
...Welcome the Alpha Female✨...
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
Kelas nampak sedikit gelap. Seorang Guru, sedang menjelaskan materi di depan Kelas, dengan sebuah layar. Aizha yang sedang tidak fokus belajar, terkejut. Lampu Kelasnya, tiba-tiba dihidupkan. Sang Ketua Kelas, juga terlihat membagikan lembar soal pada tiap Murid
Mata Aizha terbelalak, melihat soal ekonomi yang tidak dimengerti olehnya dan juga tabel besar. Banyak sekali kolom yang membuatnya bingung. Beberapa Murid, nampak langsung mengerjakan soal itu dan ada juga yang diam atau celingak-celinguk, mencari jawaban.
Kepala Aizha mulai pusing. Soalnya, memang terlihat mudah. Tapi, kenyataannya tidak. Ekonomi sangat membutuhkan pemahaman dan ketelitian. Sangat jarang, Murid akan langsung mendapatkan nilai seratus pada pelajaran ini. Apalagi, jika satu kolom salah. Alamat, nilai bakalan jelek dan kepala pening.
Aizha pun mengaktifkan item cerdasnya, untuk menjawab soal-soal itu. Pilihannya untuk menggunakan item ini, memang sangat tepat. Meskipun dia, baru saja pingsan. Tangannya dengan cepat, menulis kalimat dan memasukkan angka pada kolom, dalam hitungan detik. Beberapa menit kemudian, Aizha telah menyelesaikan soal tersebut, hingga sang Guru terkejut.
"Kamu yakin?" tanya Guru Ekonomi, memastikan.
Aizha menganggukkan kepala, yakin. Dia pun memberikan selembar kertas pada Guru itu. Terlihat, sang Guru sedang fokus memeriksa jawaban Aizha. Benar saja, hasil jawaban Aizha sempurna. Sang Guru terkejut dan memujinya, hingga membuat para Murid, heran.
"Yang bener, Bu? Jawaban Aizha, betul semua?" tanya Siswa berkaca mata dan diangguki oleh sang Guru.
"Iya," sahut Ibu Guru, mengiyakan. "Ohh iya, Ibu ada perlu sebentar. Soal itu, Ibu tunggu sampai jam sekolah selesai. Bagi yang nggak mengumpulkan, Ibu akan anggap kalian tidak mengerjakan, alias kosong!" pesannya dan pamit pergi, meninggalkan kelas.
Aizha pun kembali ke bangkunya dan duduk. Para Murid, langsung menghampiri Aizha semua dan minta, untuk dijelaskan. Aizha nampak malu dan terharu. Dia tak menyangkan, hal ini benar-benar terjadi padanya.
Salah seorang Siswa berkaca mata tadi, memberikan saran. Jika Aizha, lebih baik menjelaskan di depan Kelas, supaya para Murid semuanya bisa tau. Aizha pun setuju dan berjalan ke depan Kelas. Dia menjelaskan materi tersebut dan bantu menjawab, pertanyaan dari beberapa Murid, yang masih tak mengerti.
Canda tawa, juga sempat pecah, ketika menjawab soal bersama-sama. Bisa-bisanya, Aizha yang sudah menjelaskan berulang kali. Masih ada Murid, yang tak mengerti. Salah orang cowok pun memberitau, dengan cara yang sangat lucu. Hingga keduanya pun berdebat. Siapa saja yang mendengar dan melihatnya, pasti akan tertawa.
...<\=>...
Bel pulang Sekolah pun, terdengar sangat nyaring. Para Murid langsung berhamburan keluar dari Kelas. Terlihat di Kelas Aizha, para Teman sekelasnya, melambaikan tangan dan pamit pada Aizha.
Aizha nampak begitu senang sekali. Dia tak menyangka, hal seperti ini benar-benar terjadi padanya. Dia pun pergi dan tak sengaja, melihat Cantika yang sedang dipaksa oleh Bela serta temannya, untuk piket sendiri. Nampak, Cantika tidak terima dan meminta mereka, untuk piket bersama. Namun, Bela mengancam Cantika.
Aizha yang telah bersembunyi di balik dinding, memincingkan mata. Dia penasaran, dengan isi handphone Bela. "Sial! Dia nunjukin apa ya, ke Cantika? Kenapa Cantika langsung nurut?" batinnya, bertanya-tanya.
Melihat Cantika yang membersihkan kelas sendirian. Sedangkan, Bela dan kawan-kawan, hanya menonton seperti Juragan. Membuat Aizha tak nyaman. Dia memilih untuk pergi da tampat itu.
...<\=>...
Jarum panjang telah berpindah tempat. Tetapi, Pak Supir belum juga datang, menjemput Aizha. Beruntungnya, Sekolah menyediakan kursi panjang, untuk para Murid yang sedang menunggu jemputan. Lokasinya juga tidak panas, karena tertutup pepohonan.
Cantika yang baru saja keluar dari area parkiran Sekolah, menghampiri Aizha. "Zha, masih belum dijemput?"
"Ehhh." Aizha baru sadar, jika Cantika berada di dekatnya. "Belum, Can," sahutnya, murung.
"Hmmm, gue temenin deh. Tapi nggak lama ya! Adik-adik gue, ada di rumah sendirian soalnya," kata Cantika, memberitau.
Aizha tampak berpikir sejenak dan tersenyum. "Kamu kan udah pernah ke rumah ku. Sekarang giliran aku yang ke rumah mu, gimana?"
"Hah?" Cantika tak percaya, dengan apa yang dia dengar barusan. "Lo yakin?" tanyanya dan diangguki oleh Aizha.
Cantika sedikit ragu-ragu. Namun, melihat keseriusan Aizha, membuatnya berubah pikiran. Dia pun mengijinkan Aizha, untuk berkunjung ke rumahnya.
Aizha nampak begitu senang, mendapatkan ijin dari Cantika. Dia pun naik ke atas montor dan pergi, meninggalkan halaman Sekolah. Senyumnya terus mengembang. Dia juga, sempat memejamkan mata sekejap, untuk merasakan angin yang menelusup ke tubuhnya.
"Baru pertama kali, Neng. Naik montor begini, ha?" komen Cantika, melihat Aizha yang terlihat begitu senang dan menikmati suasana jalan.
Aizha menggelengkan kepala dan menjawab, "Dulu aku pernah naik montor, dibonceng sama Ayah, keliling kompleks. Tiap kali, Ayahku pulang kerja atau libur. Aku pasti, minta Ayah naik montor bareng."
"Lo kangen ya, pasti?"
"Iya," sahut Aizha, sedikit sedih. "Ayah ngurus perusahaan di luar negeri. Jadinya, kita udah jarang ketemu deh. Terakhir vidio callan aja, minggu lalu."
Cantika terkejut, mendengar pernyataan Aizha. Dia pun, menjadi berpikir yang tidak-tidak. "Hubungan kalian buruk?"
Cantika yang mendengarnya pun tertawa. Lampu lalu lintas, tiba-tiba berubah menjadi hijau. Cantika pun berhenti. Aizha dan Cantika, melihat ke arah seorang Ibu Pengemis yang sedang menggendong anak kecil.
"Beruntungnya, kita masih punya Ayah, rumah dan pakaian yang bersih. Coba aja, kalau anak kecil itu kita. Aku nggak habis pikir, bakalan kayak gimana masa depanku nanti," celetuk Aizha, membuat Cantika tersenyum.
Cantika melihat ke arah lampu lalu lintas. "Pernah ada cerita, anak tukang becak dapet beasiswa Dokter. Bisa jadi, anak itu juga bakalan sukses, entah bagaimana caranya."
"Ohh iya, bener juga," sahut Aizha.
Cantika pun, mulai menjalankan montornya, karena lampu telah berganti menjadi warna hijau. "Zha!"
"Hmm?"
"Lo udah ada pikiran, mau kuliah kemana gitu? Lo kan tajir. Masa depan lo, udah pasti jelas."
"Emmm," Aizha nampak berpikir sejenak. Selesai berpikir, dia pun menjawab, "Pasti banyak orang mikir, jadi Anak orang kaya tuh enak. Mau sekolah kemanapun, pasti bisa. Selagi ada uang, semua akan terselesaikan, dengan sangat mudah. Tapi itu salah, bagi kami yang lahir dari keluarga kaya raya. Kehangatan, kebersamaan dan keharmonisan keluarga, tidak bisa dibeli menggunakan uang."
Cantika marasa sedikit bersalah. Dia tidak bermaksud, membuat Aizha tersinggung. "Ehhh, maksud gue--" ucapnya, belum selesai.
"Iya... Aku ngerti kok. Aku cuman mau ngasih tau, kalau terlahir sebagai anak orang kaya tuh, belum tentu masa depannya jelas. Kita juga bisa hancur," potong Aizha.
Cantika tampak iba, pada Aizha. Dia pun berusaha, untuk mengubah suasana di antara mereka berdua. "Zha, lo pernah nggak ngerasain serunya naik montor yang nguji jantung?"
"Nguji jantung?" Aizha nampak bimbang. "Bukannya, nguji nyali ya?"
"Dua-duanya juga boleh."
"Ehhh! Jangan...!
"Telat!" Cantika tersenyum jail. Dia langsung membelokkan setir montor ke area jalan yang cukup sepi.
Aizha mulai khawatir dan memberi Cantika peringatan. Namun sayang, Cantika tidak mendengarnya dan menggas montor, hingga berjalan dengan kecepatan yang cukup tinggi. Aizha langsung berteriak sangat kencang dan memeluk erat Cantika.
Tawa Cantika pecah, melihat kekhawatiran Aizha. Dia mengendarai montornya, ugal-ugalan. Aizha pun memejamkan mata, saking takutnya.
Masuk area kampung. Cantika, mengecilkan kecepatan montornya. Cukup banyak warga yang lalu lalang, membuatnya tak berani ngebut-ngebutan. Aizha tampak sedikit lega dan melepas pelukannya dari pinggang Cantika.
"Khihihi, gimana?" tanya Cantika, tanpa rasa berdosa.
Aizha menatap judes, Cantika dan memarahinya, "Cantika! Jangan ulangi hal itu lagi, oke?! Kalau ada korban, karena ulahmu ini gimana, hah?!"
"Hahahaaa, maaf deh," sahut Cantika, cekikian. "Btw, bentar lagi sampai rumah gue. Lo jangan kaget ya. Rumah gue tuh, kalau dibandingin sama rumah lo, jauh... Banget!"
"Apaan sih, Can! Jangan bahas beginian deh! Rumahmu juga, bukan terbuat dari kardus kan? Jadi, jangan sok ngerendah, oke?"
"Hmmm, terserah," sahut Cantika, malas.
Montor Cantika pun berhenti. Aizha turun dari atas montor dan melihat area sekitarnya. Banyak sekali rumah-rumah kecil yang saling menempel. Jalan antar rumah barisan depan, dengan belakang juga sangat kecil, hanya muat satu buah mobil.
Cantika, tampak membuka gerbang kecil dan berkarat. Melihat rumah kecil, cat yang mengelupas dan kursi lama, membuat Aizha terkejut. Cantika pun membawa masuk montor dan menyuruh Aizha, untuk ikut dengannya. Ketika mereka tiba di depan pintu, dua orang anak kecil yang menggemaskan, berteriak sangat kencang, memanggil Cantika.
"Omooo!" Aizha tampak takjud, dengan keimutan sang Adik Cantika.
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
Matematika memang sulit guys. Apalagi, kalau kita udah nggak minat duluan sama tuh pelajaran. Meskipun udah ada handphone, rasanya tetap aja sulit dan bingung.
Oke deh, sampai sini dulu. Yuk, beri novel ini like, komen, favorit, hadiah dan vote kalian. Semoga kalian akan selalu suka novel ini sampai tamat.
See you ...💕