
Setelah satu minggu menjalani hukuman, akhirnya Yelu boleh keluar dari kamar kayu membosankannya itu.
Dihirupnya udara pagi yang terasa lebih sejuk dari biasanya.
Daun daun mulai berguguran satu persatu sebagai tanda bahwa musim gugur telah tiba. Saatnya bagi para petani memanen tanaman mereka.
Seperti biasa, Zuyu selalu berlatih sendirian di tepi sungai kecil yang letaknya tak jauh dari desanya.Ia memakai pakaian berwarna merah cerah dan juga pelindung di bagian kepala, badan, tangan dan kedua kakinya.
Ia selalu ditugaskan untuk berjaga di sekeliling desa. Walaupun ia seorang wanita, ketangkasan dan kelincahannya tak kalah dari seorang pria biasanya.
KRAKKK...
Satu persatu bambu yang berada di depannya patah ditebas olehnya.
Zuyu merasakan seseorang datang dari arah belakang, ia melompat salto kedepan dan menjulurkan pedangnya kearah seseorang yang juga mengarahkan pedang padanya.
"Hmm.. lumayan"
Yelu tersenyum lalu memasukkan lagi pedangnya, begitu pula Zuyu.
"Apa kau mau berduel denganku ?"
"Hah?.... tentu saja tidak... aku tidak mau melukai seorang wanita"
"Hahaha... dasar... menyentuh sehelai rambutku pun kau tidak akan mampu"
Yelu memandangi bambu bambu yang berserakaj di tanah.
''Tsk.... apa kau berniat menebang seluruh bambu di sini?"
Zuyu duduk di salah satu batu besar yang berada di tepi sungai.
"Kakek memperbaiki tembok belakang rumah... aku mengambilkan beberapa bambu untuknya"
"Oh....hmm kalau begitu.. apa kau mau nanti sore bermain catur bersamaku ?"
"Apa hadiah bagi pemenangnya?"
"Haaaahh kau ini selalu saja begitu"
"Baik... baik... kalau begitu yang kalah dihukum oleh pemenangnya"
Beberapa jam kemudian
De Wu mengumpulkan seluruh penduduk desa atau para suku manchu untuk melakukan upacara penyerahan kekuasaannya kepada putra penerusnya, Yelu.
Semua orang berdiri menghormati De Wu, tidak ada yang berlutut karna De Wu melarang mereka, ia tak suka karna sesama suku manchu tidak akan ada perbedaan kedudukan bagi mereka.
Setelah melakukan berbagai ritual, De Wu mengambil besi benbentuk matahari yang menurut leluhur mereka memiliki arti suka membantu orang lain seperti pahlawan yang menolong orang yang kesusahan dimanapun dia berada.
Yelu melepas pakaian atasnya dan memperlihatkan badan berotot miliknya yang menawan. De Wu menempelkan besi panas itu di dada kiri Yelu, alasannya karna jantung manusia berada di sebelah kiri dan artinya sebagai ketua nanti ia akan melindungi seluruh suku manchu dengan nyawa sebagai taruhannya.
Yelu menahan rasa panas dan sakit di dadanya dengan menutup mata dan mengepalkan kedua tangannya.
2 detik kemudian De Wu menarik besi itu, sebuah bekas luka bakar yang akan menjadi tanda nantinya menghiasi dada Yelu.
Yelu resmi menjadi ketua suku manchu selanjutnya, semua orang bersorak gembira.
Setelah acara penobatan selesai, Zuyu menghampiri Yelu yang duduk di bawah pohon sembari membersihkan pedangnya.
"Ehem... sepertinya kita tidak jadi main catur"
Yelu mendongak.
"Kenapa?apa kau takut akan kalah dariku?"
"Tentu saja tidak... aku hanya kasihan, pasti kau kesakitan merasakan luka di dadamu itu" sahut Zuyu sambil sedikit tertawa.
Yelu melemparkan batu kepada Zuyu yang tentu saja Zuyu dapat menghindarinya dengan mudah.
"Kau kira hanya luka seperti ini sampai membuatku tidak bisa bermain catur ?"
"Hahaha.... aku hanya bercanda"
Malam harinya
Zuyu berjalan dengan wajah kesal, tidak ia sangka ia akan kalah dengan cepatnya oleh Yelu.
Yelu menghukum Zuyu untuk berdiri di sebuah batu besar di tengah hutan sampai besok pagi, dan dengan berani Zuyu menerimanya.
"Dasar... biasanya aku tidak pernah kalah dari Yelu.... cih.. padahal aku sudah menyiapkan telur ayam busuk sebagai hukuman untuk dia kalau kalah dariku" gerutu Zuyu.