
Ray terbaring di tanah sambil tertawa, para penjahat sudah pada terkapar di sekeliling Ray, ada 2 orang yang memang sengaja Ray biarkan hidup tapi mereka tidak bisa bergerak sama sekali karena kaki dan tangannya sudah di patahkan oleh Ray.
“waahhh sudah lama aku tidak berolah raga, hahahha” gumam Ray, badannya sudah penuh bercak darah bukan dari dirinya tapi dari para penjahat yang sudah dia buat mati dan babak belur. “Keluar kalian, urus mereka semua” gumam Ray lagi.
Dari dalam hutan keluar beberapa pria berbadan tegap dan langsung menunduk pada Ray. “Bos tidak apa?” tanya salah satu orang yang berada di dekat Ray.
“Ambil kan air tidak mungkin aku seperti ini menemui gadisku” ujar Ray sambil mendudukkan dirinya di tanah.
“baik bos” pria itu kembali kedalam hutan dan beberapa saat kemudian datang membawa beberapa botol air di tangannya.
“jack! Bantu Melvin di kantor polisi dan pindah tugaskan beberapa polisi yang tadi menghalangiku” gumam Ray lagi pada salah satu anak buahnya. Ray masih sibuk menyiram tangan dan wajahnya yang sudah terkena cipratan darah dari para penculik.
“baik bos” angguk Jack salah satu anak buah Ray.
“Dan yang masih hidup bawa ke penjara bawah tanah, introgasi dia sampai dia mengatakan siapa yang menyuruhnya” ujar Ray. bajunya sudah tidak dia kenakan lagi, hanya celana saja yang melekat di badan itu. “kau!! Buka bajumu” perintah Ray pada salah satu anak buah yang memiliki postur badan mirip seperti dirinya.
Tanpa bertanya lagi dia membuka baju dan langsung memberikan pada Ray, para anak buah Ray tampak kagum dengan kehebatan ray dalam menangani para penjahat yang menyerangnya.
Mereka semua sudah sadar kehadiran Ray sejak mobil Ray masuk kedalam hutan itu, mereka memang tidak keluar karena takut Ray akan mengamuk, dan hanya keluar jika Ray sudah menyuruh keluar, seperti penjaga bayangan para anak buah ray semuanya bersembunyi dan menonton pertarungan yang dilakukan bos mereka.
10 lawan 1, namun 10 orang itu tidak ada yang berhasil memberikan luka pada Ray satu goresan pun, bahkan tidak ada lebam ataupun tembakan peluru, entah seperti apa Ray melawan mereka, tapi pertarungan itu cukup membuat para anak buah Ray bergidik ngeri karena melihat kesadisan ray.
Tidak ada belas kasih dan rasa kasihan, Ray benar benar menghabisi mereka tanpa ampun. Semua tidak ada yang menyangka wajah malaikat seperti ray bisa berubah mengerikan layaknya iblis.
Ray melirik kearah mobil dimana joy berada, lalu melihat para anak buahnya yang sedang membereskan para penjahat. “Jangan ada yang membuat suara, mati kan alat penghapus sinyal dan jangan menggangguku” ujar Ray sambil berjalan menuju mobilnya.
“baik bos” jawab para anak buah serentak.
‘tok tok tok’ Ray mengetuk jendela mobil itu, tapi tidak ada yang terjadi, membuat ray tertawa pelan.
“good job Joy” kekeh Ray dan kembali mengetuk kaca jendela itu sekali lagi.
“. . .” masih tidak ada respon dari dalam, Ray tidak ingin gadis itu semakin ketakutan, dia melirik kebelakang nya, dimana semua mayat penjahat sudah tidak ada yang tersisa hanya bercak darah yang tersisa di tanah, para anak buah Ray juga sudah bersembunyi kembali. Setelah yakin tidak ada yang membuat gadisnya trauma ray mengambil ponsel dari dalam sakunya, dan menelpon joy yang ada di dalam mobil.
.
Di dalam mobil Joy masih menutup mata dan telinganya, bibirnya terus bergumam, ‘semua akan baik baik saja’ hanya itu ucapan yang keluar dari mulutnya. Badan gadis itu bergetar karena ketakutan, dia sudah tidak mendengar apapun dari luar, namun Joy masih tidak berani melihat apa yang terjadi, gadis itu masih ketakutan dan tidak berani membayangkan apa yang terjadi di luar sana.
Bahkan ketukan di jendela pun masih dia abaikan. Joy baru tersadar saat dering ponselnya berbunyi, gadis itu mengernyit bingung karena ponselnya sudah bisa menerima telepon. Cepat cepat Joy mengangkat telepon itu.
📲“Dari luar nona, semuanya sudah selesai, tolong buka pintu nya” kekeh Ray. Tidak habis pikir begitu teleponnya di angkat pertanyaan yang di ajukan Joy begitu absurd.
Tanpa menunggu lagi Joy langsung membuka pintu mobil, tapi belum sempat gadis itu keluar Ray sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil.
Joy yang melihat Ray langsung memeluk pria itu dan menangis kencang, mungkin karena terlalu ketakutan Joy jadi menumpahkan ketakutannya pada Ray. Ray sendiri hanya bisa mengelus punggung Joy dan berusaha menenangkan Joy. Pria itu mengangkat tubuh Joy hingga gadis itu duduk di atas pangkuannya, membiarkan Joy menangis di dadanya.
‘baru seperti ini sudah membuatmu takut, bagaimana jika kamu tau tentang kehidupanku yang sebenarnya, apa kamu bersedia untuk tetap di sisi ku?’ batin Ray.
“Nona~ sudah saya bilang kan selama saya masih hidup, tidak akan ada yang bisa menyakiti nona” ujar Ray pelan, sambil terus mengelus punggung Joy.
“hiks hiks ta-tadi- pi-pis-tol, hiks hiks ra-ray bi-bisa sa ja ma ti, hiks hiks” Joy berucap tidak jelas, gadis itu masih sangat ketakutan karena baru pertama kali melihat pistol bahkan itu di depan matanya sendiri.
“Tidak apa, coba lihat apakah saya terluka?” Ray kembali berusaha menenangkan Joy.
Joy sedikit menjauh dari dada Ray untuk melihat keadaan Ray, Mata gadis itu melebar begitu melihat bercak darah di leher ray. “Ray berdarah! Hiks hiks” joy kembali menangis kencang sambil memegang leher Ray yang ada darahnya.
“Tidak nona, ini bukan apa apa, ini bukan darah saya” Ray kembali berusaha menenangkan Joy tapi gadis itu masih menangis kencang.
‘Cup’ Ray mencium bibir Joy dan itu berhasil membuat Joy terdiam.
Hanya sebentar ciuman yang diberikan Ray, karena memang tujuannya untuk membuat Joy diam. “Lihat nona” Ray menggunakan tangannya untuk menghapus jejak darah yang masih tersisa di lehernya, “bukan darah saya kan? Saya tidak terluka sama sekali” lanjut Ray.
Joy mengangguk pelan, sekarang gadis itu hanya terisak sambil menunduk malu.
“Boleh saya mencium nona lagi?” tanya Ray pelan.
Joy diam beberapa saat sebelum kepalanya mengangguk pelan, entah kenapa Joy ingin merasakan kembali ciuman dari Ray, ciuman itu bisa membuatnya tenang dan merasa dicintai, Joy yang kekurangan kasih sayang jadi mudah untuk jatuh cinta pada orang yang memberikan kasih sayang padanya.
Ray mendekat kan wajahnya pada Joy, menekan tengkuk Joy agar ciumannya semakin dalam, Pria itu benar benar memanfaatkan kesempatan yang baru saja Joy berikan padanya. Dari ciuman yang lembut berubah menjadi ciuman yang penuh gairah namun penuh kehati hatian, Ray takut jika dia terlalu agresive Joy akan menjauh darinya.
Tanpa sadar Joy merangkul kan tangannya pada leher Ray, Joy berusaha mengimbangi Ray yang terlihat ahli dalam berciuman, walau gadis itu terlihat canggung dalam membalas ciumannya, ray tetap memberikan kesempatan pada Joy untuk melepaskan ciumannya beberapa kali untuk mengambil nafas.
Semakin lama ciuman itu terjadi Ray mulai semakin agresive, dia mulai memasukkan lidahnya dan membelit lidah Joy, gadis itu sedikit tersentak dan berusaha menjauh, tapi ray menahan badannya dan terus mencium Joy hingga gadis itu pasrah dengan apa yang dilakukan oleh Ray.
...🍓🍓🍓🍓🍓...