Alpha Female

Alpha Female
Bab 59



...Welcome Alpha Female✨...


...Happy Reading guys💕...


...××××××××××××××××××××××××××××××××...


"Damian bilang, di foto itu ada bukti kuat yang bisa bikin Arkana nurut. Katanya sih, di foto itu, Arkana jelas-jelas, ngebantu Mafia yang merugikan negara dan banyak masyarakat. Dia bisa dihukum, dengan ancaman pidana yang sangat lama atau hukuman mati, alias seumur hidup di penjara," jelas Aizha, membuat Innara terpukau.


"Apa Damian tau, alasan Arkana lauin hal ini?" tanya Innara, sembari menatap foto-foto itu.


"Kata dia, demi meningkatkan kekuatan dan kuasanya, dalam bisnis maupun politik. Soalnya, waktu di pesta, salah satu rekan orang tua mereka. Damian..."


Dua tahun yang lalu. Terlihat ramainya orang, tengah berkumpul di suatu gedung mewah, dengan beragam minuman alkohol. Pakaian mereka semua, juga tampak mewah dan rapi. Arkana dan Damian, berada di satu meja bundar, dengan beberapa anak, dari Perusahaan lain.


Damian sempat berkata, jika Arkana dan yang lainnya, sangatlah berbeda jauh, dengan dirinya. Arkana tak memperdulikan hal itu. Hingga akhirnya, Damian pun tampil, dengan piano dan suara indahnya. Banyak wanita tersihir dan jatuh hati.


Ayah Damian, langsung besar kepala dan menyombongkan anaknya itu. Banyak sekali penghargaan dan sertifikat yang berhasil diraih oleh Damian. Dia juga, sudah mulai berpartisipasi, dalam mengurus Perusahaan. Ayah Arkana yang terlihat sangat kagum, memberikan pujian pada Damian.


Arkana pun, membawa sang Ayah, ke luar gedung. Dia meminta Ayahnya, untuk mengijinkan dia, ikut mengurus Perusahaan. Namun sayang, Ayahnya menolak dan berkata, jika dia masih belum cukup umur. Arkana marah dan kesal, karena Ayah tidak mempercayainya.


Damian tersenyum senang, ketika Ayah Arkana berkata, jika dia adalah anak yang jauh berbeda, dibandingkan anaknya sendiri. Ayah beranggapan, jika kemampuan Arkana masih sangat kecil dan jauh berbeda, dibandingkan Damian. Perdebatan itu seketika selesai, karena Ayah pergi.


Damian pun datang menghampiri Arkana. Tampak, si Damian yang langsung menertawakanya. Dia juga berkata, jika suatu hari, Arkana akan berada di bawah kendalinya. Arkana tampaknya terpancing dan mulai melakukan hal-hal yang di luar dugaan Damian.


"Arkana sadar, kalau dia tidak sehebat yang banyak Murid di Sekolah kita pikirkan. Dia pun mulai mengikuti Damian, secara diam-diam. Dia juga, melakukan semua kegiatan yang dilakukan oleh Damian. Namun, dia salah jalan, untuk beberapa hal," akhir cerita Aizha, membuat Innara kaget dalam diam.


"Mungkin nggak, Damian juga tau, soal Murid-Murid di Sekolah kita, yang nggak sesuai rumor di luar?" tanya Innara, penasaran.


"Aku nggak tanya. Aku takut, kalau Arkana sampai tau hal ini dan menggagalkan semua misi kita," ujar Aizha, membuat Innara mengangguk paham. "Ohh iya, Damian sempat berpesan."


Innara mengerutkan kening. "Pesan apa?"


"Main sama Arkana, kuncinya adalah terbuka. Tapi, diam-diam harus siap siaga dan katanya, tampar dia sekuat mungkin, supaya sadar. Jujur apa adanya dan selalu percaya sama dia," sahut Aizha, membuat Innara merenung.


"Aku selama perjalanan tadi, udah mikir-mikir. Kalau kita, harus dengerin pesan yang diberikan Damian dan merundingkannya, bersama Bunga serta Cantika," ucap Aizha kembali, setelah diam sejenak.


"Gue setuju, mending sekarang kerjain tugas Sekolah dan bersiap tidur," saran Innara dan diangguki oleh Aizha, setuju. Mereka berdua pun mengerjakan tugas sekolah masing-masing dan tidur, setelah selesai.


...<\=>...


Alin, Via dan Afifah telah tiba di Kelas. Mereka sibuk, membicarakan artis Indonesia dan Korea. Tak berselang lama, Aizha datang. Dia langsung menyapa ketiga temannya itu dan menanyakan tugas mereka. Via yang belum selesai, seketika cemberut.


"Kenapa pera Guru itu kejam sekali? Mereka telah memeras otak kita, selama delapan jam lebih dan memberikan tugas, tanpa rasa manusiawi! Coba kalian lihat ini!" Via menunjukkan buku tugasnya. "Mana ada tugas Matematika segini banyaknya? Tujuh lembar aja, nggak cukup! Padahal, bukan tabel atau diagram!"


"Lo ngeluh sama kita, enggak ada gunanya. Setiap tugas Sekolah kita sama, karena sekelas," sahut Alin, membuat Aizha dan Afifah, tertawa kecil.


"Ahhh," desah Via, mengacak rambutnya.


Aizha pun menyodorkan buku miliknya. "Tirun aja, tapi jangan serupa."


"Gampang, tinggal tiga soal lagi kok," sahut Via dan langsung menjiplak jawaban Aizha.


"Ohhh iya, kita jadi kerkom kan?" tanya Alin, sambil membalikkan badan, ke belakang. Aizha juga ikut membalikkan badannya, ke arah Via dan Afifah.


"Jadi dong! Gue juga, udah bawa seragam sekolah buat besok!" ujar Via dan lanjut menyalin jawaban.


"Elo gimana, Zha?" tanya Afifah pada Aizha.


"Aku lupa bawa seragamnya, tadi. Mungkin, nanti aku minta Bibik, buat bawain ke rumah mu," sahut Aizha dan diangguki oleh Afifah, sembari tersenyum lembut.


Alin tiba-tiba, memanyunkan bibir. Dia merasa, seperti ada jarak di antara mereka. "Guys, gimana kalau kita sekarang, manggilnya pakai aku-kamu? Enggak enak banget dah, kalau lo-gue."


"Aku sih, setuju aja. Aku juga lebih suka kayak gitu," sahut Afifah, sembari menerapkannya.


Alin dan Via, tampak tersenyum lebar. Via pun mengajak teman-temannya, untuk merayakan hal ini, dengan berpelukan. Mereka berempat, menjadi sangat berisik, ketika merencanakan pesta kecil-kecilan, di rumah Afifah nanti.


...<\=>...


Pertikaian Murid di lapangan Basket, muncul. Banyak Murid yang menonton, dalam ketakutan. Terlihat salah seorang Siswa, sampai mengeluarkan banyak darah di mulut dan hidungnya. Arkana, Dirgantara, Farel dan Akhsan pun, langsung berlari menuju lokasi, setelah mendapatkan kabar itu.


Aizha yang hendak mendekat ke area lapangan, langsung dicegah oleh Cantika. Dia dibawa pergi Cantika, untuk menjauhi lokasi itu. Sedangkan Innara dan Bunga, tampak berada di lokasi, untuk mengamati.


Salah seorang Siswa yang babak belur, tampak mengeluarkan pisau kecil, untuk dia tusuk ke area jantung sang Lawan. Banyak Murid terkejut, hingga memalingkan wajah. Bunga yang memejamkan mata sekejap, langsung terkejut. Dua Siswa itu telah meninggal dunia, ketika sang Guru datang, untuk mengecek kondisi mereka.


"Aaa-apa yang terjadi?" ucap Bunga terkejut dan bingung.


Innara menggelengkan kepala, tidak tau. "Mereka berdua, tiba-tiba berhenti. Guru yang baru aja datang, langsung mengecek kondisi mereka dan mengatakan, jika mereka telah meninggal dunia."


"Astaga." Bunga tak percaya dan menghela napas berat. "Lagi-lagi, Kiata kehilangan Murid. Gimana, kalau Sekolah ini ditutup?" ucapnya, membuat Innara terkejut.


"Jangan sampai!" seru Arkana, secara tiba-tiba, hingga membuat Bunga dan Innara, terkejut. "Dimana Aizha sekarang?" tanyanya, sedikit tergesa-gesa.


"Aizha? Kita enggak tau. Emangnya ada apa?" tanya Bunga, penasaran. Innara juga sama penasarannya, melihat ekspresi wajah Arkana, Dirgantara, Akhsan dan Farel, yang resah.


"Kalian enggak lihat?!" tanya Farel emosi, membuat kening Bunga mengerut dan alis Innara, naik.


"Lihat apa?" tanya Bunga, bingung dan tidak paham.


"Mereka yang meninggal barusan, Rino sama Vero!" ujar Farel, membuat Innara dan Bunga syok.


Bunga dan Innara pun, langsung melihat dengan seksama kedua Siswa itu. Mereka berdua baru sadar, jika kedua Siswa yang bertengkar itu, adalah Rino dan Vero. Rasa pusing langsung menusuk kepala mereka. Lagi-lagi, misi mereka mengalami kendala.


...×××××××××××××××××××××××××××××××...


...Lanjut besok......


...Maaf, kalau ada salah kata ataupun typo. Jika ada nama atau hal yang menyinggung, tolong dimaafkan ya. Ini hanya sekedar karangan, untuk melepaskan rasa gabutku....


...Semoga kalian suka dan membaca hingga tamat. Berikan dukungan kalian, dengan like👍 vote dan hadiah🎁 Tap lopenya juga ya❤️ untuk mengetahui Alpha Female update✨...


...See you...💕...