
...Welcome to Alpha Female๐๐...
...Happy Reading โจ...
...รรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรร...
Firman dan teman-temannya, tengah dalam perjalanan, menuju rumah Meila. Tetapi, dari arah berlainan, terlihat sebuah truk besar, yang hendak menabrak mereka. Namun untungnya, ketika truk besar itu, hampir menabrak mereka. Waktu langsung berhenti. Semua aktivitas terhenti, layaknya sebuah karya benda mati.
Aizha dan Arkana pun keluar, dari mobil. Mereka berdua saling berusaha, untuk mendorong setiap montor, menjauh dari truk. Butuh waktu sedikit lama, untuk mereka menjauhkan para Pemontor itu.
Aizha berusaha, untuk membaca pikiran dan melihat memori mereka sebelumnya. kekuatan ini baru saja dia diberikan oleh Alpha, atas keberhasilannya dalam menyelesaikan misi. Berkat kegiatan tadi pagi di Sekolah. Banyak Murid merasakan kebebasan dan harapan, setelah program tersebut hilang. Para Guru dan Kepala Sekolah juga, telah dikeluarkan.
Arkana yang mengawal Aizha, dari samping. Nampak setia menunggu. Aizha dapat mengetahui tujuan Firman dan teman-temannya sekarang. Dia juga melihat, si Sopir Truk yang disuruh langsung, oleh pemuda berhodie dan memakai masker.
"Firman dan temannya, ingin pergi ke rumah Milea, untuk membunuhnya. Sedangkan, Sopir Truk ini sendiri, diminta oleh Pemuda yang memakai hodie dan masker. Wajahnya sama sekali nggak terlihat. Aku rasa, dia juga memanipulasi Bapak Sopir ini," ungkap Aizha dan diangguki paham, oleh Arkana.
"Itu artinya, kita harus bergerak cepat. Sebelum dia habisi Wahyu, Bisma dan Bagas," kata Arkana dan disetujui oleh Aizha. "Kalau gitu, urusan Firman, biar aku aja yang urus."
"Oke, aku bakalan minta Akhsan, untuk nyusul kamu."
Arkana menganggukkan kepala. Aizha pun pergi, dengan mobil yang mereka gunakan tadi. Waktu yang tadinya berhenti, kini kembali berjalan. Truk itu langsung berjalan lurus, tanpa menimbulkan kecelakaan. Firman dan teman-temannya, hampir saja jatuh, karena waktu yang tiba-tiba kembali berjalan.
"Bu-bukannya kita barusan, hampir aja ditabrak truk? Kenapa kita bisa di sini?" teman Firman, tampak bingung dan gelisah.
Firman juga bingung. Namun, dia tak peduli lagi. Dia meminta teman-temannya, untuk segera pergi ke rumah Milea. Setelah, dia mendapatkan pesan, jika Milea akan pergi ke melaporkan dirinya ke Polisi.
Arkana yang baru saja, membuat pingsan salah satu teman Firman. Langsung mengambil alih montor itu dan pergi menyusul Firman, dari belakang. Pada lain tempat, Innara, Cantika dan Dirgantara, tengah sibuk mencari data korban serta pelaku pelecehan. Sedangkan Bunga, Farel dan Akhsan, sedang mencari-cari semua Vidio aksi tidak senonoh Adik Kelas mereka.
"Akhsan! Aizha minta kamu, buat susul Arkana!" ucap Bunga, memberitau Akhsan. Setelah, menerima telepon Aizha.
Akhsan pun mengiyakan dan pergi dari ruang itu. Tampak raut wajah Farel, berubah menjadi masam. Ketika Bunga ingin ikut melihat vidio rekaman itu. Farel dengan cepat, menutup laptopnya. Bunga yang nampak kesal, tak dipedulikan oleh si Farel.
Dirgantara, Innara dan Cantika, akhirnya keluar dari ruang komputer. Mereka pun bergabung, dengan Bunga dan Farel. Nampak, beberapa print-print nan, telah berada di atas meja.
"Kayaknya, bakalan ada korban yang hamil lagi," ucap Farel, membuat mereka semua terkejut, kecuali Dirgantara.
Dirgantara malah mendesah dan membaringkan tubuhnya ke atas karpet. "Semua data keluarga mereka, udah kami dapatkan. Kita hanya perlu menghubungi mereka dan menjaga para korban, supaya tidak kena amuk, oleh keluarganya," ucap Innara memberitahu.
"Soal pasang kamera, di setiap masing-masing rumah mereka, apa kalian udah pikirin caranya?" tanya Farel.
"Serahin aja ke Aizha," sahut Cantika, sambil tersenyum. Farel pun mengerti dan membuat vidio, dari beberapa rekaman CCTV.
"Apa kita, bakalan tampilin hal ini?" Bunga merasa tidak nyaman dan bersalah, pada para Korban. Jika vidio ini, dipertontonkan oleh banyak Murid serta Guru.
"Kamu pikir, ini bakalan kita pertontonkan, kayak tadi siang?" tanya Farel dan diangguki oleh Bunga, di-iyakan. Farel pun tepuk jidat. "Mana mungkin, aku lakuin hal itu. Ini vidio, cuman bahan bukti di pengadilan."
"Ohhh," Bunga pun tersenyum malu. Sedangkan Farel, hanya geleng-geleng kepala.
Dirgantara yang tiba-tiba terduduk, menyarankan untuk pergi makan malam. Waktu juga, sudah menunjukkan pukul delapan. Ketika mereka berlima, sedang makan malam. Aizha datang dan ikut bergabung. Sedangkan di lain tempat, Arkana tengah beradu bela diri, dengan Firman dan teman-temannya. Akhsan yang baru saja tiba, langsung pergi membantu sang Sahabat.
Firman dan teman-temannya pun kalah. Mereka semua, berhasil mencium aspal yang terasa sedikit hangat. Luka dan lebam, juga telah menetap di tubuh mereka semua. Sedangkan Arkana dan Akhsan, masih bersih, tanpa adanya luka serta lebam.
"Lo mau, gue seret langsung ke orang tua Milea sekarang! Atau, kita kerja sama?!" tawar Arkana pada Firman, yang telah babak belur.
"Kalau lo nggak mau kerja sama. Gue jamin, keluarga lo bakalan hancur dan seumur hidup, akan dipermalukan. Setiap orang di dunia ini juga, enggak akan pernah nerima keluarga lo dan diri elo sendiri!" peringatan dari Arkana.
Firman tampak tertawa sumbang. Dia tidak mempercayai, ucapan Arkana dan menganggapnya, sebagai omong kosong belakang. Firman tetap memutuskan, untuk tidak mau bekerja sama, dengan Arkana. Dia juga, menantang si Arkana.
"Baiklah, kalau itu mau lo!" ucap Arkana, sambil tersenyum kecil dan pergi bersama Akhsan.
...<\=>...
Pagi harinya, Ayah dan Ibu Firman, tengah bertengkar di kamar mereka. Firman yang diam-diam menguping, nampak mulai gelisah dan bersedih. Sang Ayah tampak sangat kesal, karena Kliennya memutuskan kerja sama mereka. Sedangkan Ibunya, terus saja meminta uang, untuk kegiatan sosialita. Tak berselang lama, pesan yang biasa digunakan oleh Alpha, muncul di notifikasi handphone Firman.
Alpha :
Apa aku telah membuat keluargamu menderita?
Aku mendengar semua obrolan mu semalam, dengan Arkana. Melihat sikapmu yang sangat kurang ajar dan berniat, untuk membunuh Milea. Hatiku sangatlah hancur.
Aku juga melihat, bagaimana kau memaksa Milea kemarin.
Haruskah aku, memberimu pelajaran?
Firman yang mendapatkan pesan itu, mulai gemetar ketakutan. Dia tidak ingin, si Alpha gila ini, menghancurkannya nama baiknya dan keluarga. Dia pun segera pergi, dari rumahnya.
...<\=>...
Firman yang baru saja tiba di Sekolah, langsung pergi menemui Arkana dan Farel, di depan ruang OSIS. Dia meminta maaf dan meminta pertolongan Arkana, untuk membantu dirinya. Dia ingin, Arkana menepati janjinya dan membuat Alpha, diam.
"Yang bener aja! Mana bisa, kita ngehentiin Alpha?! Kita aja, enggak tau dia siapa!" seru Farel, sambil menekuk tangannya, ke samping.
"Selama masalah ini, bisa kita langsung selesaikan. Si Alpha, mungkin enggak akan bisa berulah," ucap Arkana dan diangguki oleh Firman, dengan begitu semangat.
Firman pun menunjukkan isi pesan Alpha pada Arkana dan Farel. "Gue rasa, dia kasih gue kesempatan, untuk nyelesain masalah ini, tanpa banyak Murid tau. Dia juga, kayaknya minta gue, buat terima tawaran Lo Bang!"
"Bang?!" protes Arkana dan Farel.
"Bang-bang-bang! Lo pikir, kita ini Abang tukang bakso, hah?!" omel Farel, hanya disenyumi Firman.
"Tapi, kalian harus masuk penjara," kata Arkana dan diiyakan oleh Firman.
Firman bersedia, untuk mesuk penjara. Asalkan, keluarga tidak menderita. Farel pun memberitau, kalau keluarganya tetap akan menderita. Namun, mereka berjanji. Jika, penderitaannya, tidak separah, kalau Alpha yang bertindak. Firman dengan ragu, menganggukkan kepala, paham.
"Oke, tapi ada satu syarat lagi dan mungkin aja, lo bakalan salah paham sama kami," ucapan Arkana, membuat kening Firman mengerut.
"Apa?" tanya Firman, dengan rasa khawatir dan penasaran.
...รรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรรร...
...Bersambung...โจ...
...Sampai jumpa, di bab selanjutnya, guys!๐๐...