
Mohon maaf untuk chapter yang kemarin, kalian bisa baca lagi karena sudah di revisi baru baca part yang sekarang
...🍒🍒🍒🍒🍒...
“ahh iya kenapa kak?” Sontak nanda yang terkejut.
Melvin tersenyum menatap wajah Nanda yang terlihat sangat polos saat terkejut, “mana kopernya? Mau bawa apa aja?” tanya Melvin.
“Ahh i-iya bentar ya kak” Nanda membiarkan Melvin masuk ke dalam kamarnya dan mengambil koper yang dia simpan, nanda tampak bingung memilih salah satu dari koper yang akan dia gunakan.
“kenapa gak keduanya aja di pakai?” tawar Melvin.
Tawa manis nanda terdengar, “Kebanyakan kak, nanti dikira aku pindahan”.
“Bawa aja, biar gak usah balik balik kesini lagi” ujar Melvin sambil tersenyum manis, sebenarnya pria itu sedang menyadari sesuatu, sejak tadi dia tau rumah itu tidak kosong, untung dia masuk bersama Nanda ke dalam rumah itu.
“ya udah deh, aku packing baju baju aku dulu ya kak” ujar nanda sambil membuka lemari bajunya.
“Hmmm” angguk Melvin, sejak tadi dia sibuk berkeliling kamar Nanda memeriksa ruangan itu, seperti orang yang takjub dengan tempat itu padahal sebenarnya Melvin sedang memeriksa apakah ada orang lain di kamar itu, tadi saat dia masuk ada beberapa pria yang bersembunyi di ruang tamu dan beberapa ruangan, mereka sepertinya sudah menunggu nanda untuk pulang kerumahnya, untung saja mereka semua tidak langsung menyerang, bukan karena Melvin tidak bisa melawan, pria itu takut nanda takut pada dirinya yang lepas kendali.
Melvin dan Ray sama sama memiliki sifat sedikit psikopat, kedua pria itu sama sama benci dengan penjahat, karena keluarga Melvin mati di tangan penjahat, Ray tidak dia anggap penjahat karena Ray hanya membunuh orang orang yang mengusik dirinya, apa lagi ray yang sudah menolong dirinya.
Melvin bisa hilang kendali saat melihat darah, tapi masih bisa terkontrol saat ada Ray atau bunda nya sendiri, dia bisa terlihat menakutkan saat membunuh orang, makanya dia takut nanda akan lari darinya.
“Kakak cari apa?” tanya nanda heran, karena pria itu terus melihat lihat keseliling kamarnya, dari balik gorden, balkon hingga kamar mandi, Melvin juga diam diam mengunci pintu kamar nanda tanpa gadis itu sadari.
“Ada air gak? Haus banget” bohong Melvin.
Nanda tertawa kecil, “di kamar mandi aku gak ada air buat minum kak, bentar nanda ambilkan dulu yang ada di dapur” Baru saja nanda hendak tegak, Melvin sudah menahan dirinya untuk berdiri.
“Gak usah, tadi aku sudah melihat dapurnya biar aja aku sendiri ke sana, kamu beresin aja baju baju mu paling cuma sebentar aku ambil minum” tahan Melvin.
Nanda mengangguk pelan dan kembali membereskan memasukkan baju baju dan keperluan lainnya ke dalam koper, “baiklah, nanti panggil aja aku kalau kakak mau minta yang lain”.
“oke” ujar Melvin cepat. “Jangan keluar dari ruangan ini ya” ujar Melvin lagi sebelum dia benar benar keluar dari pintu kamar.
“kenapa?” tanya nanda heran.
“Ya biar cepat selesaikan barang barang ini, jadi jangan hilang fokus untuk membereskan barang barang mu, dan nyalakan music yang kuat ya, soalnya canggung kalau gak ada suara music” kata Melvin membuat alasan yang tidak bisa di bantah nanda.
“bagus, yang rajin kerjanya” canda Melvin, tangan pria itu sudah bergerak cepat mengeluarkan kunci dari dalam kamar dan begitu keluar Melvin langsung mengunci pintu itu kembali, setelah itu dia mengeluarkan pistol yang biasa dia bawa, dan alat peredam suara pistol, jadi saat pistol di tembakkan tidak ada suara yang keluar dari pistol itu jadi Nanda tidak akan tau kegaduhan yang terjadi di bawah.
Tadi Melvin sudah memastikan dari balkon hingga kamar mandi, tidak ada orang yang bersembunyi, kemungkinan para penjahat yang menunggu Nanda tidak menyangka nanda akan pulang bersama orang lain, mereka mungkin sudah siap menyergap nanda di pintu masuk tapi semuanya gagal karena adanya Melvin.
Melvin berjalan santai menuruni anak tangga, dia tersenyum mengerikan melihat beberapa pria dari muda hingga tua sedang berdiri berjejer di bawah tangga, sepertinya pria pria itu sudah tidak mau menyembunyikan diri mereka lagi karena merasa menang jumlah.
“berikan gadis itu padaku, dan kamu akan selamat keluar dari rumah ini” ujar salah satu pria yang terlihat seumuran dengan ayah Melvin.
“kalau aku gak mau gimana? Udah tua masih saja buat masalah” balas Melvin tidak takut.
“Kamu tidak lihat apa yang kami bawa?” pria tua itu kembali berbicara, dan para pria yang bersama dia mengeluarkan beberapa buah pisau di tangan mereka masing masing.
“hahahhaha” Bukannya takut Melvin malah tertawa dengan suara pelan, dia sedikit melirik kearah pintu kamar Nanda yang tidak ada pergerakan di ganggang pintunya, “senjata kecil itu kalian pikir bisa melukaiku? Kenapa kalian mengincar dia?” lanjut Melvin, sebenarnya dia malas bertanya, tapi Melvin cukup penasaran dengan pria tua itu.
“Dia sudah memecat kami semua, seenaknya saja dia melakukan itu, dia harus diberi pelajaran” Ujar pria tua itu.
“Benar” angguk beberapa pria lainnya.
“Pertama itu salah kalian yang tidak bekerja dengan benar dan malah ingin menikmati tubuh majikan kalian, kedua sudah mending kalian dipecat tanpa hukuman sama sekali, jadi mau pergi secara baik baik atau aku yang bertindak” Tanya Melvin, tangan yang dia sembunyikan di dalam jas sudah menggenggam erat pistol yang sejak tadi dia sembunyikan, sangking kesalnya dengan para pria itu.
“kau yang akan mati di tangan kami!” bentak salah satu pria sambil mengangkat senjata tajam yang dia pegang.
‘shoot’ hanya dalam satu tembakan di kepala pria itu mati dan langsung terkapar di lantai dan sekarang darah sudah berceceran kemana mana.
Pria lainnya yang melihat kejadian itu langsung berteriak dan berlari, mereka tidak menyangka pria yang dibawa nanda akan membawa pistol dan sekarang salah satu dari mereka baru saja mati.
“Aaaaa, suara kalian terlalu keras, dia jadi sadar kan!” maki Melvin sambil kembali menembak kearah beberapa pria yang sudah berlari menuju pintu. Melvin melihat ganggang pintu kamar nanda yang bergerak naik turun, dia tau nanda sudah sadar, percuma dia membuat peredam suara kalau teriakan suara pria pria itu mampu mengalahkan suara pistol dan suara music yang di putar nanda.
Satu persatu pria berhasil Melvin tembak hingga hanya tersisa satu, yaitu pria tua yang terlihat sebagai pemimpin mereka semua.
“A-a-ampun tuan, to-tolong lepaskan saya” pinta pria tua itu dengan tubuh bergetar ketakutan, tidak menyangka pria yang dibawa nanda bisa sesadis itu.
“tidak mau, tadi aku sudah memberikan pilihan tapi kalian malah salah memilih jadi selamat tinggal” Melvin langsung menembak pria tua itu. Hanya satu tembakan pria itu langsung mati. “Yaahhh~ aku bagaimana cara aku membereskan semua kekacauan ini?” gumam Melvin sendiri, dia melihat badannya yang untung tidak banyak darah yang terciprat ke baju dan wajahnya.
...🍉🍉🍉🍉🍉...