
...Welcome Alpha Female✨...
...Happy Reading guys💕...
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
Arkana yang menyadarinya, langsung menendang aset besar Pejubah hitam itu. Pedang yang digenggam pun lepas dan diambil alih oleh Arkana. Dia meminta Akhsan, untuk. segera berdiri dan membantunya, menyerang para Pejubah.
Akhsan tampak sedikit ragu. Namun, melihat Arkana yang kesulitan, melawan para Pejubah itu. Dia tidak dapat berdiam diri. Dia pun menendang perut salah seorang Pejubah yang hendak melayangkan pedang ke arah Arkana.
Akhsan yang berhasil mengambil pedang, dari Pejubah tersebut, langsung melayangkan pedang itu. Dia dan Arkana pun, melawan mereka, dengan bela diri. Terkadang, mereka juga harus melayangkan pedang, untuk melindungi diri.
"Arkana! Belakang lo!" teriak Akhsan, sembari membanting seorang Pejubah.
Arkana pun membalikkan badan, sembari melayangkan pedang. Mata Akhsan tampak membulat, dengan sangat sempurna. Sebuah kepala melayang dan jatuh ke jalan. Pedang yang Arkana pakai barusan, juga terjatuh. Tanpa sengaja, dia telah memutuskan kepala Pejubah itu, dari tubuhnya.
"Ar..." Akhsan mulai khawatir. Arkana yang mematung pun, sama terkejutnya.
...<\=>...
Aizha dan Innara, pergi menjemput Arkana serta Akhsan. Innara yang sedang fokus menyetir mobil, tampak melirik Akhsan yang duduk di sebelahnya. Dia juga, terkadang melihat ke arah belakang. Terlihat, si Arkana yang terus saja diam dan Aizha yang tampak mengkhawatirkannya.
"Bukannya kalian, anak gangster? Cuman begini aja, kalian down?" seru Innara, sembari fokus menyetir.
"Tapi, ini pertama kalinya, kita penggal kepala orang," sahut Akhsan, membuat Innara berdecak.
Innara tak percaya. jika mereka berdua, ternyata hanyalah seorang pecundang. Akhsan yang mendengarnya, tampak kesal. Namun, dia tidak membalas. Rasa bersalahnya, masih membekas di benak.
Aizha tampak menatap wajah Arkana, dengan ekspresi sendu. "Apa ada yang bisa aku bantu, Ar?"
Arkana menoleh ke arah Aizha dan menjawab, "Tolong, rahasiakan masalah ini, dari siapapun juga. Jangan sampai, Polisi atau orang lain, tau hal ini."
"Tenang aja, enggak akan ada orang biasa atau warga sekitar, yang tahu hal ini," kata Aizha, berusaha menenangkan dan membuatnya percaya.
Arkana pun menganggukkan kepala kecil. "Ada satu hal lagi," pinta Arkana dan Aizha pun mendengarkan. "Hilangkan memori ku, waktu penggal kepala dia."
Aizha langsung menganggukkan kepala, mengiyakan. Innara yang mendengar, tampak tersentak. Akhsan pun, sampai menengok kebelakang dan meminta hal yang sama. Namun, Aizha hanya bisa melakukan hal itu, dengan membuat mereka berdua pingsan. Arkana dan Akhsan, langsung menyetujuinya.
Innara pun menghentikan mobil itu. Dia dan Aizha, langsung memukul bagian belakang Arkana serta Akhsan, hingga pingsan. Setelah keduanya, Innara kembali melajukan mobil. Sedangkan Aizha, tengah sibuk menghapus memori Arkana dan Akhsan. Pada lain tempat, Cantika dan Dirgantara, tampak sedang mengobrol serius, dengan Kania di ruang Pribadi yang disediakan oleh Cafe.
"Kalian mau hancurin progam Murid VIP, bukan?" tabak Kania, membuat Cantika terkejut.
"Kenapa lo, bisa mikir kek gitu?" tanya Cantika.
"Udahlah, kalian nggak perlu deketin Meira. Gue bakalan kasih tau semuanya!" ujar Kania, dengan ekspresi datar dan arogan.
Dirgantara pun, menaruh handphone ke atas meja. Dia menghidupkan rekam suara, untuk bahan bukti. "Bagus, kalau gitu, kita mulai sekarang aja!"
Kania menjeda rekaman suara itu. "Tidak semudah itu, Bapak Dirgantara!"
Dirgantara menatap Kania, kesal. "Apa mau lo?"
"Bilang ke Ayah lo, kalau elo mau dijodohin sama gue!" pinta Kania dan langsung ditolak mentah-mentah, oleh Dirgantara.
Cantika tampak lega, ketika Dirgantara langsung menolak Kania. Sedangkan Kanianya sendiri, tampak menatap Dirgantara marah. "Elo sekarang butuh gue! Apa lo nggak bisa, turunin ego sedikit?!"
"Gue kasih lo, satu kesempatan lagi. Kalau lo masih nggak mau kerja sama kita. Gue bakalan aduin ini ke Bokap lo!" Dirgantara menunjukkan foto Kania yang mengenakan pakaian seksi, dengan tiga pria di sekelilingnya. Nampak juga, pada tangan cantik itu, ada rokok yang terjepit, di kedua jari.
Kania tampak begitu kesal, hingga berdecak. Belum selesai, dengan satu bukti foto itu saja. Dirgantara kembali mengeluarkan Vidio. Terlihat, seorang pemuda yang polos, tengah digoda oleh Kania. Melihat hal itu, Kania langsung merebut handphone Dirgantara.
"Gue kagak janji!" sahut Dirgantara, membuat Cantika tercengang. Kania sendiri, semakin marah dan kesal. "Tapi gue pastiin, kalau rahasia lo aman di gue. Lo tau gue kan?"
Kania benar-benar marah. Dia berusaha, untuk menahan semua amarah yang ada. Dia pun memberikan cara, jika Dirgantara dan Cantika, ingin menghancurkan progam Murid VIP itu. Setelah mendapatkan informasi tersebut. Dirgantara dan Cantika pun, pamit pergi.
"Gila, ini mudah banget sumpah," ujar Cantika dan masuk ke dalam mobil.
Dirgantara pun memakai sabuknya dan mulai menjalankan mobil itu ke jalan raya. "Kalau rame-rame gini, biasanya emang jadi ribet dan lama."
Cantika tampak setuju, dengan pernyataan Dirgantara barusan. "Apa mungkin, kalau Aizha ngurus hal ini, tanpa kita-kita. Dia bisa menyelesaikannya, dengan cepat?"
Dirgantara pun menjawab, "Mungkin."
Cantika pun diam dan menatap ke arah depan. Sedangkan, Dirgantara mulai bertanya-tanya, untuk apa Aizha melibatkan banyak orang dan membongkar rahasianya. "Cantika, apa gue boleh tau. Apa tujuan Aizha, melibatkan kita dalam urusannya?"
"Di sistem, ada misi Alpha Female Alpha Male. Setiap orang yang telah mendapatkan bantuan dari sistem, harus menjalankan misi, dengan membantu banyak orang di sekitarnya. Apalagi, jika nasibnya sama," jelas Cantika dan masih disimak oleh Dirgantara. "Alpha sendiri, maknanya adalah seorang Pemimpin, dari sekelompok orang, yang akan memberantas kejahatan atau penindasan, demi kebahagiaan, keadilan dan kebebasan. Tapi, ini menurut pandangan gue pribadi. Gue nggak tau, Aizha tanpa sadar atau sengaja, ingin melibatkan kita apa enggak," lanjutnya.
"Maksud lo?" tanya Dirgantara, dengan kening yang mengerut. Dia juga, menghentikan mobil, karena lampu merah.
"Menjadi Pemimpin dari sebuah kelompok, untuk tujuan seperti itu, seperti kewajiban Alpha. Kalau orang yang mereka pilih, tidak mau melakukannya. Bukankah, mereka bisa mengendalikan Aizha, untuk tetap pada tujuannya?" ujar Cantika, sembari melihat ke arah Dirgantara.
"Itu artinya, sebelum kita kasih ini bukti ke Aizha dan yang lainnya. Kita harus pastiin, Aizha ada dibawah kendalinya atau tidak," ucap Dirgantara.
"Tapi, caranya gimana?" tanya Cantika dan Dirgantara pun menatap ke arah depan, berpikir.
<\=>
Tiba di Apartemen Arkana. Mereka kini, tengah berkumpul bersama, di ruang makan. Terlihat, si Bunga dan Farel yang mengeluhkan, kondisi mental Meira. Mereka baru menunjukkan bukti, tentang kehamilan Meira saja. Orang itu langsung bertingkah aneh, layaknya orang stress. Mau tidak mau, Farel dan Bunga, terpaksa pergi meninggalkannya.
Cantika dan Dirgantara sendiri, hanya saling melempar mata. Mereka berdua, melirik ke arah Aizha, yang terlihat sedang berfikir. Arkana dan Akhsan pun, berada di sana, dalam kondisi yang baik. Mereka ikut berpikir, untuk memikirkan cara yang lain.
Dirgantara yang tak tahan pun, berdeham. Banyak mata, langsung mengarah padanya. Cantika, tampak risau sendiri. "Gilak, apa dia bakalan tanya di sini? Di depan anak-anak lain?!" batinnya, tak percaya.
"Zha, mungkin enggak, kalau sistem Alpha, ngedaliin elo?" tanya Dirgantara, secara mendadak.
Innara, Bunga, Farel dan Akhsan, tampak terkejut. Arkana sendiri, langsung mempertanyakan maksud pertanyaan Dirgantara. Sedangkan Aizha, masih menyimak dan mendengarkan.
"Gue cuman mau mastiin, kalau orang yang kita andalkan atau dekat, dengan sistem. Bukanlah orang, yang dikendalikan atau bisa dibilang, mayat hidup," ujar Dirgantara, membuat mereka semua kaget.
Aizha sendiri syok, dengan pernyataan Dirgantara. "Mayat hidup?" tanyanya, terdengar kecewa.
"Robot memang dikendalikan. Tapi, elo bukan robot, melainkan manusia. Itu artinya, lo mayat yang tidak bernyawa. Itu sama artiannya, dengan meminjam tubuh, tanpa ijin arwahnya, alias mayat hidup," seru Dirgantara, membuat mereka tersentak.
"Lo ngomong apaan sih, Dir?! Ngaco, banget dah!" Innara mulai kesal.
Dirgantara tak peduli dan melihat ke arah Aizha. "Kalau mau urusan ini cepat selesai, buktiin ke gue sekarang. Supaya, gue nggak curiga sama lo."
"Andaikan, aku memang dikendalikan, apa ada masalah?" tanya Aizha, membuat Dirgantara tersenyum kecil.
"Lo bayangin aja! Kalau seandainya, kita ada dibawah kendali AI atau teknologi canggih lainnya. Gimana perasaan lo?" perkataan Dirgantara barusan, membuat Aizha diam.
Aizha pun memikirkan cara, untuk membuktikannya. Namun, sistem Alpha tak kunjung datang. Dia mulai resah dan bingung
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
...See youuu😘....