
...Happy Reading✨...
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
Aizha tampak baru saja keluar dari dalam mobil. Terlihat rumah mewah di depan mata Aizha. Gerbang besar itu, dibuka oleh sang Satpam. Dia mempersilahkan Aizha untuk masuk. Sang Bodygruad menghampirinya dan mengantarkan ke dalam rumah.
"Hai!" sapa seseorang dari jauh.
Aizha hanya tersenyum. Orang yang menyapanya, adalah Innara. Mereka berdua duduk di ruang tengah. Tampak, Innara juga membawa laptop dan handphone.
"Kamu nggak curiga atau gimana gitu, waktu liat hologram yang tiba-tiba muncul?" tanya Aizha, pada Innara yang sedang sibuk berkutip di laptop.
"Kagetlah, mangkanya gue diem-diem ngelihatin elo, kayak Penguntit," ujar Innara, membuat Aizha tersenyum kaku.
Aizha pun melihat Innara yang sedang mengakses aplikasi khusus, untuk Murid di Sekolahnya. Nama aplikasi tersebut, Bikgrad. Tampak Innara telah mendapatkan tiket VIP.
"Waw!" Aizha takjub, tanpa bantuan Alpha. Innara dapat tiket VIP.
Innara tersenyum senang. "Inilah keuntungan yang bisa lo dapet, kalau jadi Pacar, si Preman Sekolah."
Aizha tertawa kecil, mendengar ucapan Innara. "Ohh iya, sekarang Alex udah keluar. Dia pergi ke area terpencil, karena perusahaan Ayahnya bangkrut."
"Hmm, terus?"
"Aku cuman bikin mereka rugi besar. Kenapa mereka bisa jatuh sampai kayak gitu?" tanya Aizha, mencurigai Innara.
"Gue, ngapa?" Innara menatap wajah Aizha, dingin. "Gue nggak akan biarin dia, kembali ke sini. Kalau mau hancurin orang, jangan setengah-setengah!"
Aizha hanya terdiam. Dia tampak tak begitu suka, dengan Innara. Namun, apa yang dikatakan memang benar. Jika, Ayah Alex berhasil bangkit. Alex pasti, akan kembali datang dan menyiksa Innara kembali.
"Malam ini, lo cuman mau pantau mereka kan?" tanya Innara memastikan. Dia menutup laptop.
"Iya, kalau ada unsur kekerasan, pembullyan atau pelecehan. Aku mau, kita bisa kerja sama!" tatap Aizha pada Innara, serius.
Innara menganggukkan kepala. Sebuah hologram pun muncul. Dia memberitau, item terbaru yang dapat diakses oleh lebih dari satu orang. Hanya saja, mereka yang akan menggunakan sistem ini, haruslah melalui persetujuan Aizha dahulu. Setelah membaca aturan, Innara langsung membungkukkan badan, menggoda Aizha. Tampak keduanya telah menjadi akrab, dalam sekejap.
<\=>
Malam hari telah tiba. Banyak Murid yang datang ke Sekolah. Mereka semua, terlihat sangat senang dan santai. Aizha dan Innara, berjalan dengan arah yang berbeda. Mereka berdua, mengenakan topi, masker dan rambut palsu yang berwana.
"Apa kita, nggak kelihatan mencurigakan, In?" tanya Aizha, khawatir.
"Enggak Zha, ada banyak orang yang kayak kita. Noh lihat!" Innara menunjuk seseorang di depan, dengan dagunya. "Pelanggan VIP, pakai beginian mah maklum. Soalnya, mereka nggak mau. Orang di tengah lapangan tau, siapa mereka yang sebenarnya, karena kita dapat meminta apapun itu!"
Aizha mengernyitkan kening. "Meminta... Andre dan teman-temannya, untuk ngabulin keinginan mereka dalam hal kekerasan atau pelecehan?"
"Yups!" sahut Innara dan dia pun menyuruh Aizha, untuk duduk di samping. Dia mendekatkan kepalanya ke arah Aizha. "Tapi, untuk hari ini, kita cuman perlu lelang harga. Mereka bakalan kasih tunjuk beberapa barang ilegal. Mereka nggak akan tunjukin aksi pelecehan atau bully."
"Kenapa?"
"Ada Dirgantara," sahut Innara, sembari melihat Dirgantara yang sedang bersandar di dinding, dengan buku di tangan. Tampak Andre dan kedua temannya, membungkukkan kepala dan tersenyum lebar.
"Lo tau kan, kalau dia itu bagian dari Aples, kayak Arkana, Akhsan sama Farel?" tanya Innara memastikan dan diangguki oleh Aizha. "Merekalah, donatur terbesar di Sekolah ini. Tapi, Paman Arkana lah, pemilik Sekolah ini. Mangkanya, dia jadi Ketus Osis dan Pemimpin Aples," jelasnya dan Aizha pun ber-ohh saja.
"Sebentar... Andre CS, memilih buat tema hari ini penjualan barang, karena salah seorang anggota Aples, ngepantau mereka?" tanya Aizha yang mulai paham dan diangguki oleh Innara.
"Kalau yang jaga Farel atau Akhsan, masih bisa diselipin adegan bully atau pelecehan sebentar. Tapi, kalau yang mantau Arkana atau Dirgantara. Jangan pernah coba-coba!" kata Innara, membuat Aizha penasaran.
Aizha hanya tau, jika Arkana dan Dirgantara adalah Murid yang tidak banyak bicara di luar, dingin, tegas dan tanggung jawab besar. Dia tidak pernah tau, kedua cowok itu marah apalagi bertengkar.
"Emang kalau ketahuan sama Arkana dan Dirgantara kenapa?" tanya Aizha, kepo.
"Kalau lo ketauan sama Dirgantara. Lo bisa tertekan sampek gila, auranya bener-bener kek psikopat. Salah anggota Alex dulu, ada yang ketahuan nyuri data Sekolah. Dia cuman diajak ngobrol sama Dirgantara dan berakhir di Rumah Sakit Jiwa," cerita Innara, pelan.
Aizha pun ngeri sendiri. Innara tertawa kecil, melihat reaksi Aizha. "Heh, nggak usah sok suci lo!" tegur Innara, sembari menepuk lengan Aizha. "Elo aja, nggak beda jauh sama dia!"
"Apa?! Kapan?"
"waktu kasus Bianka sama Jeno?" sahut Innara, membuat Aizha terdiam. "Lo nggak tau apa, Rena sekarang jadi gila, gara-gara elo! Bianka hampir bunuh diri, karena hamil anak Jeno!"
"Ham---" Aizha yang terkejut, langsung dibungkam Innara.
"Stststttt, acaranya udah mulai! Jangan sampek, kita jadi bahan sorotan mereka dan kena omelan si Dirgantara!" peringatan dari Innara.
Pembukaan acara telah dimulai. Aksi jual beli barang ilegal pun dimulai. Innara juga membeli satu barang, sebagai syarat dan mempertahankan kartu VIP-nya. Dua jam berlalu, Innara dan Aizha pun pergi, menggunakan mobil putih.
"Ohh iya, kamu baru kasih tau, soal Dirgantara. Kalau Arkana gimana?" tanya Aizha.
Innara yang sedang menyetir pun menoleh dan tersenyum kecil. "Alex pernah bilang, kalau Arkana bukan orang sembarangan. Gue mulai paham, waktu ketemu Akhsan di tengah jalan, dini hari. Geng yang lo panggil buat habisi Alex itu, di Ketuai oleh Arkana dan Akhsan Wakilnya."
"Lohhh, bukannya itu rahasia ya? Aku tau itu aja, berkat bantuan sistem Alpha.
"Lo pernah lihat, cara dia bela diri atau coba kekuatannya? Si Alex yang tubuhnya lebih besar sedikit aja, bisa langsung dibanting. Tapi, kalau sama Murid biasa kayak Andre. Arkana paling ngancem, pakai aksi."
"Contohnya... Arkana buka atau nutup pintu kasar, buku dibanting ke meja, kalau paling fatal. Dia pernah lempar bola basket sampek kaca pecah."
Aizha tampak ragu. "Cuman begitu?"
"Heh! Dia itu Ketua Osis, loh Zha! Ada nama baik yang harus dijaganya. Lo jangan ngeremehin tuh orang. Kita cuman ditatap aja, bisa merinding!" ujar Innara, tak terima.
Apa yang dikatakan Innara ada benarnya. Aizha yang pernah bertatap mata, dengan Arkana saja, rasanya udah campur aduk. Dia juga menuruti kemauan Arkana, untuk memakan bubur, waktu di UKS dulu.
[Bicaralah pada Bunga]
[Innara tidak dapat melihatnya]
[Kami sudah memperbarui sistem ini]
"Ehhh, manusia dong, berarti yang ciptain nih sistem?" batin Aizha, terkejut.
<\=>
Bunga yang sedang bersiap-siap pergi ke Sekolah, mendapatkan notifikasi pesan dari Aizha. Dia mengajaknya bertemu di halaman belakang sekolah. Dia pun tersenyum dan segera membalas.
Bunga turun ke lantai bawah. Dia pergi sarapan sadwith di ruang makan. Tak berselang lama, sanga Mamah muncul, dengan koper besarnya.
"Mamah!" panggil Bunga, senang. Dia menghampiri Mamahnya dan berpelukan.
Mamah membelai rambut Bunga, dengan penuh kasih sayang. Tampak begitu erat, dia memeluk sang Putri. Bunga merasa sedikit aneh, dengan sikap Mamahnya yang tiba-tiba.
Mamah melepaskan pelukannya dan meraih kedua tangan Bunga. "Hari ini, kamu ijin aja, ya sayang?"
Bunga menaikkan alisnya, bertanya-tanya. "Kenapa Mah?"
"Ikutin kata Mamah, aja. Sekarang kamu kemasi semua pakaianmu dan pergi piknik bareng Mamah!" ajak Mamah, sambil tersenyum lembut.
"Tapi... Bentar lagi UTS, Mah."
"Enggak papa, Mamah nggak peduli. Kamu dapet peringkat bawah sekalipun! Mamah enggak akan marah! Kamu juga, nggak perlu khawatir soal kritikan keluarga Ayahmu itu. Ada Mamah sama keluarga di Desa yang bakalan ada buat kita berdua," ujar sang Mamah.
"Maksud Mamah, apa? Apa kalian berdua bertengkar?" tanya Bunga yang mulai resah dan tidak nyaman.
Mamah berusaha tersenyum, meski setitik air mata jatuh. "Enggak sayang, tolong Mamah, sekali... ini aja! Ikutin perintah Mamah! Kemasi pakaianmu dan ayo pergi!"
"Enggak! Aku nggak bisa, Mah! Tolonggg, jangan pisah! Aku mau tinggal sama kalian berdua!" pinta Bunga, sembari menangis. Dia memohon, sambil menggegam kuat tangan sang Mamah.
Mamah pun ikut menangis. Dia tidak memperdulikan permintaan Bunga. Dia pergi, untuk menggemasi barang-barang Bunga ke dalam koper, secara terburu-buru. Bunga berusaha, untuk menahan sang Mamah, tetapi gagal.
Bunga ditarik sang Mamah, dengan paksa. Mereka berdua pergi ke lantai bawah, dengan koper besar. Tangis dan permohonan Bunga menggema. Bibik hanya bisa terdiam, tak bisa berbuat apa-apa. Mamah juga meminta maaf pada Bibik dan berterima kasih.
Ayah tiba-tiba muncul, ketika Bunga dan Mamah, tiba di ruang tamu. Mamah tampak begitu terkejut dan menggegam tangan Bunga, dengan sangat kuat. Ayah yang melihatnya, marah.
"Jangan bawa Bunga! Kalau kamu mau pergi, silahkan! Tapi, jangan bawa Putriku!" peringatan dari Ayah Bunga.
Mamah tertawa kecil. "Kamu bilang apa, Putrimu? Kamu yakin, Bunga itu putrimu? Kamu nggak salah orang hah?!"
"Hiks hiks hiks, Mamah sama Ayah, jangan bertengkar, kumohon... Aku mau tinggal sama kalian berdua. Aku nggak mau pisah dari kalian!" pinta Bunga, sembari menangis tersedu-sedu.
Mamah yang ikut menangis, langsung menyeka air matanya. "Ayo pergi!" ajak Mamah dan menarik paksa Bunga.
Ayah pun mencegah. Dia berusaha melepaskan tangan Istrinya dari Bunga, dengan begitu kuat. Bunga tampak mengernyit, kesakitan. Mamah yang merasa kesakitan juga, langsung mendorong sang Suami, dengan kencang.
"Ayah!" panggil Bunga, terkejut.
Ayah terjatuh, hampir membentur sofa. Mamah pun segera menarik Bunga untuk pergi keluar dari rumah. Ayah langsung berdiri dan mengejarnya. Dia meraih tangan sang Putri dan memberikan tatapan tajam pada sang Istri.
"Jangan bawa Bunga, kalau kamu nggak bisa membuatnya bahagia!" seru Ayah. "Kamu cuman cewek kampung, nggak bisa kerja dan terbiasa hamburin uang! Kamu nggak akan bisa hidup, tanpa hartaku! Jadi, jangan bawa Bunga!"
"Aku memang cewek kampung dan lulusan SMP. Aku juga nggak berpengalaman kerja dan jadi tukang belanja, karena hartamu yang membacakanku. Tapi, aku tidak sebrengsek dirimu yang berani mengkhianati dan menipu kami berdua sejak awal nikah!" ungkap Mamah, penuh benci, kesal dan amarah.
Bunga tampak terkejut. Dia menatap sang Ayah, tak percaya. "Ayahhh, selingkuh?"
"Jangan deng---" ucap Ayah terpotong.
"Iya! Bukan hanya selingkuh, Bunga! Ayahmu ini, telah memiliki anak perempuan selain kamu!" ungkap Mamah, membuat Bunga terkejut.
Ayah yang begitu kesal, langsung menampar sang Istri, dengan sangat kuat. Mamah terjatuh, membentur spion mobil, hingga berdarah. Bunga pun menghampiri sang Mamah, sambil menangis. Sang Ayah tampak begitu terkejut, hingga mematung.
"Mamah... Bangun Mahhh!" pinta Bunga, sembari memeluk erat sang Mamah yang jatuh pingsan.
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
...See you...💕...