Alpha Female

Alpha Female
Bab 8



Welcome guys...


Happy Reading✨


...××××××××××××××××××××××××××××××××...


Tiga hari kemudian. Para Murid kembali bersekolah, setelah libur dua hari. Mereka berkumpul di halaman Sekolah, untuk melakukan upacara bendera yang setiap hari senin selalu diadakan. Namun tak jarang, para Murid mngikuti tata tertib. Terlihat, beberapa Murid, yang berbaris di lain sisi, karena telat atau atribut tidak lengkap.


Beberapa Murid juga pingsan, karena tak kuasa menahan teriknya panas matahari. Anak cowok juga, lebih suka berbicara, secara terang-terangan, ketika upacara berlangsung. Mereka tak segan, untuk bercanda atau mendorong Siswi di kelasnya, hingga jatuh ke depan.


Pak Kepala Sekolah yang sedang berbicara, nampak menegur para Murid-Murid. Dia memberikan nasehat dan juga memberitau tentang visi misi Sekolah. Namun, saat di pertengahan. Aizha mulai pusing dan jatuh pingsan.


"Aizhaaa!" panggil beberapa Teman sekelasnya, terkejut.


Seorang Siswa dari kelas lain, langsung berlari menghampiri Aizha bersama seorang Guru. Ketika, mendengar kehebohan kecil itu. Dia pun menggendong Aizha seorang diri, karena teman sekelas, tak ada yang mau membantu.


<\=>


Terlihat cahaya putih di depan mata, hingga membuatnya tak nyaman. Aizha yang telah sadar, nampak bingung dan melihat sekeliling. Dia membulatkan mata, terkejut. Dia tak menyangka, Arkana ada di sampingnya dan sedang sibuk membaca buku.


Arkana yang menyadari, jika Aizha telah bangun pun, menutup bukunya. Dia menanyakan kondisi Aizha dan ijin keluar sebentar. Aizha menganggukkan kepala, mengiyakan dan menatap bingung.


Beberapa menit kemudian, Arkana datang, dengan nampan yang berisi segelas teh hangat dan semangkok bubur ayam. Aizha terkejut dan sedikit malu, menerima perhatian yang diberikan oleh Arkana. Namun, seketika bayang-bayang Jeno muncul. Dia merasa sedih, orang yang sangat dicintainya, tak pernah sekalipun, memberikan perhatian.


"Mau didiemin sampek kapan? Keburu dingin loh, teh sama buburnya," ujar Arkana, menyadarkan Aizha dari kesedihannya.


"Ehhh," Aizha nampak terkejut dan sedikit malas, karena sedang tidak nafsu makan. "Maaf, aku bukannya nolak. Tapi... Aku tadi pagi udah sarapan."


"Lo yakin? Gue udah bawain nih minum sama makanan lo, jauh-jauh dari Kantin kemari. Lo harus makan! Kalau enggak lo makan, gue buang lewat tuh jendela," ucap Arkana dan melihat ke arah jendela UKS.


Aizha yang merasa terancam, karena ucapan Arkana barusan, memilih untuk memakannya. Lagi pula, Arkana sudah repot-repot membawakan makana dan minuman itu kemari. Dia juga, telah menunggunya sedari pagi. Tetapi, saat dia hendak makan. Aizha nampak kesakitan dan mengernyit sakit, karena tangannya sedikit terkilir.


"Kenapa?" tanya Arkana, setelah melihat Aizha yang kesakitan.


"Nggak tau, tanganku tiba-tiba sakit, waktu tak gerakin," sahut Aizha dan melihat tangannya.


Arkana pun menawarkan diri, untuk membantu Aizha, dengan menyuapinya. Ekspresi wajah Aizha yang malu dan terkejut, muncul. Dia pun menolak dan memaksakan diri, untuk makan sendiri. Melihat Aizha yang kesulitan, membuat Arkana tak sabar dan langsung mengambil alih sendok itu. Dia memaksa Aizha, untuk menerima suapannya, dengan ekspresi tegas.


Aizha nampak begitu malu. Dia menerima suapan Arkana, sambil memejamkan mata, karena tak ingin berkontak mata. Bubur itu pun, perlahan habis dan teh hangatnya juga, sisa setengah gelas. Ketika Aizha selesai berterima kasih, tak lama Innara muncul.


Innara langsung berbaring di brankar samping Aizha dan menutup gorden, yang dijadikan pembatas. Melihat kehadiran Innara barusan. Arkana pun menghampirinya dan menitip pesan, "In, gue titip Aizha ya. Bu Diah nanti ke sini. Lo kalau ada apa-apa, langsung bilang Bu Diah aja. Guru UKS yang biasanya, lagi ijin."


"Hmm, oke," sahut Innara, mengiyakan.


Arkana pun pamit pada Aizha, untuk pergi ke Kelas. Aizha mengiyakannya, dengan menganggukkan kepala dan berterima kasih kembali. Arkana, hanya mengangguk kecil. Dia pergi meninggalkan UKS. Aizha tersenyum senang dan berbaring.


<\=>


Cantika yang sedang mencatat di meja belakang, nampak serius membaca dan menulis. Namun, sekelompok Siswa, terlihat memiliki niat buruk pada Cantika. Mereka sepertinya, berencana untuk menjaili Cantika.


Benar saja, salah seorang Siswa, langsung duduk di bangku meja samping Cantika. Dia mulai meludahi Cantika, yang hanya diam dan tidak bereaksi sama sekali. Beberapa Murid yang tidak ikut campur, memilih untuk menjauh. Mereka nggak mau, ikut terkena imbasnya.


Belum selesai, dengan aksi meludah. Salah seorang Siswa maju, mendekat ke arah Cantika. Dia meraih buku catatan Cantika dan membuangnya. Senyum jahil pun terukir di wajah Siswa itu. Cantika nampak begitu kesal, namun dia tahan emosinya.


Cantika berdiri dari duduknya dan hendak mengambil buku cacatan yang dibuang barusan. Tetapi, Siswa yang meludahi Cantika, menjegalnya. Dia juga meraih kuciran Cantika, ketika terjatuh.


Cantika nampak begitu marah. Dia berdiri dan menatap para anak lelaki itu, tajam dan penuh kebencian. Beberapa anak lelaki, terpesona melihat wajah cantik Cantika, ketika rambutnya tergerai.


Salah seorang Siswa tersadar dari lamunannya dan balas menatap tajam Cantika. "Ngapa lo, hah?! Kagak terima, kita jailin?"


"Pengecut!" ujar Cantika, membuat mereka kesal.


"Apa?!"


"Siapa yang lo katain pengecut hah?!"


Cantika menatap jengah para anak lelaki itu. Dia membalikkan badan dan tidak memperdulikannya. Meladeni mereka yang belum dewasa, sangatlah merepotkan dan buang-buang waktu saja. Salah seorang Siswa kesal dan langsung menjambak rambut Cantika, hingga menghadap ke arahnya.


"Lama-lama, lo mulai nguji kesabaran gue ya!"


Cantika hanya diam, dengan ekspresi datar. Siswa itu sangat kesal, karena dicuekin. Dia pun menjambak rambut Cantika, dengan kuat. Cantika pun meringis kesakitan. Tak lama, ketika Siswa itu hendak menciumnya. Seorang Guru, tiba-tiba masuk ke dalam Kelas.


"Sialan! umpat Siswa itu dan pergi ke bangkunya.


Cantika nampak terpaku. Dia terkejut, bukan karena terpesona. Melainkan, rasa sedih, marah dan benci yang bercampur aduk. Hampir saja, dia terkena masalah besar, jika lelaki itu menciumnya. Dia tidak takut digrebek cewek lain. Tapi yang ditakuti adalah surat pengunduran diri, dari Sekolah.


Cantika mengepalkan tangannya dan mencoret buku. Saat Guru sedang menerangkan, Cantika nampak, sedang menangis seorang diri. Andaikan, dia dari keluarga kaya raya. Mungkin saja, Siswa yang hendak menciumnya barusan, dapat dia habisi. Sayang, sistuasi dan kondisi tidak berpihak padanya. Dia terpaksa diam dan menerima ejekan serta kekasaran, dengan diam atau ketegasan sedikit.


<\=>


Bu Diah yang telah memeriksa Aizha, memberikan ijin pulang sekolah atau masuk ke Kelas. Aizha merasa senang dan berterima kasih. Bu Diah pun, berpindah ke brankar Innara. Tampak omelan terdengar dari Guru itu, untuk Innara.


"Ya ampun, Innara. Kenapa kamu hampir setiap hari, kayak gini? Kali ini, Ibu kasih kamu pilihan. Pilih Ibu periksa kamu sekarang atau lapor ke orang tuamu?"


Innara diam saja. Aizha juga tidak bisa melihat kondisi Innara saat ini. Gorden itu, masih membatasi mereka. Ingin sekali dirinya, untuk mengitip. Tetapi, dia takut kena marah Bu Diah atau membuat Innara membecinya.


"Innara! Ibu itu lagi ngomong sama kamu! Kenapa, kamu selalu saja diam!" bentak Bu Diah, membuat Aizha terkejut.


"Bu, tugas seorang guru, hanyalah mengajar, bukan untuk mengikut campuri urusan pribadi Murid!" tegas Innara.


"Seorang Guru, juga harus melindungi anak didik mereka dan menjaganya baik-baik! Karena kami, adalah orang tua kalian di Sekolah!"


"Kalau gitu lakukan saja! Tapi, jangan pernah melanggar privasi Murid kalian atau membuat kondisi semakin runyam!"


"Kamu mengancam Ibu?"


"Bukan, ini hanya pengingat."


Bu Diah terdiam sejenak. Aizha nampak terkejut, mendengar keberanian Innara. Bu Diah tampaknya menyerah. Dia pun berkata, "Baiklah, Ibu akan pura-pura tidak mengetahui hal ini."


"Itu pilihan yang bagus, Bu. Jika Ibu benar-benar bertindak, itu hanya akan membuatku semakin kerepotan. Urus saja, masalah Ibu sendiri dan keluarga. Saya akan urus, masalah ini sendiri."


Mendengar balasan Innara pada Bu Diah, membuat Aizha sedih. Bu Diah pergi, dengan setitik air bening jatuh dari kelopak matanya. Aizha paham, apa yang dikatakan Innara sudah keterlaluan. Dia kelewat kasar dan tidak memiliki sopan-santun atau ramah-tamah sema sekali.


Aizha pun memilih, untuk segera pergi meninggalkan UKS. Namun, saat dia turun dari atas brankar. Tiga orang lelaki Bad Boy, muncul. Aizha mengurungkan niatnya dan terpaksa, meminum kemasan rempah-rempah cair. Dia takut, untuk berpapasan dengan para bad boy itu.


Alex adalah salah satu Bad Boy yang sangat ditakuti. Dia juga, Pacar Innara yang katanya sangat bucin. Tetapi, setiap kali melihat Alex bersama dengan Innara. Entah kenapa, ada firasat aneh pada benaknya.


Terdengar rintihan Innara yang kesakitan. Aizha yang mendengarnya, berusaha untuk pura-pura tidak tau. Tatapan dua Bad Boy itu pada Aizha, membuatnya merinding. Alex dan Innara, tak lama lewat di depan brankar Aizha.


Cara Alex, melingkarkan salah satu tangannya ke pinggang Innara. Mungkin, akan membuat para Murid yang melihat hal ini, iri pada Innara. Alex terlihat perhatian dan menyayangi Innara. Namun, jika dicermati, Alex tidak seperti yang dilihat. Ada skenario dibalik pemandangan itu.


Ketika, ketiga Bad Boy dan Innara pergi dari UKS. Aizha yang hendak keluar juga dari UKS, tiba-tiba mengurungkan niatnya. Dia penasaran, dengan Innara. Dia pun pergi ke brankar yang dipakai Innara dan menemukan keranjang mini di bawahnya. Terlihat beberapa kapas, penuh dengan darah. Aizha yang melihatnya, terasa ingin mual.


Firasat Aizha ternyata benar. Ada yang salah di antara Alex dan Innara. Sudah beberapa kali, dia menemukan Innara yang murung, dingin serta pucat. Aizha yakin, itu bukan sifatnya. Melainkan, kepribadian baru yang terbentuk, karena suatu tindakan, masalah atau tekanan yang diterima.


Aizha merasa senasib, dengan Innara. Meskipun, hanya berbeda kategorinya saja. Dia pun menjadi khawatir dan risau. Dia terus saja menatap kapas itu, dengan ekspresi wajah, berpikir. Ada banyak pertanyaan dan pikiran negatif, tentang Alex serta Innara.


...××××××××××××××××××××××××××××××××...


...Semoga kalian semua suka ya, guys💕 ...


...Ingat ya, usil itu nggak boleh berlebihan. Kalian nggak bakalan tau, bagaimana perasaannya. Kita juga nggak tau, apa yang ada di benaknya. Jika, dia terluka dan memiliki dendam dengan kalian. Mungkin saja, suatu hari kalian akan mendapatkan balasan yang lebih kejam darinya. Kalaupun, dia benar-benar diam. Tuhan akan memberinya hadiah atas penderitaan yanh diterimanya dan hukuman bagi makhluk jahat....


Jika ada salah kata, bisa kalian ungkapkan di kolom komentar. Selalu dukung novel ini, dengan tap like, favorit💕(love), komen dan vote. Berikan juga Bintang terbaik untuk novel ini ya💕


See you💕