Bodyguard Mafia

Bodyguard Mafia
59. Uncle Lara dan Uncle leon



“Jahat! Ray jahat! Kenapa mempermainkanku!” gerutu joy kesal.


Ray menangkap tangan joy yang memukulnya lalu mencium jari jemari Joy, “Maaf sayangku, tapi hanya ini satu satunya cara untuk mendapatkan mu, aku tidak mau ada orang lain yang mengambil mu lebih dulu, makanya aku meminta keluargaku untuk melamar mu lebih dulu, sementara aku akan memperjuangkan cintaku untuk mendapatkan hati mu” ungkap Ray sungguh sungguh.


Joy berhenti marah dan kini wajahnya merona merah karena malu dengan ucapan yang baru saja Ray lontarkan untuknya. “Apa ada lagi?”


“Apa?” balik tanya Ray.


“kebohongan Ray! biar aku gak marah saat mengetahui kebohongan Ray yang selanjutnya!” gerutu joy dengan wajah yang tampak cemberut.


“hmmm, aku sudah mengatakan tentang aku sebagai ketua mafia, dan sebagai anak pertama dari brian, ahhh ! ada!” seru Ray.


“Apa itu?”


“aku pernah cerita kalau punya peliharaan kucing besar bukan?” ray mengingat ingat bahwa dulu dia pernah bercerita punya kucing besar di rumahnya.


Joy mengangguk anggukkan kepala menyetujui ucapan Ray, “lalu jangan bilang sebenarnya ray tidak punya peliharaan?” tebak joy.


Ray tertawa pelan dan menggeleng, “bukan itu, yang aku maksud bukan kucing yang biasa dipelihara manusia, tapi kucing yang ukurannya lebih besar, orang orang biasa memanggil kucing itu singa” ujar Ray santai.


Joy sempat terdiam beberapa saat sebelum memekik kencang karena ucapan Ray, “Singa?! Singa sungguhan bukan kucing mirip singa yang bentuk badannya besar?!”


Ray mengelus pipi joy dengan lembut, “benar singa asli”.


“Mau lihat!” pekik Joy semangat.


“Ya udah ayo kita pergi ke markas dulu, aku yakin sudah ada yang menjemput kita” Ray berdiri dibantu oleh joy, mencari Melvin yang pergi mencari pertolongan.


“Markas ray dimana?” tanya joy penasaran.


“Nanti kamu tau sendiri” jawab Ray.


.


Memang benar apa yang dikatakan oleh Ray, Melvin sudah tampak berbicara dengan dua orang pria asing yang tampak seumuran daddy Brian.


“Hai jagoan, bagaimana bisa jatuh ke jurang lagi” seru Lars.


Ray tersenyum dan tertawa membalas ucapan sahabat daddy brian itu. “Waaahhh Ray merasa terhormat uncle Lala dan uncle Leon yang datang” kekeh Ray.


“Dasar bocah, cepat ke markas johan sudah menunggu, siap siap kena omel sama dia” ledek Lars.


Ray mengangguk dan menggandeng tangan gadis kecilnya menuju mobil yang sudah dibawa oleh lars dan Leon.


.


Selama perjalanan Ray hanya diam tidak bicara apapun dia memang memejamkan mata tapi tidak tidur, kondisinya bisa tambah parah jika pria itu tertidur makanya dia mengistirahatkan diri dengan memejamkan mata.


“Sudah dapat pelakunya Mel?” tanya Ray tiba tiba.


“Tenang aja, daddy mu yang sudah mengurus semuanya” jawab Lars yang kebetulan satu mobil dengan mereka.


Mata Ray yang tadinya tertutup kini terbuka,”kenapa harus daddy yang turun tangan, ini masalah Ray!” amuk Ray tidak terima dengan keputusan daddy brian yang diambil secara sepihak.


Joy yang duduk tepat disebelahnya sedikit tersentak mendengar suara amukan Ray, ini pertama kalinya Ray bisa terlihat mengerikan.


“Ray, lihat gadis kecilmu terkejut! Kamu masih kalah dari daddy brian yang bisa menjaga ekspresi dan emosinya di depan mommy ay dan Ratu” tegur Lars yang melihat Joy tampak ketakutan. Memang Ray agak sulit mengatur ekspresi wajahnya berbeda dengan Brian.


Ray langsung melihat joy dan memeluknya saat itu juga, “maaf sayang, maaf ya jangan takut denganku” ujar Ray sudah dengan suara yang lembut.


...🍎🍎🍎🍎🍎...


Baru saja Ray sampai di depan markasnya, dia sudah melihat johan berdiri tegak di depan pintu lengkap dengan pakaian dokter yang biasa dia gunakan.


“Ray! kita keruang operasi sekarang!” ujar johan dengan suntikan di tangannya.


“sebentar Uncle” Ray menunduk untuk menatap gadisnya yang masih tampak terkejut dengan wilayah markas Ray yang berada di tengah hutan, “Sayang, ikut sama Melvin dulu ya, aku hanya melakukan operasi bentar, nanti aku menyusulmu” ujar ray lembut pada sang kekasih.


“Kemana?” Joy akhirnya mengeluarkan suara setelah lama diam sejak pertemuan dengan 2 uncle tampan Lars dan Leon.


“Ke rumah utama bentar aja, maukan?” tanya Ray sekali lagi.


Joy mengangguk menyetujui permintaan Ray, akhirnya gadis itu mengikuti Melvin yang kembali masuk ke dalam mobil mengantarkan Joy menuju mansion keluarga Marcello, karena memang markas dan mansion itu tidak terlalu jauh hanya berjarak 20 menit menggunakan mobil.


Sementara itu Ray langsung dibawa menuju ruang operasi oleh johan, dan pria itu mendapatkan 27 jahitan, lukanya ternyata sangat dalam untung saja tidak ada otot yang putus,


.


“Hai cantik! Ayo masuk” Begitu joy sampai dia langsung disambut oleh mommy ay dan Ratu, ada juga saudara saudara Ray yang lain tapi tidak seheboh mommy Ay.


“Selamat siang tan” sapa Joy canggung.


“Jangan canggung gitu, panggil mommy aja, ayo cepat masuk” ajak mommy ay sekali lagi.


Begitu Joy mendekat mommy ay langsung memeluk gadis itu dan mencium kedua pipinya, “untung kamu selamat, kamu pasti ketakutan ya” ujar mommy ay sambil mengelus lembut pipi Joy.


Entah karena pelukan atau sapuan lembut pada pipinya Joy mulai terisak kecil sambil memeluk mommy Ay.


“iya iya nangis aja, mommy tidak akan melarang, kamu pasti ketakutan jika dalam posisi itu” ucap mommy ay berusaha membuat joy menjadi tenang.


Perlahan mommy ay mengajak gadis itu duduk di sofa dan tersenyum hangat padanya, “udah selesai nangisnya?” goda mommy ay.


Joy tersenyum canggung karena malu, “udah mom, maaf udah bertingkah kekanakan” gumam joy pelan.


“Gak apa apa, wajar orang seperti kamu pasti ketakutan, tapi kamu tidak takut dengan putra mommy kan? Setelah mengetahui semuanya?” selidik mommy Ay.


Joy menggeleng pelan, “enggak mom, joy justru merasa senang karena mendapat perhatian dari Ray” ujar Joy.


“bagus dong, berarti kamu mulai sekarang tinggal sama mommy aja, mommy dengar keluarga kamu sedang tidak ada di rumah, mommy janji akan memperhatikan kamu” ujar mommy ay.


“iya, baik mom” jawab Joy masih sedikit canggung.


.


“Hebat kamu menahan diri Ray! untung saja kamu masih hidup” puji Johan, pria itu sudah merapikan alat alat yang baru saja digunakan untuk menjahit luka Ray.


“Luka segitu kecil, aku bahkan pernah terluka di bagian perut, jika uncle lupa bisa aku ingatkan” kekeh Ray.


“ahh benar juga itu suatu keajaiban kamu masih hidup, untung saja otot perut kamu tebal, hahhaha” ledek Johan.


Sedang asik berbincang dengan Johan, Ray teralihkan karena mendengar suara ribut dari depan pintu mansion. Ray berjalan menuju pintu dan menatap bingung pada pria bule yang sudah babak belur dan tersungkur di kaki daddy brian.


“Apa dia orangnya dad?” tanya Ray.


...🍉🍉🍉🍉🍉...