu Yelu,aku tau kau tidak mungkin melakukan tindakan keji seperti itu, jangan khawatir"


Yelu tersenyum lega.


"Terimakasih sudah mempercayai saya... ada satu hal lagi yang harus saya katakan"


"Saya... ada rahasia yang saya sembunyikan.. saya berjanji akan mengatakannya suatu saat nanti"


"Rahasia?memang kenapa kalau mengatakannya sekarang ? aku janji tidak akan marah ataupun menjauhimu"


"Tidak... saya belum siap... saya takut putri akan membenci saya ketika saya menceritakannya"


"Baiklah.... aku tidak akan bertanya lagi"


Yelu tersenyum, begitu pula Liqin.


"Putri Liqin, saya....saya suka.."


"LIQIN!!"


Li Liang menghampiri Liqin dengan wajah penuh emosi.


"Kakak"


"Pangeran..."


Li Liang menggenggam tangan Liqin.


"Jangan dekati adikku sebelum kau terbukti tidak bersalah"


"Kak!!! aku yang menyapanya terlebih dulu!! jangan membentaknya"


"Diamlah"


"Maafkan saya pangeran" sahut Yelu.


Li Liang tidak mempedulikan kata maaf dari Yelu, ia membawa Liqin kembali ke kamarnya meninggalkan Yelu yang hanya berdiri terdiam di samping kuda milik Qing Shan.


Liqin duduk di kursi meja riasnya, ia menopang dagunya dengan tangan kanannya.


"Rahasia..... apa yang dirahasiakannya?"


Tok tok tok


Seorang pelayan wanita masuk membawa makanan untuk Liqin.


"Tuan putri, saya membawakan makanan yang dipesan Yang Mulia Ratu untuk tuan putri"


"Aku tidak lapar"


"Tapi tuan putri melewatkan makan siang tuan putri, Yang Mulia Raja memerintahkan saya agar tuan putri mau makan, jika tuan putri menolak... saya akan mendapat hukuman"


Liqin menghela nafas dengan kesal.


"Baiklah...kau boleh pergi"


Pelayan menaruh makanan itu di meja dan bergegas keluar.


"Selalu saja mengancam akan memberikan hukuman.. haahh" gumam Liqin