
...Welcome to Alpha Female✨...
...Selamat membaca✨...
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
Rasa risau Aizha, seketika pudar. Cantika kembali berdiri tegak, setelah terjatuh. Dia nampak pergi, mengambil sebuah botol air dan langsung ditumpahkan ke atas kepala Gadis yang menjegalnya. Gadis itu adalah Rona. Para Murid terkejut, dengan aksi Cantika. Entah kenapa, dia tampak begitu marah.
"Sialan!" maki gadis Rona, pada Cantika. Dia pun membalasnya, dengan menyiram es jeruk ke wajah Cantika.
Wajah dan sebagian seragam Cantika, mulai basah. Namun, dia hanya diam dan menatap tajam gadis itu. "Apa lo hah?! Lo pikir, gue takut hah?! Sini, maju lo!" tantang Rona.
"Enggak, jangan kepancing Can!" batin Aizha, khawatir.
Cantika masih diam dan menatap gadis itu, tajam. Rona tampak kesal. Dia pun menampar wajah Cantika, dengan sandwit. Tak lama senyumnya mengembang. Cantika mengusap pipinya yang kotor dan menatap gadis itu, horor.
"Kayaknya, Cantika bakalan ngamuk lagi deh," komen Via yang ngeri sendiri, melihat tatapan horor Cantika.
Aizha yang mendengar komen Via, menjadi risau. Dia takut, jika Cantika benar-benar, mengamuk. Rasa risaunya pun langsung terjawab. Apa yang dia takuti, telah terjadi. Cantika mengambil keripik yang ada di keranjang. Dia menampar wajah Rona, dengan keripik tersebut. Para Murid yang melihatnya, ikut merasakan nyeri.
"Arghhhh!" keluh Rona, kesakitan.
Bayangkan saja, makanan renyah dan tipis itu, mengenai wajah kalian? Rasanya pasti, akan sangat sakit dan perih. Rona pun menjambak Cantika, dengan sangat kuat.
Cantika tak membalas Rona, dengan menjambak. Dia melawan Rona, dengan bela diri. Tubuh Rona dibalik oleh Cantika. Posisinya pun, membelakangi Cantika, dengan tangan yang terkunci di belakang.
"Arghhhh! Setan lo, Can!" maki Rona, ketika Cantika menaikkan tangannya ke atas.
Cantika, tampak tidak begitu peduli. Dia terus saja, menekan tangan Rona ke atas. Salah seorang Siswa, yang merupakan Anggota Osis, berusaha untuk membujuk Cantika. Dia adalah Akhsan.
"Can... Berhenti ya? Lo bisa patahin tangan dia!" bujuk Akhsan, khawatir sendiri. "Inget, beasiswa lo, Can!"
Cantika terdiam dan langsung melepaskan Rona. Rona tampak begitu kesakitan. Dia tak ambil diam. Sebuah tandangan, dia layangkan ke arah Cantika.
Cantika yang mengetahui hal itu, langsung menangkisnya. Dia balik menendang Rona, hingga terjatuh. Para Murid, tampak begitu terkejut. Seorang Guru pun datang.
"Berhenti, kalian berdua!" pinta Pak Guru, membuat para Murid diam. Ada tatapan jengah, yang diberikan para Murid pada Guru tersebut. Bagaimana nggak jengah coba, orang Cantika dan Rona saja, sudah berhenti sedari tadi.
"Cantika! Rona! Ikut saya sekarang!" pinta Pak Guru, sok tegas.
"Ck, bantu Muridnya, berdiri dulu kek! Nggak lihat apa ya, gue kesulitan berdiri?!" cetus Rona.
"Jangan harap, saya ketipu dengan modusmu ya, Rona! Bapak enggak akan pernah sentuh Murid! Jadi, Cantika yang bakalan bantu kamu!" ujar Pak Guru itu dan pergi begitu saja.
Para Murid, menatap Guru itu jengkel. Namun, ekspresi Rona tak kalah jengkel. Cantika pun menyodorkan tangannya, dengan tatapan yang sangat dingin. Entah kenapa, ada rasa ngeri di seluruh tubuh Rona.
Akhsan yang berada di dekat mereka pun, mengambil alih Rona. "Biar gue aja yang bantu." Akhsan menawarkan diri, dengan membopong Rona. Tampak senyum merona, muncul di wajah Rona.
"Ayo Can, jangan sampai lo makin kena omel, karena telat," kata Akhasan dan pergi bersama Rona. Cantika pun, mengikuti dari belakang.
Aizha masih saja khawatir, meskipun pertengkaran di antara mereka telah selesai. Aizha dan Teman-Teman pun, kembali makan siang. Tak berselang lama, Bela CS melewati mereka.
"Beruntung banget mereka, bisa lepas dari amukan Cantika," celetuk salah satu teman sekelas Aizha.
"Padahal ya, mereka juga ada niat, buat ngusilin Cantika. Untungnya aja, Rona yang maju duluan. Jadi, mereka nggak kena sial deh," ujar Alin, membuat mereka tertawa.
"Ehhh, ada yang tau nggak sih? Kenapa Cantika bisa semarah itu?" tanya Via, penasaran.
Salah seorang Siswa yang duduk di meja sebelah pun menjawab, "Kalian belum pada denger? Cantika sama Rona, tadi pagi telat. Waktu mereka berdua dihukum. Denger-denger, Rona ngerendahin pekerjaan orang tua Cantika. Lo pada tau sendirikan, sensitifnya Cantika, kalau udah menyangkut keluarga?"
"Oalah... Pantesan aja, dia natap Rona, kek gitu," ucap Via, mengerti.
Aizha pun, melihat ke arah baksonya. Mengingat tatapan Cantika, yang sangat tajam dan penuh amarah, membuat Aizha paham. Rona pasti, telah menghina orang tua Cantika, dengan sangat berlebihan. Pantas saja, dia tidak dapat menahan amarahnya.
...<\=>...
Cantika baru saja keluar dari ruang BK. Nampak sebuah surat, digenggamannya. Dia meneteskan air mata. Entah bagaimana caranya, dia bisa bertahan di Sekolah ini. Hanya perlu beberapa bulan lagi, dia akan lulus. Tapi, banyak Murid yang menginginkan dirinya segera dikeluarkan dari Sekolah. Terlalu banyak ancaman yang sulit dihadapi.
Cantika pun pergi, dengan langkah yang lemah. Seorang Siswi dari belakang, menepuk bahu Cantika. Dia memberikan sebuah surat padanya. Cantika bertanya, siapa yang telah memberikan surat ini. Namun Siswi itu, hanya memintanya untuk membuka surat tersebut.
Surat :
Temui aku di taman dekat rumahmu. Jangan sampai, kamu nggak dateng ya?!
^^^Aizha^^^
Cantika tersenyum, melihat isi surat tersebut. Dia pun melihat sekitarnya. Mungkin saja, dia menemukan Aizha, yang memperhatikannya dari jauh.
Benar saja, Aizha tengah melihat ke arah Cantika dari lantai atas. Dia melambaikan tangan pada Cantika dan pergi. Senyum lembut Cantika, muncul. Dia pun pergi masuk ke dalam kelas.
...<\=>...
Terlihat dua buah pohon yang sedang menari, karena tertiup oleh angin. Langit juga tampak begitu cerah. Namun, ada suara tangis di hari yang indah ini. Suara tangisan tersebut, datang dari Bunga.
"Farel!" Bunga tampak begitu kesal. Dia memalingkan wajah, menyeka air matanya.
"Udah... Nangisnya berhenti dulu. Nih, minum sama makan roti dulu. Gue juga, udah bikinin surat ijin buat lo. Jadi, sementara lo bisa ngebolos pelajaran," ucap Farel, memberitau.
"Dasar Korup! Mentang-mentang, Wakil Ketua Osis, bisa seenaknya sendiri!" omel Bunga.
"Korup dari mana coba? Itu gue beli, pakai duit sendiri. Bukan uang Sekolah!"
"Pakai kekuasaan, untuk hal pribadi itu juga korupsi!"
"Mana ada!"
"Ada lah! Lo nya aja, yang kurang wawasan!" ujar Bunga, menghina Farel.
Farel pun tersenyum, mendengar Bunga, telah berani mengatai dirinya. Dia juga, tak segan-segan untuk memakan roti dan meminum minuman kales tersebut. Banyak perempuan, pasti akan menolak dan memakannya nanti. Apalagi, jika cewek itu pemalu. Mungkin, akan sangat sulit dirayu.
"Mungkin nggak, orang yang bantu lo itu, si Alpha? Soalnya, gue nggak nerima pesan lagi, kayak kasus si Bianka sama Jeno, dulu," tanya Farel.
Bunga yang sedang mengunyah roti pun, segera menelannya dan minum. "Aku juga nggak tau. Waktu kasus Aizha, aku nggak terima pesan juga, soalnya."
"Kok bisa? Ehhh bentar, Aizha tuh orang yang dibantu Alpha? Korban bullying Bianka CS sama pengkhianatan Jenokan?" tanya Farel, memastikan.
"Iya, lo nggak tau?" tanya Bunga balik dan Farel pun menggelengkan kepala, sebagai jawaban, tidak. "Dihhh, Wakil Ketua Osis, kok nggak tau sih!"
"Kepala Sekolah aja belum tentu tau!" sahut Farel.
"Ya pateslah, orang dia nggak turun tangan langsung, berhadapan sama Murid-Muridnya!"
"Gue juga Murid, nggak harus turun tangan langsung ngurusin kalian semua!" cetus Farel, membuat Bunga kesal. Dia ingin membalas, tapi telalu malas.
Bunga lebih memilih, melahap rotinya kembali. Farel juga diam, menatap ke arah lain. Tak berselang lama, Bunga kembali buka suara.
"Ohh iya, mungkin nggak sih, orang lain yang nolong aku? Soalnya, gerakan Alpha buat ungkap kasus Bianka CS sama Jeno tuh, keren banget dan terlalu barbar. Mungkin aja kan, mereka beda orang, tapi satu tujuan?" tanya Bunga, mengenai pemikirannya.
"Hmmm." Farel berpikir sejenak. Dia tampak tak setuju, dengan pemikiran Bunga. "Enggak, menurut gue, mereka orang yang sama."
"Kok bisa? Lo ngelak gini, bukan karena takut kalah cerdik sama gue kan?" tanya Bunga, memastikan.
Farel memberikan tatapan jengah dan menjelaskan, "Gue bilang, kalau mereka orang yang sama. Soalnya, rekaman CCTV yang disabotase, editannya sama. Kedua, dia berhasil mengelabuhi Penjaga, dengan cara yang sama."
"Cara apa?" tanya Bunga, penasaran.
"Gue nggak yakin, soal ini sih. Ada kemungkinan, disogok pakai uang atau hipnotis. Ketiga, para Guru dapet kiriman chat yang bentuknya sama. Dia juga membawa Murid ke Aula, namun tak semuanya. Hanya beberapa Murid, yang..."
"Yang apa?" Bunga menunggu.
"Yang bukan Anak Osis dan bermasalah," lanjut Farel, sedikit ragu. Entah kenapa, dia sedikit merinding.
Bunga pun menepuk bahu Farel, khawatir. "Lo kenapa?"
Farel menggelengkan kepala. "Enggak papa, gue sedikit merinding aja."
"Merinding?"
Farel melihay ke arah Bunga. "Alpha kayaknya, bukan orang biasa. Dia juga, membuat semua Guru, Karyawan dan Kepala Sekolah, tunduk padanya. Mungkin, apa yang dibilang Arkana bener."
"Apa? Arkana bilang apa?!" tanya Bunga, penasaran.
"Mungkin, Alpha adalah korban Pembullyan. Tapi, kita nggak tau, siapa orang itu. Kalau bener, dia korban pembullyan, bisa bahaya."
"Kenapa?"
"Banyak orang, bakalan keluar dari Sekolah ini, kayak Bianka CS dan Jeno," sahut Farel dan bell pun berbunyi dua kali. "Gue ada urusan bentar. Lo cepetan balik ke UKS! Soalnya, gue nulis surat ijin, kalau elo istirahat di UKS," ucapnya dan pergi meninggalkan Bunga.
"Apa?! Itu sama aja, lo doain aku sakit dong!" ucap Bunga, namun tak mendapatkan balasan. Farel hanya melambaikan salah satu tangan, tanpa membalik badan.
"Kayaknya, aku harus segera bertindak. Supaya, Vlora dan teman yang lain, nggak dikeluarkan oleh Alpha," gumam Bunga dan pergi dari halaman itu.
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
..."Menghina keluarga orang lain itu nggak baik ya, guys. Kalau kelepasan, berusahalah untuk meminta maaf pada dia dan ampunan kepada Tuhan. Mintalah juga pada Tuhan, untuk menjaga mulut kita,"...
..."Jujur saja, kalau aku menyakiti orang lain dengan mulutku. Entah nanti atau besok, seseorang juga akan melukaiku, dengan ucapan mereka. Mungkin, Tuhan ingin menunjukkan, jika dikatai seperti itu, sangatlah menyakitkan. Meski terkesan sepele, namun sangat membekas,"...
..."Aku lebih memilih, untuk tidak banyak bicara dan menyibukkan diri. Kalau lagi ingat nih, aku selalu minta pada Tuhan, untuk jaga mulutku, ketika kumpul atau bertemu orang nanti. Supaya aku tidak melukai mereka. Kalau ingat sih... Maklumlah, manusia kan tidak sempurna ya, khihihi."...
"Belajar menjaga mulut itu memang sedikit berat, tapi lama-lama juga terbiasa. Sekali-kali kelepasan, maklumlah. Yang terpenting, jangan keseringan! Semangat ya✨"
Seperti biasa, kalau ada typo, salah kata dan penulisan yang tidak enak, mohon dimaafkan. Kalian bisa beri tau aku. Sampai berjumpa di bab selanjutnya, guys💕 ☺️