
...Welcome Alpha Female✨...
...Happy Reading guys💕...
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
"Kuncinya ada di Klub Aples," sahut Rafi, membuat Aizha, Innara, Bunga dan Cantika, tersentak.
"Lu jangan ngada-ngada ya! Mana mungkin, mereka dalang dibalik hal ini?!" tegur Cantika dan disetujui oleh Innara serta Bunga.
"Yang bilang mereka dalangnya siapa? Orang ngasih kunci jawaban, karena dia tau. Bukan berarti, dia yang bikin soal!" ujar Diki, membuat Cantika menekuk kening.
"Kayaknya kita disuruh temui mereka, untuk cari tau dalangnya sendiri," kata Innara dan disetujui oleh Rafi serta Diki.
Aizha pun melepaskan cincin dan anting-antingnya ke meja. "Aku bakalan kasih lebih, dari pada ini! Tapi tolong, beritau kami siapa dia?" pintanya dan kedua laki-laki itu menggelengkan kepala, menolak.
"Mending, lo pada ngaku sama mereka, sebelum terjadi kesalah pahaman. Sehebat apapun elo, gue nggak jamin, hidup kalian tenang, kalau mereka udah salah paham," seru Rafi dan melahap sebuah cemilan Cafe.
Diki tampak mengeluarkan handphonenya dan menunjukkan ke Aizha. "Arkana, Akhsan dan grup montornya, berhasil mendapatkan akses, dengan para Polisi. Mereka saling bekerja sama, untuk kepentingan pribadi. Kalau sampai kalian dipenjara, bukannya sia-sia?"
"Kita tau, seberapa buruknya Sekolah ini sekarang. Tapi, kalau kalian nggak bicara sama mereka. Habislah sudah, kalian akan tetap dicap, sebagai pengkhianat atau target mereka!" tambah Rafi.
"Kalian berdua belum tau aja, Aizha punya sistem Alpha," batin Bunga, dengan tersenyum kecil.
"Gue yakin, ini enggak seberapa buat Aizha," batin Cantika, yang sama sekali tidak risau.
"Kalau sampai Polisi ikut campur, Bokap sama Nyokap bisa ngamuk besar. Tapi, ada Aizha sih. Apa gue bisa, mengandalkan dia?" batin Innara, sedikit risau.
Aizha teringat akan geng Arkana, yang dia suruh, untuk menghabisi Alex dan teman-temannya. Tetapi, dia tidak menyangka, jika mereka memiliki kekuasaan sebesar itu. Dia juga, telah menerima kerja samanya, dengan Arkana.
"Alpha, jawab aku, tanpa sepengetahuan Innara. Apa aku haru jujur sama Aples?" tanya Aizha, dalam batin.
...[Aku baru saja menelusuri mereka. Banyak sekali data yang berubah, ini sangat membuatku terkejut]...
...[Menurutku, terbuka dengan mereka adalah jalan yang tepat. Aku sempat menganalisa sedikit dan ini membuatku terluka begitu dalam. Mungkin, aku butuh waktu membantumu lagi]...
"Apa?! Apa sistem yang menyerangmu, kembali muncul?" batin Aizha, risau. Innara sempat curiga, kalau Aizha sedang berbicara, dengan Alpha. Terlihat dari mimik wajah Aizha.
...[Aku melihat sekilas, tentang masa depan. Itu adalah tindakan yang sangat dilarang dan fatal]...
...[Aku melihat, Arkana, Akhsan, Dirgantara dan Farel, salah paham dengan niatmu. Hal itu, dimanfaatkan oleh Sistem Gatif (sistem yang menyerangku), untuk mengambil alih mereka.]...
...[Ada hal yang mengejutkan kembali]...
...[Aku melihat mereka yang kamu pikir meninggal, ternyata masih hidup. Tetapi]...
Hologram Alpha kembali eror. Banyak garis-garis yang melebat dan mengecil, secara tak beraturan. Aizha benar-benar terkejut, melihat kejadian itu. Hologram pun sepenuhnya lenyap. Aizha tampak sedikit pusing.
"Apa menurut kalian aman, kalau aku beritau mereka yang sebenarnya?" tanya Aizha, membuat Cantika, Innara dan Bunga, tersentak.
Rafi dan Diki, saling melihat. "Lo aja, bisa jujur sama kita. Kenapa Aples enggak?"
"Kerena sistem Alpha lah," batin Aizha, sedikit jengah. Seketika, dia teringat sesuatu, "Ohh iya, kenapa kalian enggak terkejut? Waktu tau, kalau kami ini Alpha?"
"Lo pada kurang teliti dan terlalu barbar! Kalian asal ngobrol, tanpa lihat kondisi!" tegur Rafi, berhasil menusuk Aizha, Cantika, Bunga dan Innara.
"Apa kalian denger obrolan kita? Kapan?" tanya Aizha, membuat teman-teman ikut penasaran.
"Iya, di Perpustakaan," sahut Rafi dan diangguki oleh Diki. "Lo pada juga, kalau mau tanya-tanya ke Murid, jangan tunjukin wajah! Lebih bagus lagi, enggak tunjukin setitik tubuh kalian!" sambungnya, membuat mereka berempat malu.
Aizha pun berterima kasih pada Diki dan Rafi, atas informasi serta nasehat yang diberikan. Mereka pun berpamitan dan pergi ke tempat tujuan masing-masing. Aizha dan teman-teman, berkumpul di rumah Innara, karena barang yang diperlukan, masih berada di sana.
Aizha juga mulai mencoret-coret papan tulis, untuk mengatur strategi. Bunga, Innara dan Cantika, hanya duduk di depan, menyimak saja.
"Sekarang, kita harus jelasin ke Aples dan kerja sama, dengan mereka. Setelah kita dapat dalangnya, kita bakalan lakuin rencana awal, bareng Aples juga!" ujar Aizha, selesai menulis di papan tulis.
"Oke, gue paham. Lo nggak lupa kan, sama Arkana dan Dirgantara?" tanya Innara, memastikan.
Aizha duduk di bangku dan menjawab, "Aku masih inget kok. Dia cuman hilang ingatan, tentang Alpha sama perubahan emosi sedikit."
"Apa enggak ada obatnya? Kalau Arkana sama Dirgantara kek gitu, kita bisa kerepotan sendiri!" seru Cantika.
"Aku bakal pikirin, caranya nanti, sambil jalan," sahut Aizha, santai.
"Zha, kamu nggak lupakan? Kalau kamu... Udah bunuh Farel?" ucap Bunga, sedikit risau.
Aizha terdiam, mengingat hal itu. "Kita lompati aja gimana?" ucap Aizha, secara tiba-tiba.
"Apa?! Apa lo bercanda?!" ucap Innara, terkejut.
Cantika pun ikut protes, "Zha, ini kasus yang paling merugikan banyak Murid, termasuk kita! Perlakuan tidak adil dan curang, kayak begini! Bukanlah hal yang patut kita abaikan begitu aja! Ini udah termasuk hal keji!"
"Tapi, hal itu enggak akan terjadi lagi, karena tokoh-tokohnya udah mati!" sahut Aizha, membuat mereka kesal.
"Hei! Lo nggak denger hah, meskipun mereka udah nggak ada, Rafi sama Diki tetep santai, karena masih ada yang bergerak! Itu artinya, progam VIP ini, diam-diam masih bergerak, khusus untuk Murid tertentu!" ujar Cantika, emosi.
"Apa yang dibilang Cantika, itu bener! Andaikan progam ini bener-bener berhenti, para Wali yang berkuasa, pasti udah bikin masalah. Semua Murid VIP juga, bakalan pada menggila sendiri," kata Innara, sependapat dengan Cantika. "Seandainya nih, ada keributan tentang perkara ini, di luar pantauan kita. Apa mungkin, mereka hanya diam saja? Orang yang diajak kerja sama Pak Kepala Sekolah dan Bu Hani pun, pasti ada di sana, untuk melakukan sesuatu!"
"Hmmm," Aizha tampak masih berpikir. Ketika dirinya sibuk berpikir, seseorang yang sangat dia tunggu-tunggu, menghubungi.
Aizha pun berpamitan pergi, pada Innara, Cantika serta Bunga. Mereka bertiga tampak tidak senang, karena Aizha kembali bergerak seorang diri. Namun, tidak ada yang berani mengikuti, mengingat kuatnya Aizha sekarang. Mereka takut, Aizha akan memanipulasi atau mengancam keluarganya.
...<\=>...
Pada suatu tempat yang cukup mewah dan bergedung tinggi. Terdapat banyak sekali kamar dan orang yang lalu-lalang. Aizha diam-diam, masuk ke dalam salah satu kamar dan melepaskan hoodienya.
"Ini flesdish yang kamu minta!" seorang pria muncul dan memberikan flesdish tersebut.
"Makasih (....?)"
...×××××××××××××××××××××××××××××××...
...Lanjut besok......
...Maaf, kalau ada salah kata ataupun typo. Jika ada nama atau hal yang menyinggung, tolong dimaafkan ya. Ini hanya sekedar karangan, untuk melepaskan rasa gabutku....
...Semoga kalian suka dan membaca hingga tamat. Berikan dukungan kalian, dengan like👍 vote dan hadiah🎁 Tap lopenya juga ya❤️ untuk mengetahui Alpha Female update✨...
...See you...💕...