
...Welcome Alpha Female✨...
...Happy Reading guys💕...
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
Bunga, Innara dan Cantika kini, tengah makan malam di rumah Aizha. Mereka bertiga sebenarnya, tidak ingin makan, karena Aizha belum datang. Tetapi, Bibik terus saja memaksa. Aizha juga, mengirimkan sebuah pesan pada Bibik, untuk memberikan teman-temannya makan lebih dahulu.
"Sayangkuuu, Mamah pulang!" teriak Vivi, sangat kencang.
Bunga, Innara dan Cantika pun berdiri tegak. mereka menundukkan kepala sebentar dan tersenyum ramah. Vivi tampak terkejut, melihat ketiga gadis itu.
"Ehhh, ini teman-temannya Aizha, ya?" tanya Vivi, sembari menyalami satu per satu teman Aizha.
"Iya Tante," sahut Cantika, sembari tersenyum malu.
"Ya ampunnn, Tante seneng banget deh. Terus, Aizha kemana?" tanya Vivi, menyadari sang Anak tidak ada di rumah.
Bibik yang baru saja muncul pun, menjawab, "Mbk Aizha pergi, Bu. Mungkin, sebentar lagi Mbk Aizha pulang."
Raut wajah Vivi berubah, menjadi datar. Bibik tampak tersentak, ketika melihat perubahan ekspresi Vivi. Cantika, Innara dan Bunga juga, merasa sedikit tidak nyaman.
"Bik, saya tau sekali, Aizha menyembunyikan sesuatu dari saya dan Mas Hasan. Bukan hanya Aizha, tapi Bibik sama Penjaga di rumah ini juga," ucap Vivi membuat Bibik merasa bersalah.
"Maaf Nyonya, sa--" ucap Bibik terpotong.
"Mamah?" Aizha terkejut, melihat Mamahnya berada di rumah.
Vivi tampak tersenyum kecil dan memeluk erat sang Putri tunggalnya. "Are you okay?"
"Yes Mah, im okay. Tapi, kenapa Mamah pulang sekarang? Bukannya---" ucap Aizha terhenti.
Mamah Vivi menutup mulut Aizha, dengan jari telunjuk. Dia menunjukkan layar handphonenya ke Aizha. Terlihat, sebuah foto dirinya, bersama keluarga Damian. Dia pun menatap Mamah, nanar.
"Kita bicara di ruang baca aja, yuk!" ajak Mamah Vivi dan diangguki oleh Aizha.
Aizha berpesan pada Bunga, Innara dan Cantika, untuk menyelesaikan makan malamnya. Dia juga berbisik, meminta mereka bertiga, untuk memindahkan semua dokumen dan flesdish ke rumah Innara. Innara tampak setuju. Sebelum pergi, Aizha juga meminta meraka, untuk menutupi ruang rahasia, dengan lemari.
Bunga, Innara dan Cantika pun, melanjutkan makan mereka, dengan sangat cepat. Tak lupa, mereka berterima kasih pada Bibik. Pintu kamar Aizha pun, di kunci. Innara dan Cantika, langsung menyimpan beberapa file ke flesdish. Sedangkan Bunga, tengah sibuk merapikan dokumen-dokumen yang mereka print.
Aizha yang berada di ruang baca, tampak sedikit risau. Dia menatap Mamah Vivi, khawatir. Mamah Vivi pun duduk di sofa depan Aizha, setelah mengunci pintu, membuka gorden dan menyalakan AC.
"Kalau kamu jujur, Mamah nggak bakalan marah. Mamah janji, nggak bakalan nangis juga!" ucap Mamah Vivi, malah membuat Aizha menangis.
Mamah Vivi, hanya menatap dingin sang Putri. "Kamu di sini, tugasnya Sekolah! Kerjaanmu adalah belajar dan main! Ayahmu berjuang di Negeri orang lain, untuk membuktikan pada keluarganya, jika dia bisa sukses, tanpa bantuan mereka! Apa menurutmu, Ayah bakalan suka, kalau tau hal ini, Aizha?!" omel Mamah, membuat Aizha menangis.
"Mah! Mamah tau apa?! Kalian mau sukses setinggi apapun, mereka nggak akan anggap kalian! Aku lakuin ini, demi Mamah sama Ay---" sebuah tamparan melayang pada wajah Aizha.
"Kamu udah hancurin rencana Mamah sama Ayah, Aizha! Kamu bilang, Mamah nggak tau apa-apa?!" Mamah Vivi, menatap Aizha sendu dan marah. "Mamah sangat tau! Oma dan keluarga Ayah, nggak suka sama Mamah! Karena itu, Mamah berusaha untuk dukung Ayah, dengan kerja sana-sini! Kamu yang nggak tau, kami Aizha."
Aizha tersentak, mendengar ucapan Mamah Vivi. "Maaa-Mamah kerja?"
"Kamu pikir, Mamah cuman diem aja, lihat Ayah susah? Mamah memang dari keluarga yang miskin, Aizha. Tapi, Mamah terlahir dari keluarga yang pekerja keras. Kamu harusnya punya dua Adik. Tapi, Mamah terlalu bekerja keras, untuk bantu Ayah cari uang. Alhasil, Mamah keguguran dan kandungan Mamah pun diangkat. Ayah pernah nangis sendirian, karena Mamah langsung kerja, setelag Oprasi. Kamu nggak tau itu kan?" tanya Mamah Vivi, membuat Aizha menangis tersedu-sedu dan meminta maaf, sambil berlutut.
"Oma dan Kakek dulu, sudah menentukan perjodohan kamu sama Adikmu, setelah Diego lahir. Waktu itu, usaha Ayah masih belum besar. Ayah dan Mamah, hanya bisa pura-pura nggak tau. Karena hal itu lah, Mamah dan Ayah, sangat berusaha keras, untuk membuat kalian berdua, berlimpahan harta. Supaya, mereka nggak perlu jodohin kalian. Tapi, semua perjuangan kami sia-sia ternyata," ucap Mamah Vivi.
Mamah Vivi pun, pergi menuju jendela. Dia menatap pemandangan di luar, dengan ekspresi sendu. "Mamah dan Ayah, masih ada di dunia ini, Aizha. Kami nggak pernah menuntutmu, untuk menjadi yang terbaik. Mamah nggak ingin, menjelekkan keluarga Ayah, tapi... Karena kamu udah lakuin hal ini dan berani ngebentak Mamah, seperti tadi. Mamah akan kasih tau kamu, kalau Oma hanya berbohong dan dia sangatlah egois, sampai Ayah saja tertekan. Mamah juga, nggak akan pernah diterima, meskipun kamu menikah dengan Damian."
"Apa?! Apa Mamah serius?" tanya Aizha, dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kamu nggak percaya?" tanya Mamah Vivi, membuat Aizha kikuk. "Mamah mulai sekarang, akan menyerah. Kamu udah ngerasa dewasa bukan? Kamu sudah bisa mengambil keputusanmu sendiri, tanpa beritau orang tua. Jadi, silahkan kamu lanjuti pilihanmu dan lihat hasilnya sendiri. Mamah hanya berpesan, kalau kamu tersakiti oleh mereka, kembalilah. Mamah, Ayah dan Diego akan menerimamu, dengan lapang dada, tanpa ungkit hal ini," pesan Mamah membuat Aizha menangis tersedu-sedu.
Ketika Mamah hendak pergi. Aizha yang terlihat sedikit aneh, langsung mengaktifkan sistem manipulasi pikiran. Dia juga, memukul bagian belakang kepala sang Mamah Vivi, hingga terjatuh pingsan, dengan item kekuatan. Dia memeluk erat sang Mamah dan menghapus ingatan Mamah Vivi, tentang dirinya yang dijodohkan oleh Damian.
Aizha pun pergi dari ruang baca, meminta Bibik, untuk membawa Vivi ke Rumah Sakit. Aizha juga memberikan kepercayaan pada sang Bibik, dengan item manipulasi dan kepercayaan. Supaya Bibik tidak curiga dan melakukan hal yang sesuai keinginan Aizha. Selesai Bibik pergi, bersama Mamah Vivi dan sang Supir. Bunga, Innara dan Cantika pun turun ke bawah, dengan dua tas.
"Apa sementara, kita di rumah gue?" tanya Innara pada Aizha.
Aizha menganggukkan kepala, mengiyakan. "Ada urusan yang harus aku urus. Kalian cukup rancang misi saja. Jadi, setelah aku selesai, dengan urusanku sendiri. Kita bisa langsung beraksi, untuk memberi mereka pelajaran!" perintah Aizha dan disetujui oleh Cantika, Innara dan Bunga.
...<\=>...
Bab Selanjutnya...
Rumah yang mewah dan megah, terbakar. Banyak Orang yang berhamburan keluar. Para Penjaga dan orang di rumah, langsung berusaha menyiram air, dengan selang dari luar rumah serta bantuan pemadam kebakaran otomatis.
Aizha yang berada di dalam rumah itu, tampak tersenyum smrik. Oma yang tampak menangis tersedu-sedu, hingga memohon. Tampak tidak dipedulika oleh Aizha. Sebuah pistol pun di arahkan Aizha ke kening sang Oma.
"Oma, selamat tinggal!" ucap Aizha, sambil tersenyum lebar.
"Aizzz--" ucap Oma terhenti. Suara tembakan, terdengar begitu kencang dan cipratan darah, mengenai wajah Aizha. Hambusan nafas dan suara tangis pun, seketika menghilang.
...×××××××××××××××××××××××××××××××...
...Maaf, kalau ada salah kata ataupun typo. Jika ada nama atau hal yang menyinggung, tolong dimaafkan ya. Ini hanya sekedar karangan, untuk melepaskan rasa gabutku....
...Semoga kalian suka dan membaca hingga tamat. Berikan dukungan kalian, dengan like👍 vote dan hadiah🎁 Tap lopenya juga ya❤️ untuk mengetahui Alpha Female update✨...
...See you...💕...