Alpha Female

Alpha Female
Bab 6



...××××××××××××××××××××××××××××××××...


Pagi harinya, Aizha yang telah kembali ke Sekolah, terlihat sedih dan juga khawatir. Sudah sedari pagi, dia terus mencari Bunga kemana-mana, namun wujudnya sama sekali tidak ada. Aizha baru saja mendapatkan kabar, jika Bunga tidak masuk sekolah, karena sakit. Entah mengapa, ada rasa bersalah dan tidak nyaman menghantuinya.


Aizha pun memilih untuk pergi ke Kantin, setelah bel istirahat muncul. Dia sebenarnya, sedang tidak nafsu makan dan ingin berdiam diri di Kelas. Namun, dia harus menjaga tubuhnya, untuk bertahan hidup. Dan supaya, hal yang tidak di-inginkan, tidak akan terjadi.


Ketika Aizha tiba di Kantin. Dia tak sengaja, melihat seorang gadis yang sedang dibully oleh empat orang Siswi. Gadis itu adalah Cantika.


Aizha pernah melihat Cantika, sebelumnya. Dia pernah bertengkar, dengan anak lelaki yang ditakuti banyak Murid. Cara bela diri Cantika, sangatlah baik dan keren. Namun sayang, adegan itu tak pernah lagi muncul. Aizha merasa, Guru telah memberinya kartu peringatan. Jika mengingat, Cantika adalah Murid cerdas yang mendapatkan beasiswa.


Salah seorang gadis centil yang bernama Bela,nampak menuangkan es jeruknya ke dalam makanan Cantika. "Ups, sorry," ucapnya, tanpa merasa bersalah.


Aizha yang sedang memesan makanan dan minuman, tak begitu terkejut melihat aksi Bela. Hal itu sudah biasa, dia lihat. Melihat para Murid seperti ini, membuat Aizha muak dan jijik sendiri. 


Cantika nampak diam saja, melihat mienya yang ketumpahan es jeruk. Beberapa Murid, langsung menebak-nebak, apa yang akan dilakukan oleh Cantika. Tak disangka, dia memilih untuk melahapnya, hingga membuat Bela dan ketiga temannya terkejut. Bela yang melihat hal itu, terasa ingin muntah.


Bela dan Teman-temannya pun, memilih untuk pergi. Mereka merasa kesal, demgam sikap Cantika yang sama sekali tidak seru. Aizha yang melihat kejadian itu, tampak mengukir sebuah senyuman. Dia sudah menduga, jika Cantika akan menyelesaikan hal itu dalam sekejap.


Aizha pun pergi ke tempat duduknya dan menunggu pesanan. Tak berselang lama, sekumpulan anak cowok datang. Salah seorang cowok, menjambak rambut Cantika, dengan begitu kuat, hingga mie tersebut tumpah.


Para Murid, tampak terkejut dan juga resah. Aizha yang berada tak jauh dari meja Cantika, ikut khawatir dan takut. Mereka adalah salah satu geng anak nakal atau biasa disebut bad boy. Mereka sangat kasar dan tidak memiliki hati. Menyiksa Murid sepuasnya, hingga terkena mental. Siapapun yang bertemu mereka, pasti akan ketakutan dan langsung menangis. Namun, berbeda dengan Cantika. Dia terlihat begitu tenang serta pandangan yang menatap dingin pemuda itu.


"Ikut gue!" ajak Pemuda tersebut yang tak lain, adalah Kevin.


"Ogah!" tolak Cantika, tegas.


Kevin tampak begitu marah dan kesal. Dia meremas rambut Cantika, dengan begitu kuat. Tatapan tajam dia tunjukan pada Cantika, yang terlihat kesakitan. "Elo bener-bener nguji kesabaran gue, ya!"


Cantika sama sekali tidak ketakutan. Dia malah balik mengancam, "Lebih baik, lo lepas rambut gue sekarang! Atau vidio itu gue sebar!" dengan ekspresi yang tak kalah sadis.


Kevin pun mendekatkan wajahnya pada Cantika dan balik memberikan peringatan, "Gue nggak bakalan lepas nih rambut, selama vidio itu masih lo simpen! Elo pilih, hapus vidio itu sekarang atau... Gue bakalan buat elo  keluar dari sekolah ini!"


Cantika menatap Kevin, jengkel. Dia benar-benar tak menyukai, pemuda ini. Dia pun terpaksa mengeluarkan handphonenya dan menghapus vidio tersebut.


Kevin tampak tersenyum senang dan melepas jambakannya. "Dari kemarin-kemarin, dong sayang. Aku kan jadi nggak perlu repot kek gini. Maaf ya, soal rambutnya. See you!" dia mengkiss bay Cantika, dengan senyumnya. Ucapan yang tiba-tiba terdengar manis itu, membuat beberapa Murid tersentak.


Cantika yang baru saja meneteskan air mata, tampak langsung menyekanya. Dia benar-benar membenci Kevin, terlihat dari kepalan tangan dan ekspresi wajah. Aizha yang sedari tadi melihat, ikut sedih, namun juga lega. Dia tak perlu, menggunakan sistem Alpha, karena Cantika bisa menyelesaikannya sendiri. Dia pun dapat memulihkan kondisinya dan menikmati makanan serta minuman yang baru saja tiba.


<\=>


Aizha merasa sedikit kelelahan dan pusing. Sudah sangat lama, dia menunggu sang Supir di depan Sekolah. Beruntungnya, Sekolah ini menyediakan tempat duduk. Jika tidak ada, sudah dipastikan Aizha akan jatuh pingsan.


Terdengar suara mesin montor, semakin mendekat. Aizha pun melihat, sebuah montor jadul dan seorang gadis, yang dirasa tidak asing baginya. Saat orang tersebut membuka helm, Aizha baru menyadari. Jika, dia adalah Cantika.


"Supir lo belum dateng ya?" tanya Cantika, setelah melepas helmnya.


Aizha menganggukkan kepala, mengiyakan. "Tapi kok kamu tau, kalau aku antar jemput Supir?"


Cantika terdiam sejenak dan menjawab, "Gue sering lihat lo di persimpangan dan... Supir lo pernah nanyain Kelas, sebagai perwakilan ambil raport."


"Ehhh," Aizha nampak terkejut dan terdiam.


"Mau bareng nggak?" tawar Cantika, namun Aizha hanya diam dan melihat montor jadul tersebut. Cantika, tiba-tiba saja mengangguk-anggukan kepala, mengerti, "Ya... Montor gue emang jauh beda dari yang lain. Mobil mewah lo juga nggak ada tandingannya, kalau dibandingin sama montor butut kek gini. Rasanya pasti nggak nyaman, gue paham kok."


"Ehhh, bukan begitu!" Aizha, spontan melambaikan kedua tangan ke depan, dengan artian salah. "Aku cuman nggak enak aja sama kamu. Soalnya, jarak rumahku sama Sekolah, lumayan jauh. Aku takutnya... Maaf ya, montormu malah bisa rusak. Kalau rusakkan, kamu nggak bakalan bisa ke Sekolah, naik montor lagi."


Cantika berusaha, untuk mengerti ucapan Aizha, dengan sisi positif. Dia pun tersenyum lembut dan berkata, "Kalau rusak, tinggal minta lo ganti rugi, gampangkan?"


Aizha tertegun dan menganggukkan kepala, mengiyakan. "Oke, aku janji, bakalan ganti rugi, kalau ada apa-apa!"


Cantika dan Aizha pun pergi meninggalkan Sekolah. Aizha nampak begitu bahagia, dibonceng oleh Cantika. Dia juga bercerita, tentang Ayahnya yang pernah membawa dia berkeliling sewaktu kecil, dengan sebuah montor sport. Perasaan Rindu Aizha, untuk bisa naik montor kembali, telah terbayarkan. Meskipun, bukan Ayahnya yang memboncengkan.


Cantika yang mendengar cerita Aizha, nampak tersenyum kecil. Dia semakin yakin, setiap orang memiliki masalah mereka sendiri. Keluarganya memang kekurangan ekonomi. Namun, dia masih bisa bertemu, dengan seluruh keluarganya selalu. Tidak seperti Aizha, yang terdengar kesepian.


<\=>


"Ayo masuk!" ajak Aizha.


Sebuah pintu besar, terbuka secara otomatis. Cantika yang masih tercengang, akan luas halaman dan besarnya Rumah megah Aizha. Tiba-tiba mematung, saat melihat pintu otomatis tersebut.


Aizha yang telah berulang kali memanggil Bibik, tampak bingung. Biasanya, Bibik sekali dipanggil, akan langsung muncul atau menyauti. Namun, sampai sekarang, Bibik tak menampakkan batang hidungnya. Suaranya pun tak terdengar sama sekali.


"Cantika, kamu duduk dulu ya. Aku mau cari Bibik, sebentar," ucap Aizha, memberitau dan diangguki oleh Cantika.


Cantika baru saja berjalan, menuju sofa mahal itu. Namun, sebelum dia duduk. Dia sudah dibuat kaget, saat tangannya menyentuh sofa tersebut. Dia pun mendudukinya dan terlihat begitu menikmati. Rasa nyaman dan kelembutan yang diberikan sofa ini, membuatnya tak ingin jauh-jauh. Kasur kaku dikamarnya saja, kalah jauh.


Cantika yang terlalu kagum, pada rumah megah Aizha. Tampak tak sadar, dengan kehadiran Aizha. "Ehhh, Aizha? Lo sejak kapan di sini?"


"Ehhh? Ternyata, dari tadi kamu itu nggak sadar, kalau ada aku ya? Pantesan, diajak ngobrol kok, nggak ada balasannya," komen Aizha dan Cantika pun, hanya bisa tersenyum malu.


"Emangnya, kamu tadi ngomong apa?"


"Aku cuman tanya aja. Apa kamu tau, kalau namaku itu Aizha?"


"Tau banget lah!" sahut Cantika, dengan kepercayaan diri yang kuat. "Elo tuh cewek dekil, bodoh dan buta!"


Beberapa panah, berhasil diluncurkan Cantika, tepat di hati Aizha. Aizha tak menyangkal, jika dirinya bodoh dan dekil. Tapi, dia lahir dengan sempurna, tanpa ada cacat. Bagaimana bisa, Cantika bilang, jika dirinya buta?


"Aku akuin, kalau aku dekil dan bodoh. Tapi, sejak kapan aku buta? Aku lahir, dengan kondisi sempurna kok," tanya Aizha, membutuhkan penjelasan.


"Bukan buta fisik, tapi perasaan. Elo terlalu mencintai Jeno, sampek nggak tau, kebusukan yang jelas-jelas udah dia tunjukin. Lo juga nggak peduli, tiap kali dikasarin, dicuekin dan disuruh-suruh. Lo tetep aja nempel, kayak parasit!"


Jleb, Aizha benar-benar tertusuk, dengan ucapan Cantika, yang terlalu jujur. Terlihat, Cantika sama sekali tidak merasa bersalah dan menyeruput teh, dengan tenang.


"Ohh iya, lo inget waktu Jeno nembak Bianka?" tanya Cantika, setelah menaruh cangkir kecil itu ke meja.


"Iya lah!" sahut Aizha, sedikit ngegas. Pertanyaan Cantika, sangat lucu. Bagaimana bisa, Aizha melupakan kejadian yang sangat memalukan tersebut.


Cantika mengukir senyum, mengejek. Aizha yang melihatnya, tampak kesal sendiri. "Gue cuman mau nanya aja, apa yang ada dipikiran lo waktu itu? Bisa-bisanya, lo malah nunjukin diri, setelah dihina kayak gitu. Jujur aja ya, waktu itu gue mau nolong elo. Tapi nggak jadi, karena ternyata lo beneran bucin sama Jeno."


Aizha tampak diam. Mengingat kejadian hari itu, pantas saja tak ada yang menolong. Siapapun, pasti akan memilih pergi.


Cantika merasa sedikit bersalah, melihat wajah sayu Aizha. Dia pun meminta maaf dan berkata, "Gue nggak bermaksud, untuk ngehina lo. Gue cuman mau, elo kali ini jaga diri dan jangan gampangan nerima perasaan cowok. Waktu itu, nggak semua Murid, ikut ngejek elo. Banyak yang berempati, tapi mereka nggak berdaya."


Aizha menganggukkan kepala, paham. "Iya Can, aku ngerti kok."


Cantika tersenyum lembut. "Bagus deh, kalau lo bisa memahami ucapan gue. Sekarang, lo juga kelihatan cantik. Gue yakin, elo pasti bisa punya Teman yang baik dan nggak ada lagi pengkhianatan atau bully."


Aizha tersenyum senang dan tak lama, sebuah pintu besar terbuka. Aizha nampak terkejut, melihatnya. Mereka berdua pun spontan berdiri tegak.


...××××××××××××××××××××××××××××××××...


Terima Kasih, sudah mau berkunjung ke novelku ini. Maaf, kalau ada salah tulis atau typo. Semoga kalian suka✨


See you ...💕