Alpha Female

Alpha Female
Bab 31



...Welcome Alpha Female✨...


...Happy Reading guys💕...


...××××××××××××××××××××××××××××××××...


Mobil yang dikemudikan oleh Bunga, menabrak sebuah pohon. Beruntungnya, ada pelindung di bangku depan yang mengembang. Innara juga selamat, karena Aizha memberikan bantal yang besar dan empuk. Aizha meminta teman-temannya, untuk segera sadar dan pergi menjauh dari mobil. Ketika mereka berempat, sedang berlari menjauh. Mobil tersebut tiba-tiba meledak, mengeluarkan api.


"Mobil lo, Zha!" ucap Cantika, dengan pandangan yang datar dan sedih. Namun, Aizha ternyata tidak ada di sisinya. "Sialan!"


Bunga tertawa kecil, melihat Cantika kesal. Terlihat, Aizha sedang berbicara, dengan seseorang di balik telepon. "Iya Oma, aku sekarang ke sana!" ucap Aizha.


Innara dapat mendengarnya. Dia hanya berpura-pura tidak tau saja. Aizha pun menghubungi seseorang untuk datang kemari, menjemput mereka. Setelah itu, dia berjalan mendekat, ke arah teman-temannya untuk berpamitan, "Guys, nanti kita nggak semobil dulu ya. Aku ada urusan soalnya."


"Lo nggak perlu khawatir sama kita," ucap Innara yang mulai kembali seperti dulu lagi.


Aizha tersenyum lembut. Dia senang, karena Innara tak lagi canggung dengannya. Aizha juga berpesan, setelah dari rumah Cantika. Dia harus kembali ke rumah Aizha. Bunga tampak mengiyakannya. Cantika yang berada di lain sisi, tampak curiga.


Mobil pun datang menjemput mereka berempat. Cantika, tampak memeluk erat Aizha dan berterima kasih. Bunga dan Innara, memiringkan kepala merasa heran. Aizha tampak melambaikan tangan, dengan senyum yang lebar.


Ketika mobil Aizha pergi. Mereka bertiga, baru masuk ke dalam mobil satunya. "Pak, apa saya boleh tanya?" ucap Cantika, pada Pak Supir di sebelahnya.


Innara dan Bunga, nampak penasaran. Pak Supir pun menoleh pada Cantika, sebentar. "Boleh banget, Non. Tapi, jangan tanya soal pelajaran atau bahasa planet ya! Saya waktu sekolah dulu, di peringkat tengah-tengah soalnya," sahut Pak Supir, membuat mereka tertawa kecil.


"Kalau sekarang, Pak?" tanya Bunga pada Pak Supir.


"Jangan ditanya Non, cuman bikin malu aja," ujar Pak Supir, dengan ekspresi yang dibuat-buat.


Ekspresi dan cara bicara Pak Supir, membuat Cantika, Innara dan Bunga kembali tertawa.


"Kalau di rumah saya, semua pegawai rumah tangga. Saya ajakin bicara inggris, kadang-kadang. Jadi, sekolah yang mereka jalani dulu, nggak sia-sia," kata Innara, menjelaskan.


"Eitsss, jangan pada salah paham dulu! Bapakkan tadi bilang, kalau nggak bisa bahasa planet. Emang kalian pada ngerti bahasa planet? Kalian pernah ngobrol sama penghuni planet mars, jupiter atau apa?" ucap Pak Supir membuat mereka salah fokus.


"What?!" Bunga merasa tertipu.


"Sial, gue sendiri yang malu jadinya," ucap Innara, memalingkan wajah.


Cantika hanya menahan tawa. Dia menertawakan dirinya sendiri, karena telah salah paham. Namun, seketika dia teringat sesuatu. "Bentar Pak, saya kan tadi mau tanya. Kenapa jadi ngelawak ya?"


"Lahhh, siapa juga yang ngelawak toh Non. Kalian aja yang ketawa sendiri. Saya mah jawab jujur aja, no buatan atau ditambah bumbu komedi," ujar Pak Supir, membuat Cantika sedikit kesal.


"Oke deh, Bapak nggak ngelawak. Sekarang, saya mau tanya nih,"


"Silahkan!"


"Bapak tau, Damian? Minggu kemarin, Aizha harusnya ketemu sama Damian, tapi gagal," ucap Cantika, membuat Innara terkejut.


"Dan kayaknya, Oma dia marah-marah. Apa Bapak tau, soal Damian dan Aizha? Saya hanya khawatir dan mau bantu sedikit. Bapak pasti tau kan, bagaimana Aizha yang selalu bantu saya selama ini? Saya ingin balas budi, meskipun sedikit," ungkap Cantika, memohon pada Pak Supir.


"Emmm, gimana ya, Non." Pak Supir nampak bimbang. Dia menyenderkan kepalanya ke samping, sambil melihat jalan.


"Pak, tolong beritau kami!" pinta Innara, memohon.


Bunga tampak bingung dan ikut memohon, "Tolong Pak, kasih tau kami. Kumohon..."


"Baiklah, Bapak bakalan kasih tau ini. Tapi, kalian jangan terlalu mencolok, jika ingin membantu Mbk Aizha! Jika mbk Aizha merasa tidak nyaman. Dia akan selalu diam, menyembunyikan semuanya, dari saya dan yang lain," pesan Pak Supir dan iyakan oleh mereka bertiga.


"Den Damian itu, adalah Pewaris tunggal dari Perusahaan yang begitu besar. Tetapi, dia termasuk pemuda yang sangat egois dan tidak memiliki sopan santun! Non Layli, saudara sepupu Mbk Aizha itu, adalah orang yang dijodohkan, dengan Den Damian. Namun, Non Layli menolak dan lebih memilih Aden Arka yang baik serta tampan," ungkap Pak Supir, membuat Cantika, Bunga dan Innara paham.


"Sebentar...! Jangan-jangan, Aizha sama Layli ditukar posisinya? Yang seharusnya, Aizha sama si Arka, malah di---" ucap Bunga terpotong.


"Kok tukar posisi to? Mbk Aizha itu, menggantikan posisi Mbk Layli. Awalnya, si Nyonya besar itu, nggak ada niat, untuk mengikat Mbk Aizha dengan perjodohan, karena..." ucap Pak Supir menggantung. "Ini rahasia, Bapak sengaja kasih tau hal ini, karena kalian teman Mbk Aizha yang paling dekat. Dan saya rasa, kalian sangat baik dan tulus."


"Kami janji Pak, nggak bakalan bocorin hal ini!" janji Bunga.


"Iya Pak, kami nggak bakalan kasih tau siapa-siapa! Kami janji!" tambah Cantika.


Innara tampak terdiam sejenak dan berucap, "Kalau terlalu privasi, nggak papa kok, Pak. Saya paham," ucap Innara.


Pak Supir mengerti. Dia tersenyum sangat kecil, melihat Innara. "Saya mau, kalian nggak salah bicara di depan Mbk Aizha. Jadi, saya akan memberitau kalian. Rumah dan kemewahan yang Mbk Aizha terima saat ini, adalah hasil jerih payah Ayahnya sendiri, sampai harus pergi ke luar negeri bertahun-tahun. Nyonya besar mengancam, akan mencoret namanya dari daftar waris, karena hal itu jugalah. Mbk Aizha, tidak terikat dengan perjodohan," ungkap Pak Supir, membuat mereka terkejut.


"Ta-tapi Pak, apa Damian dan Aizha itu tidak dijodohkan? Kalau enggak, kenapa dia---" ucap Cantika terpotong.


Pak Supir malah bertanya, pada Innara, "Menurut Non Innara gimana?"


Innara tersentak, karena mendapatkan pertanyaan secara tiba-tiba. Dia pun berpikir sejenak dan menjawab, "Emm, kalau menurutku, Omanya beri Aizha kesempatan, untuk membuat keluarganya diterima kembali. Mungkin, Aizha nerima perjodohan ini secara diam-diam, demi keluarganya."


"Seratus, untuk Non Innara!" seru Pak Supir, membuat mereka tersentak kaget. "Karena itu, saya harap kalian tidak salah bicara. Saya mau, kalau kalian tidak bertanya-tanya tentang keluarga atau memuji kemewahan yang diterima Mbk Aizha, secara berlebihan. Karena hal itu, membuatnya terluka dan merasa bersalah. Jika kalian bertanya hal itu, dia akan berbohong pada kalian dan membuatnya semakin terpuruk," jelas Pak Supir, membuat mereka bertiga paham.


Cantika, Bunga dan Innara mulai paham, jika situasi Aizha sangatlah berat. Innara dulu sempat bertanya-tanya, kenapa Alpha lebih memilih Aizha ketimbang dirinya. Jika, karena sikap emosionalnya saja, apakah Alpha tidak bisa memperbaiki? Namun, sekarang rasa curiga, iri dan kesalnya lenyap.


Orang tua Innara dan Aizha sangatlah berbeda, namun sama-sama berada di tempat yang sangat jauh. Innara sangat tersiksa, karena sikap Alex dan kedua orang tunya yang sangat cuek serta kasar. Namun, hanya itu saja masalahnya. Sedangkan Aizha, memiliki masalah yang ternyata lebih banyak dan berat. Innara juga berulang kali, bunuh diri namun gagal. Berbeda dengan Aizha, yang terlihat kuat dan menerima takdirnya.


<\=>


"Aizha, tangkap ini!" teriak Damian, sambil melemparkan beberapa paper bag ke arah Aizha.


"Damian!" Aizha nampak terkejut. Para paper bag itu melayang ke arahnya, hingga terjatuh. Bunyi yang ditimbulkan, dari paper tersebut, dapat orang tebak. Jika isi di dalam paper bag, adalah barang yang cukup berat dan ada juga berbahan kaca, karena terdengar suara benda pecah.


...××××××××××××××××××××××××××××××××...


...See you...💕...