Alpha Female

Alpha Female
Bab 58



...Welcome Alpha Female✨...


...Happy Reading guys💕...


...××××××××××××××××××××××××××××××××...


Aizha pergi ke sebuah Bar, dengan mobil online. Tempat itu terlihat sangat tenang dan sedikit sepi pengunjung, karena masih sore hari. Dia pun masuk ke dalam Bar, dengan di arahkan oleh seorang Pelayan lelaki. Terlihat si Damian yang hendak minum akohol. Namun, Aizha dengan sigap, mengambil gelas itu dan menaruhnya ke meja.


"Kak, tolong bawa sekalian minuman sama botolnya! Ganti sama yang kayak biasanya aja!" pinta Aizha dan diangguki oleh sang Pelayan.


Pelayan itu pergi, dengan botol dan gelas di tangannya. Damian tersenyum senang, melihat sikap Aizha barusan. Aizha pun duduk di sofa depan Damian. Dia menekuk wajahnya, melihat senyum Damian yang menggagu pandangan.


"Kenapa gue baru sadar, kalau lo tuh menarik?" ucap Damian, membuat Aizha memalingkan wajah, pura-pura muntah.


"Damian! Aku butuh banget, info tentang Arkana! Jangan usil, dong!" Aizha tidak senang, dengan sikap Damian barusan.


Damian tertawa kecil dan memberikan map ke Aizha. Namun, ketika Aizha hendak meraihnya. Damian langsung menarik map itu kembali. "Eitsss, ada syaratnya!" ujar Damian, membuat Aizha kesal.


"Apa?"


"Jadi calon Bini gue lagi!" sahut Damian, membuat Aizha terkejut.


"Apa?! Kamu mau, dihabisi sama Ayahku hah?! Bukannya Ayah, udah dateng ke rumah mu, buat meringatin kamu dan batalin perjodohan?"


"Memang, tapi itu orang tua gue yang nolak. Gue enggak ngiyain,"


"Aku nggak mau! Aku bakalan kabulin syarat yang lain, selain itu!" tawar Aizha, kekeh.


Damian tampak kecewa dan berpikir sejenak. "Hmmm, kalau gitu, bikin gue jadian sama Meira!"


Aizha terdiam dan mengedipkan kedua matanya, berulang kali. Dia sepertinya, telah salah mendengar. Dia pun, mengecek telinganya dan bergumam, "Apa aku salah denger? Kayaknya, aku terlalu mikirin Meira."


Damian langsung mendekat, dengan wajah berbinar, "Lo kenalkan? Dia anak Mipa! Kalian juga seangkatan!"


Aizha sedikit menjauh. Dia tampak ragu. Jika mengingat foto Meira. Aizha merasa, Meira memang cantik, tetapi sederhana dan biasa. Jauh berbeda, dengan cewek-cewek Damian selama ini, yang glamor, cantik, seksi dan bergaya. "Kamu yakin? Matamu lagi nggak salahkan?"


Damian menaikkan salah satu alisnya, bingung. "Ngapa lo ngomong kek gitu?"


"Enggak papa, cuman heran aja. Kenapa kamu milih Meira. Setauku, dia nggak seksi dan fashionnya juga sederhana. Beda jauh sama mantan-mantan lo!" ujar Aizha, membuat Damian terkejut.


"Tipe calon Bini sama main-main, ya bedalah dodol! Ya kalik, gue nikahin cewek, modelan kek mereka! Cewek modelan mantan-mantan gue itu, udah dilucuti banyak cowok, cuman lewat mata doang! Dengan pakai baju minim, mereka nggak beda jauh sama pelacur!" celetuk Damian, tanpa filter. "Gue butuh cewek yang fresh dan radak tertutup."


Aizha sebagai seorang perempuan, kesal. Bagimana bisa, Damian mengatakan hal seperti itu. Namun, dia juga tidak bisa marah atau mengumpat. Setiap orang telah menentukan pilihan mereka sendiri dan mengetahui, apa resiko yang harus ditanggung. Tidak salah, jika seseorang menginginkan yang lebih baik, tanpa berkaca.


"Aku bakalan bantu, buat kamu deket sama Meira. Tapi, aku nggak janji, soal kalian berdua, bakalan jadian. Pasangan Meira, hanya dia yang bisa menentukannya. Aku nggak mau, paksain perasaan seseorang, untuk kepentinganku sendiri," ujar Aizha dan diberikan oke, dengan gaya tangan oleh Damian.


Damian pun menyerahkan map itu ke Aizha. Saat Aizha sedang membaca. Damian tampak mengajukan sebuah pertanyaan, "Lo cari apa?"


"Bukan apa-apa kok, cuman data ini aja," ucap Aizha, sembari menunjukkan map yang diberikan oleh Damian.


Damian tampak sedikit kesal dan bermain handphonenya. Pada lain tempat, Alin, Afifah dan Via, tengah berkumpul di sebuah cafe. Mereka bertiga juga, telah berganti pakaian santai.


Alin pun menaruh secangkir kopinya dan melihat, ke arah Afifah. "Enggak sama sekali. Kalau bermuka dua, bukannya gue ya, harusnya?"


Via tampak menganggukkan kepala, setuju. "Iya, wajah Alin yang lebih nunjukin, kalau dia bermuka dua. Tapi, kenapa lo bisa mikir kek gitu, Fah?"


"Enggak tau sih, cuman firasat gue aja. Soalnya, waktu gue fokus baca buku pakaet tadi. Si Aizha, diem-diem lirik gue," sahut Afifah dan mengaduk minumannya.


Via pun ber-ohh dan meminta Afifah, untuk tidak salah paham, dengan Aizha. Sedangkan Alin, dia tampak sedang berpikir. Dia menopang dagunya di tangan kanan. "Hmmm, gimana kalau besok, habis pulang sekolah. Kita kerkom di rumah lo aja, seperti yang dimau Aizha. Sekiranya, gelagat Aizha emang radak aneh. Lo langsung tanyain aja, apa tujuannya!" saran Alin.


Afifah tampak menganggukkan kepala setuju. Dia pun mengetik di handphone, untuk memberitau info tersebut. Terlihat, Alin dan Via, tengah membalas chat itu juga bersamaan. Tak lama, Aizha menyusul dengan stiker "siap"


Aizha yang sedang berada di rumah Innara, tampak tersenyum lebar. Pada kamar itu, hanya ada mereka berdua. Innara yang sedang makan roti, tampak fokus melihat instagram Meira.


"Besok, aku kerkom di rumah Afifah. Aku pastiin, kita bakalan tau jawabannya, besok itu juga!" kata Aizha, penuh kepercayaan diri.


Innara menganggukkan kepala, mengiyakan. Dia percaya, dengan kepedean temannya itu. "Tapi Zha, apa isi di dalam map itu? Lo belum kasih tau gue."


Aizha menoleh ke Innara. "Ohh iya, aku lupa." Aizha pun memberikan map itu ke Innara dan berbicara, "Itu beberapa bukti foto, tentang kekuatan Arkana. Dia bukan cuman kerja sama dengan Polisi, tapi ada banyak organisasi lain juga. Tapi, beberapa udah nggak jalan lagi, karena anggota gengnya udah meninggal, akibat gue bakar hari itu."


"Cuman itu?" tanya Innara, tak lanjut membaca kertas tersebut.


"Kamu nggak lihat semua isinya ya? Di situ ada beberapa bahan, untuk tutup mulut Arkana, Dirgantara, Farel dan Akhsan. Aku aja terkejut, waktu Damian kasih itu," ujar Aizha, membuat Innara langsung merogoh isi dalam map itu dan melihat satu per satu.


"Gilak!" Innara terkejut, melihat dokumen dan foto-foto itu. "Kita harus kasih tunjuk ini, ke Bunga sama Cantika juga!"


"Harus!" sahut Aizha, menyetujuinya.


"Btw, Damian bukannya cowok yang dijodohin sama lo? Bibik sama Supir lo pernah bilang, kalau dia emosional dan nggak baik. Terus, gimana caranya, Damian bisa dapat ini semua?"


Aizha yang mendengarnya, sedikit kesal. Dia tidak terlalu terkejut dan sudah menduga, jika Bibik dan Pak Supirnya, pasti akan membocorkan hal ini. Aizha pun menjawab, "Dia emang emosional dan kadang-kadang, enggak punya hati. Tapi, dia juga manusia normal, masih ada kebaikan dan kelembutan di benaknya. Soal Damian yang bisa punya bukti dan data itu. Kayaknya sih, karena mereka sama-sama punya geng montor dan Pewaris utama."


"Damian sama Arkana, kaya siapa?" tanya Innara, dengan manaik turunkan alis.


"Damian," sahut Aizha malas dan memalingkan pandangan.


"Waw!"


"Ohh iya, kamu lihat deh foto-foto itu! Yang khusus, punyanya Arkana!" suruh Aizha dan Innara pun melihat foto itu. "Damian bilang..."


...×××××××××××××××××××××××××××××××...


...Lanjut besok......


...Maaf, kalau ada salah kata ataupun typo. Jika ada nama atau hal yang menyinggung, tolong dimaafkan ya. Ini hanya sekedar karangan, untuk melepaskan rasa gabutku....


...Semoga kalian suka dan membaca hingga tamat. Berikan dukungan kalian, dengan like👍 vote dan hadiah🎁 Tap lopenya juga ya❤️ untuk mengetahui Alpha Female update✨...


...See you...💕...