Bodyguard Mafia

Bodyguard Mafia
55. Hadiah



Joy membuka pintu kamarnya bersamaan dengan Ray dan Melvin yang membuka pintu kamar mereka yang berada di depan kamar Joy.


“Ray! aku mau bicara!” ujar joy.


Ray tersenyum sambil mengangguk pelan, dia mengikuti joy masuk ke dalam kamar sementara Melvin menunggu di depan kamar joy, berjaga jaga siapa tau ada yang masuk ke dalam kamar joy.


Joy duduk di kasurnya sambil menyilangkan kaki, Ray yang melihat itu segera duduk di hadapan Joy seperti sedang menyembah ratu.


“Mana hadiah ku!” ujar joy sambil menengadahkan tangannya pada Ray.


“Nona sudah mendapatkan banyak dari tunangan nona, masih perlu hadiah dari saya?” goda Ray.


“Aku tidak meminta dia untuk memberikanku hadiah sebanyak itu! Cepat mana hadiahku! Sebentar lagi hari akan berganti!” gerutu joy kesal.


Ray mengulum senyumnya dan mengeluarkan sebuah bando biasa pada Joy, “saya tidak punya uang banyak saat ini, semuanya sudah saya keluarkan” bohong Ray.


Tangan joy dengan cepat meraih bando di tangan Ray, “assa! Ini milikku, tunggu disini sebentar” joy menepuk tempat tidur disebelahnya yang kosong. Setelah Ray duduk, gadis itu segera berlari ke dalam ruang ganti baju.


.


Tidak lama Joy keluar sudah menggunakan baju tidur dan bando yang diberikan Ray.


“Gimana? Cantikkan?” tanya joy, yang sudah berpose layaknya seorang model di depan Ray.


“Saya tidak melihat jelas, kemarilah nona” Ray menepuk pahanya sendiri meminta Joy untuk duduk di pahanya.


“Sedang menggodaku Ray?” tanya Joy curiga.


“Benar saya tidak melihat jelas, saya mau melihat wajah cantik nona lebih dekat” ujar Ray sambil kembali menepuk pahanya.


Tanpa banyak bicara joy duduk di pangkuan ray sambil merangkul leher Ray.


“Ternyata nona sangat cantik, bolehkah saya memberikan hadiah kedua?” tanya Ray.


“emang masih ada?” kata joy penasaran.


“Masih, emangnya hanya tuan muda Raynald saja yang bisa memberikan nona hadiah sampai bekali kali, saya juga bisa memberikan hadiah itu” ujar Ray.


“Kalau gitu berikan sekarang” ujar joy sambil kembali menengadahkan tangannya.


‘Cup’ Ray mencium bibir joy singkat dan memberikan senyum manisnya pada Joy, “apa nona suka hadiah dari saya atau tuan muda Raynald?”


“hmmm. . .” Joy berpura pura berpikir sambil melihat kedua tangannya.


‘Cup’ Sekali lagi Ray mencium singkat bibir Joy, “jika tidak cepat jawab aku akan mencium nona lebih ganas” ancam Ray sambil mengedipkan sebelah matanya.


“Siapa yang takut, aku justru suka, saaangat suka itu melebihi hadiah yang diberikan oleh tuan muda kaya itu” kata Joy sambil merangkul leher Ray dan menekan badan Ray agar mendekat padanya, kali ini giliran joy yang mencium bibir ray.


Suara decapan dari kedua orang itu terdengar cukup kencang, ke dua orang itu saling menyampaikan rasa yang mereka rasakan melalui ciuman mereka, ciuman yang awalnya lembut berubah penuh gairah, suara ******* sudah mulai keluar dari bibir Joy hingga Ray langsung menghentikan aksinya untuk mencium Joy, bagian bawah tubuhnya mulai terasa sesak karena sudah mulai tegang.


Joy mengulum senyum sambil menggeser pantatnya beberapa kali untuk memancing Ray.


“Nona hentikan! Saya bisa memakan nona jika nona terus melakukan itu” Ray menahan pinggang joy agar tidak bergerak lagi dan hanya menindih belalai nya yang akan bangun.


“Ini hukuman buat Ray!” gerutu joy.


“Ray mengatakan pada tuan muda itu, apa yang sedang aku inginkan” ujar joy kesal.


“tidak pernah nona” bantah Ray.


“Bohong! Kalau gitu bagaimana tuan muda itu tau barang barang yang aku inginkan” tantang joy.


‘bagaimana saya tidak tau, Raynald itu adalah saya’ batin Ray. “Saya tidak tau nona” bohong Ray.


“Bohong!” gerutu joy.


“saya tidak bohong nona”


“kalau gitu kenapa dia bisa tau apa yang aku inginkan?”


“Mungkin sangking Sukanya dengan nona, dia mencari tau tentang itu”.


Joy terdiam dan menunduk sambil cemberut mendengar jawaban Ray, “sekarang aku sudah benar benar tidak bisa lari dari dia ray” lirih Joy.


“kenapa nona mau lari dari dia? Apa nona sudah menyukai orang lain?” tanya Ray.


Joy mengangkat kepalanya dan menatap mata Ray dengan lekat, “Kamu sudah tidak menyukaiku lagi ray? apa kamu merasa tidak bisa menyaingi tuan muda itu?”


“Siapa bilang saya rela melepas nona pada pria itu, tapi nona saat ini saya ingin tau bagaimana perasaan nona pada saya, makanya saya menahan diri untuk tidak cemburu”.


“Ray…” panggil Joy pelan, dia mengambil nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya, “kamu tau semua orang yang aku cintai semuanya pergi menjauh dariku, dari keluargaku hingga cinta pertamaku, aku tidak mau ray juga menghilang” lirih joy.


“Apa itu artinya nona mencintaiku?” tebak Ray.


Joy menatap mata Ray lekat, ray tau arti tatapan mata itu, tapi saat ini dia butuh mulut joy berkata iya, maka dia akan mengunci joy saat itu juga.


“Saya bersumpah hanya nona yang saya cintai, justru saya takut jika nona mengetahui jati diri saya nona yang akan pergi dari saya, makanya saya ingin mengetahui perasaan nona yang sebenarnya” ungkap Ray.


Mata joy sedikit bergetar dan keningnya berkerut bingung. “Jangan pergi dariku ray, aku mencintaimu” ungkap joy akhirnya.


Ray tersenyum dan mencium joy lembut, kalimat joy barusan seperti lampu hijau buat Ray mengungkapkan semuanya pada gadis itu, tapi untuk saat ini dia ingin menyampaikan rasa cintanya yang menggebu gebu melalui ciuman. Ray mencium joy semakin dalam, nafas keduanya semakin memburu, tidak terasa joy dan Ray sudah terbaring di tempat tidur masih dalam keadaan bibir yang saling bertautan. Keduanya masih enggan mengakhiri momen itu. Ciuman manis yang berubah menjadi Hasrat gairah yang mulai naik, lidah keduanya mulai bertaut, suara decapan yang terdengar seperti melodi di telinga keduanya, dengan ciuman dalam dan membara tangan Ray mulai menelusuri pinggang joy menarik gadis itu lebih dekat, tidak menyisakan ruang sedikitpun.


“mmhhh. . . R-Ray” desah Joy keluar saat tangan ray sudah mulai masuk kedalam baju tidurnya dan menyentuh gunung kembar joy.


Ray melepaskan ciumannya perlahan, tapi tangannya masih memberikan pijatan pada gunung kembar joy, mata pria itu melihat gadisnya yang mulai seperti cacing kepanasan akibat sentuhannya.


“Joy… aku ingin mengatakan sesuatu.. “ ujar Ray pelan.


Mata joy yang tertutup menikmati sentuhan Ray kini terbuka perlahan, “hmmm?” bibirnya tidak sanggup mengeluarkan suara hanya dehaman yang keluar dari bibir joy.


...🍈🍈🍈🍈🍈...


Bonus pict