Alpha Female

Alpha Female
Bab 63



...Welcome Alpha Female✨...


...Happy Reading guys💕...


...××××××××××××××××××××××××××××××××...


"Aizha! Kamu tidur sama aku ya!" pinta Alin pada Aizha.


Kini Alin, Aizha, Afifah dan Via, sedang berada di lorong. Nampak juga dua pintu kamar yang bersisian. Aizha yang terlihat kikuk, tampak melirik si Afifah. Alin yang mengetahuinya, langsung memberikan tatapan curiga, pada Aizha dan Afifah.


"Maaf Alin, kayaknya kamu terlambat. Aizha udah lebih dahulu minta ke aku, untuk jadi teman sekamarnya," kata Afifah, memberitau.


Alin tampak terkejut. Dia kecewa pada Aizha, karena tidak memilih dirinya. Drama pun muncul. Alin berpura-pura sedih dan hancur. Dia merasa dikhianati oleh Aizha. Padahal, dia selalu, menjadi yang lebih depan untuk Aizha, dibandingkan Afifah dan Via.


Aizha yang merasa tidak enak pun, meminta maaf pada Alin. Via yang lelah, dengan drama Alin, terpaksa untuk membawanya ke dalam kamar. Alin berteriak, meminta tolong pada Aizha, untuk tidur sekamar dengannya.


"Kebiasaan!" komen Afifah, setelah pintu kamar Alin dan Via, tertutup.


Aizha melihat ke arah Afifah. "Kenapa Alin, selalu kayak gitu? Apa ada alasannya?" tanya Aizha, penasaran.


Afifah pergi membuka pintu dan menyuruh Aizha, untuk segera masuk ke dalam. "Pengaruh Almarhum Ibunya dulu."


Aizha tampak bingung. "Almarhum?"


Afifah menganggukkan kepala, mengiyakan. Setelah, dia menutup pintu. Dia pergi duduk ke arah kasur. Aizha pun menyusul dan duduk di sisi lainnya.


"Ibunya dulu, sering banget akting begituan, buat ngehibur keluarga. Mungkin, efek keturunan juga, si Alin bisa kayak begitu," sahut Afifah dan diangguki oleh Aizha. "Ohh iya, soal pembicaraan tadi sore. Aku lah yang bikin progam, penjualan soal ujian. Bu Hani mau kerja sama pun, karena dia tau, Almarhum Pak Kepala Sekolah, telah berkhianat."


Aizha tau, jika Almarhum Pak Kepala Sekolah, telah mengkhianati Bu Hani. Dia pun bertanya, pada Afifah, "Apa Bu Hani tau sendiri? Atau, ada orang lain yang kasih tau?"


"Ayahku yang ngasih tau Bu Hani," sahut Afifah dan Aizha pun mengangguk kecil, mengiyakan. "Ayah waktu itu sangat marah, sama Almarhum Pak Kepala Sekolah dan memutuskan, untuk bekerja sama, dengan Bu Hani. Ayah terpaksa, lakuin hal itu, karena dia telah melanggar janjinya, untuk membuatku masuk, ke progam Murid VIP."


"Apa mungkin, Ayahmu juga tau, soal ikatan rahasia, antar beberapa Kampus besar?" tanya Aizha, dengan sangat serius.


"Entah, Ayah hanya bilang, untuk aku kerja sama, dengan Bu Hani dan Pedro," sahut Afifah dan Aizha pun menganggukkan kepala, paham.


Aizha tiba-tiba, teringat akan sesuatu. "Afifah!" panggilnya.


"Hmm?"


"Apa kamu dekat, dengan Pedro?" tanya Aizha membuat Afifah tersenyum kecil.


Afifah mengambil guling dan menaruhnya, ke atas pupu. "Apa Alin sama Via, belum kasih tau?"


Aizha tampak bingung dan menggelengkan kepala kecil. Afifah pun memberitau, "Aku sama Pedro udah nikah."


Afifah tertawa kecil, melihat reaksi itu. Aizha yang merasa ditipu pun, menekuk wajahnya, dengan ketus. "Bercandanya jelek! Aku ini, serius Afifah."


"Yang bercanda siapa? Aku juga serius," sahut Afifah, setelah berhenti tertawa.


Aizha langsung diam. Melihat perubahan ekspresi Afifah. Dia pun menelan ludahnya, masih tak percaya, dengan apa yang barusan didengar.


"Ka-kamu serius?" tanya Aizha sekali lagi dan diangguki oleh Afifah.


"Almarhum Pak Kepala Sekolah dan kedua Guru yang meninggal itu, mulai memandang rendah aku serta Pedro. Mereka mengeluarkan kami, dari progam VIP dan mengembalikan semua uang yang dikasih," ungkap Afifah dan berdiri, dari atas kasur.


"Ayah yang enggak terima pun, lakuin segala cara, untuk buat kami tetap berkuasa di Sekolah. Padahal, Ayah udah janji, bakalan lepas semua kegiatan gelap itu. Tapi, demi aku dan Pedro, Ayah melanggar janjinya. Dia juga rela, tidak makan-makanan rumah berbulan-bulan," lanjut Afifah, membuat Aizha meneteskan air mata.


Afifah kini, tengah mengambil laptopnya dan menunjukkan ke Aizha. "Ini kunci yang Ayah aku dapatkan. Berkat Ayah, aku bisa mengontrol, Guru yang bertugas memasukkan nilai."


"Iniii!" Aizha tampak terkejut, melihat layar laptop tersebut. Terlihat wajah seorang Ibu Guru yang sedang hamil. Guru itu jugalah, yang mengubah nilai Murid di Sekolah.


"Kamu udah ketemu Diki sama Rafi? Mungkin, kamu juga udah tau, soal ini." Afifah menunjukkan bolpen yang sama, dengan milik Rafi dan Diki.


Aizha mulai resah, karena Afifah mengetahui sedikit rahasianya. "Kenapa, kamu tanya kayak gitu?"


"Karena aku, lihat kamu dan teman yang lain, di cafe hari itu," sahut Afifah, membuat Aizha terkejut. Namun, Afifah sepertinya tidak ingin tau lebih, soal Aizha. Dia malah memberitau soal bolpen itu. "Bolpen ini khusus dibuat, untuk keluargaku. Ada banyak fungsi, termasuk kunci pengubah nilai."


Afifah mengetik sesuatu di laptopnya dan menunjukkan ke Aizha, kembali. Terlihat foto pasangan kekasih di kolam renang. "Bu Eka adalah orang yang memasukkan nilai dan bertugas, untuk mengurus ijazah raport. Dia juga, mantan selingkuhan Ayah-nya Alex. Hasil perselingkuhan ini, membuahkan anak perempuan. Umurnya sekarang, mungkin baru delapan bulan," ungkapnya, membuat Aizha terkejut.


"Jadi, dengan hal ini, kamu bisa bikin Bu Eka tunduk?" tanya Aizha memastikan dan diangguki oleh Afifah.


"Di Sekolah kita, ada banyak sekali circle. Paling atas bagi banyak Murid adalah circle Alex dan Jeno. Setelah itu, Aples, circle Murid VIP, Bianka, Osis, Pramuka, Andre dan yang lainnya. Tapi, bagi kami semua yang ditakuti atau dikagumi banyak Murid. Aples lah, circle yang paling atas," jelas Afifah. "Sayangnya, melihat kondisi Sekolah yang kacau balau ini. Aku jadi berpikir sama, dengan pendapat para Murid. Jika, circle Jeno dan Alex lah, yang paling kuat."


Aizha masih diam menyimak. Perasaannya, perlahan-lahan mulai tidak enak. Afifah yang kembali berbicara, membuat perasaan Aizha, semakin gelisah dan aneh. "Ada kabar jika Jeno telah meninggal. Alex juga sudah meninggal. Tapi, aku dan Pedro merasa, jika kekacauan yang terjadi akhir-akhir ini, adalah ulah, salah satu diantara mereka atau, kemungkinan besar keduanya," kata Afifah.


Aizha pun mendekat ke arah Afifah. "Terus, Pedro sekarang dimana?"


"Dia bersama Ayahku, sekarang. Beberapa hari sebelum Pedro keluar dari Sekolah. Dia mengalami kecelakaan. Tapi, kondisinya sekarang amesia. Untung aja, anak buah Ayahku, langsung membawanya ke Rumah Sakit, sebelum terlambat," ungkap Afifah, membuat Aizha semakin terkejut.


"Sebentar, apa Ayahmu nggak khawatir, akan kondisimu? Bagaimana, jika mereka meng--" ucapan Aizha terpotong.


"Kalaupun aku mati, itu semua karenamu! Jujurlah, kalau kamu memang Alpha! Karena ini semua terjadi, sejak kamu balas dendam, dengan Jeno dan Bianka!" ujar Afifah, dengan menekan kedua lengannya.


Aizha mulai sedikit ketakutan. Dia tak berani menganggukkan kepala atau mengaku. Tak lama sebuah peluru pun, berhasil menembus kaca dan membuat kepala Afifah, mengeluarkan banyak sekali darah. Muncratan darah itu, langsung mewarnai wajah Aizha, dengan warna merah. Tubuh Aizha langsung kaku, membeku. Sedangkan tubuh Afifah sendiri, jatuh kepelukannya.


...××××××××××××××××××××××××××××××××...


...Oke, sampai sini dulu ya, guys. Sampai jumpa di hari berikutnya!💕...