
“Apa dia orangnya dad?” tanya Ray.
Mendengar suara Ray, brian menoleh dan tersenyum pada putranya, “ya, dia yang berniat untuk menculik gadis mu, daddy sudah membunuh semua anak buahnya, dan tersisa dia sebagai bos, daddy dengar kamu marah karena daddy yang bertindak, makanya daddy bawa dia kesini, terserah mau kamu apakan” ujar brian.
Ray berjongkok di depan pria yang sudah tidak tampak lagi bagaimana bentuk wajahnya, pria itu hanya menggunakan celana jinsnya tidak memakai atasan karena baru saja mendapatkan jahitan di punggung jadi dia hanya menggunakan perban untuk menutupi sebagian badannya.
Tangan brian mengangkat dagu pria itu untuk melihat wajahnya lebih seksama.
“am-ampun tu-tuan” ucap pria itu berkali kali, dia tidak pingsan karena setiap dia pingsan dia akan langsung dibangunkan oleh brian.
“Kamu mengenalnya Ray?” tanya daddy brian.
Ray menggeleng, “Hei! siapa yang menyuruhmu untuk menjebakku?” ray menepuk pipi pria itu dengan kuat hingga sekali lagi pria itu harus batuk mengeluarkan darah.
“santai ray, kalau dia mati kita tidak bisa menggali siapa yang melakukan itu” tegur Lars.
“Tidak akan mati, uncle tenang saja” sahut Ray.
‘plak’ sekali lagi ray memukul pipi pria itu dengan kuat, “aku tanya siapa yang menyuruhmu!” pekik Ray.
“Sa-sa-ya sen di ri tu an” ucap orang itu terbata.
Daddy brian tertawa keras, “tadi daddy sudah dengar dia juga bilang dia yang melakukannya sendiri, mau daddy bunuh tapi daddy dapat kabar kalau kamu mengamuk, ya daddy bawa kesini, jawaban yang kamu terima juga sama dengan yang daddy dengar”.
‘Buk’ kali ini Ray memukul perut pria itu dan kembali membuat pria itu memuntahkan darah, “Kenapa?! Apa alasannya!”
Lars, brian, johan, leon dan yang lain hanya bisa geleng geleng kepala liat Ray mengintrogasi orang itu.
“sebelas dua belas sama elo bro” bisik Lars.
‘Buk’ sekali lagi Ray memukul karena tidak ada jawaban dari pria itu. “Aku tanya kenapa!”
“Sa-ya ing in men da pat kan wa ni ta i tu” ucapnya terbata.
Ray hendak melayangkan satu pukulan lagi tapi segera ditahan johan, “sabar ray, dia bisa mati sebelum kamu sempat bertanya, setiap mau mengajukan pertanyaan dia harus kamu pukul, liat nafasnya sudah satu satu, sebaiknya kamu duduk sana biar uncle yang interogasi” tegur Johan, tangannya sedikit sakit karena menahan tangan Ray. ‘padahal sedang dalam obat bius tapi tenaga anak brian masih saja kuat’ batin Johan.
“sini ray, lukamu masih baru di jahit itu jangan di gunakan dulu tangannya bisa terbuka lagi tu jahitan” tegur lars.
Ray akhirnya mengalah dan duduk di dekat daddy nya, “uncle, tanyakan dari siapa dia kenal joy” seru ray terkesan dingin.
Johan mengangguk dan mulai bertanya pada pria yang sudah kesakitan itu, johan yakin limpanya pecah dan ada beberapa bagian organ dalamnya yang pecah, jika tidak di operasi secepatnya dia akan meninggal.
“Te man di club, __” sebelum pria itu melanjutkan ucapannya darah segar menyembur dari mulutnya dan dia mati saat itu, johan memeriksa nadinya dan kepala pria itu menggeleng pelan.
“udah mati, kan udah uncle bilang, dia bisa mati kalau di introgasi cara barbar begitu” ujar johan.
“mana ray tau, ray pernah babak belur seperti itu, tapi sampai sekarang masih hidup” balas Ray acuh.
“Namanya Elard, dia ketua mafia yang baru terkenal 5 tahun ini di LA, dagangan utamanya adalah wanita wanita asia, makanya dia ada di Indonesia untuk mencari wanita wanita dengan kulit eksotis, mungkin dia tidak sengaja melihat gadis mu di club dan jatuh hati, siapa yang mengira, wanita itu punya bodyguard mafia di sampingnya, bukannya mendapatkan apa yang dia mau, dia malah mati” jelas Lars panjang lebar sebelum Ray mengamuk karena semua pertanyaannya masih belum terjawab.
“daddy yakin sudah membunuh semuanya?” sindir Ray.
“iya siapa tau ada yang kelewat, ya udah kalau gitu” ujar Ray acuh dia segera beranjak dari duduknya dan pergi dari ruangan itu.
Brian geleng geleng kepala lihat tingkah putranya, “anak siapa sih itu” gerutu brian.
...🍊🍊🍊🍊🍊...
Ray masuk ke dalam kamar Joy begitu sampai di mansion milik keluarganya, gadis itu terlihat tertidur nyenyak sambil memeluk bantal guling. Ray mendekat menyingkirkan bantal guling yang digunakan Joy dan menjadikan dirinya sebagai bantal guling untuk joy.
‘cup cup cup cup’ berkali kali Ray menciumi bagian wajah Joy hingga membuat gadis itu terusik dari tidurnya.
Perlahan mata indah itu terbuka, “hmm udah pagi?” tanya joy serak.
Ray menggeleng, masih malam sayang” jawab Ray sambil kembali mencium bibir joy berkali kali.
“mmmhhhh, ray!” tolak joy, gadis itu mendorong dada Ray, agar tidak menciumnya dulu.
“Aku merindukanmu sayang” bisik Ray tepat di telinga joy. Membuat gadis itu merinding dan membuka matanya lebar.
“Kamu sudah tidak apa?! Kenapa lama?” seru joy yang baru sadar Ray sudah ada di dekatnya.
“Ada beberapa urusan mendesak, jadi perlu diselesaikan dulu, boleh aku menciummu lagi” bisik Ray.
Joy tidak mengeluarkan suara hanya menjawab dengan anggukan dan itu langsung disambut Ray dengan mencium lembut bibir gadisnya. Ray mulai menggigit kecil bibir joy menikmati pembukaan yang sudah lama dia harapkan.
“mmhhh” ciuman itu semakin intens dan panas, Ray mulai menggunakan lidahnya untuk melilit lidah Joy, keduanya baru melepaskan ciuman mereka setelah nafas mereka sama sama habis.
Ray tertawa pelan dan mencium kening joy lembut, “Joy, marry me, please” bisik Ray.
Mata joy yang sayu kini kembali terbuka lebar.
“Aku tidak sedang bercanda sayang, aku ingin menikah denganmu secepatnya” ujar ray berusaha meyakinkan Joy.
“Bisa beri aku waktu, ini semuanya serba cepat bagiku, aku masih belum bisa mencerna semua yang terjadi saat ini, semuanya bagai mimpi dan aku takut terbangun dari mimpi indah ini” lirih joy.
Ray mengangguk dan kembali mencium kening joy, “tidak apa, aku siap menunggu kapanpun juga, seperti permintaanmu” ujar Ray lembut.
Joy kembali membaringkan dirinya dan memeluk tubuh Ray, “Aku akan menjawab iya, tapi aku belum siap langsung menikah, maafkan aku ray” kata joy.
Ray kembali mengangguk, “iya tidak apa sayang, aku siap menunggu kapanpun kamu siap, tapi bisakah kita melakukan malam pertama kita sekarang saja, bukankah kamu kamu memberikan mahkotamu padaku biar tuan muda Raynald tidak mau menikah denganmu” canda Ray.
Joy memukul dada Ray dengan pelan, “ray! jangan bercanda” kekeh Joy.
Dua orang itu asik bercanda hingga mereka tertidur dengan keadaan berpelukan seperti sepasang suami istri.
...🥭🥭🥭🥭🥭...
bonus pict