
...Welcome Alpha Female✨...
...Happy Reading guys💕...
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
"Makasih Ar," ucap Aizha pada Arkana.
Arkana hanya tersenyum dan mengajak Aizha duduk ke sofa. Terlihat beberapa hasil foto kematian para Murid dan Guru di Sekolah, akhir-akhir ini. Mungkin banyak yang tidak paham, kenapa Arkana bisa berada di sini, dengan kondisi normal.
Beberapa hari yang lalu, Arkana menyadari sesuatu telah menghilang di memorinya. Dia membaca pesan yang baru saja di pulihkan di handphone barunya. Terlihat pembahasan tentang Alpha di grup, membuat mereka terlihat stress. Terakhir kali chat pun, dia dan Dirgantara tengah pergi ke lokasi, untuk menemui si Alpha. Tetapi, mereka malah berakhir di Rumah Sakit.
Arkana tidak tenggal diam. Dia meminta seseorang, untuk mencaritau lokasi terakhirnya, sebelum masuk ke Rumah Sakit. Perlu waktu cukup lama, untuk Arkana dan temannya, berakhir di Rumah megah Aizha. Arkana yang berada di Rumah sebelah, melihat Aizha, Vivi, Hasan dan Diego yang sedang mencuci mobil bersama, di halaman mereka.
Arkana semakin yakin, ketika temannya berkata. Jika, dirinya berada di titik ini, paling lama. Dia dapat menebak, kalau dia serta Dirgantara, tengah menunggu Alpha dan mengikutinya, ketika pergi keluar. Alpha yang menyadari hal ini, membuat dirinya dan Dirgantara celaka. Hal itu diakui oleh Aizha, ketika mereka bertatap muka. Mereka berdua pun bekerja sama, untuk membersihkan nama baik Sekolah dan sepakat, melindungi para Murid bersama.
"Aku berusaha, untuk minta Cantika, Bunga dan Innara berhenti, melakukan misi ini. Tetapi, meraka malah marah dan salah paham ke aku," ngadu Aizha pada Arkana.
"Gue paham kok, Dirgantara sama Farel dulu, juga kayak gitu. Waktu mereka tau, kalau gue sama Akhsan bikin kumpulan sendiri, tanpa mereka. Butuh waktu lama, untuk balik kayak biasanya. Lo jelasin pun, mereka enggak akan denger, karena udah terlanjur kecewa," jelas Arkana, disetujui oleh Aizha. Apa yang dia katakan benar.
Arkana dan Aizha sempat bicara berdua, sesudah dirinya membakar gedung yang ditempati Farel. Arkana bercerita, dia menyadari hal janggal, ketika di Rumah Sakit. Ada seseorang yang masuk, dengan aura aneh. Dia terlihat sedikit familiar, dengan sosok itu. Tetapi, dia cukup kesulitan, untuk mengetahui siapa orang itu.
Arkana hampir saja mati, karena orang tersebut. Dia hendak menyuntikkan sesuatu pada lengannya. Beruntung sekali, Ayah tiba-tiba datang dan menyelamatkan dia. Namun, orang itu seketika menghilang. Ayah juga tidak ingat, dengan apa yang terjadi. Hanya Arkana seorang, yang mengetahui hal itu.
Arkana pun meminta Aizha, untuk tidak melibatkan Innara, Cantika serta Bunga. Orang dengan aura yang sama, akhir-akhir ini telah mendekati mereka bertiga. Arkana yang masih berpura-pura konyol di Sekolah maupun di rumah, seketika tersadar. Ada orang-orang, dengan aura aneh itu, mulai mengelilinginya juga. Dia merasa, orang yang mengincarnya, merasa curiga dengan Arkana. Karena hal itulah, dia mengirimkan banyak orang, untuk memantau dirinya.
Aizha tampak begitu murung. Dia pusing, dengan kondisinya sekarang. Arkana pun meraih salah satu tangan Aizha, untuk memberinya kehangatan dan kekuatan. "Elo ada sistem Alpha. Meskipun, gue masih enggak percaya, apa itu beneran ada. Tapi, gue bakalan berusaha sebisa mungkin, untuk percaya! Sekalipun nggak nalar di otak!" celetuk Arkana, membuat Aizha tertawa kecil.
"Gue yakin, elo pasti berhasil, dengan bantuan sistem Alpha! Ada Tuhan, yang akan mendukung lo juga, karena tujuan baik kita semua! Apapun yang terjadi, kita lalui aja dan jadikan sebagai pelajaran. Siapapun yang meninggal, karena bantu elo. Kita berdoa, supaya mereka bisa tenang di surga sana," ucap Arkana dan diaminkan oleh Aizha.
"Ohh iya, apa ada cara, untuk ningkatin kekuatan lo?" tanya Arkana dan diangguki oleh Aizha, mengiyakan.
"Aku harus sering bantu orang, dengan item yang diberikan Alpha. Tapi, beberapa item yang pernah aku dapati dulu, sekarang melekat di tubuh ini," ucap Aizha, sambil memegangi dada. "Aku sekarang, juga bisa bagi kekuatan ini, ke orang lain. Tapi, resikonya..."
Arkana mengerti dan menggegam erat telapak tangan Aizha. "Aku bakalan cari sebanyak mungkin, pedonor darah yang sesuai, denganmu. Kalau perlu, setiap orang yang kecelakaan, gue bakalan bawa lo ke sana!"
Aizha tersenyum lebar dan menepuk lengan Arkana, malu. Dia menyadari, hatinya telah benar-benar beralih ke Arkana. Apalagi, dia juga telah membatalkan perjodohannya, dengan Layli. Aizha menjadi lebih bebas, untuk dekat-dekat atau menyukai Arkana. Mengingat, dia juga mengetahui rahasia terbesarnya.
Dirgantara yang sedang belajar di Perpustakaan Kota, tampak kesakitan. Kepalanya terasa begitu nyeri dan menusuk. Dia pun pergi ke Apotik, dengan menaikki mobil online. Tanpa disadari, dia bertemu dengan Cantika di sana.
Cantika dan Dirgantara pun, pergi ke minimarket terdekat, untuk menumpang duduk. Cantika dengan baik hati, memijat kepala Dirgantara, untuk meringankan sedikit, sakit kepalanya. Sebuah keajaiban, Cantika berhasil membuat kepala Dirgantara, terasa sedikit ringan dan tidak nyeri.
"Makasih Can, aku udah mulai enakan," ucap Dirgantara, membuat Cantika berhenti dan menganggukkan kepala, sambil tersenyum.
Cantika duduk dibangku sebelah, sambil menatap ke arah depan. Dirgantara pun ijin, untuk pergi masuk ke dalam mini market. Dia sempat memberikan tawaran pada Cantika, namun ditolak. Dia pun tetap pergi, dengan kedua botol minuman di tangannya.
"Ck, maksa banget! Orang udah dibilangin, nggak perlu!" seru Cantika.
"Terima aja!" paksa Dirgantara, sambil memaju-mundurkan botok minuman itu ke wajah Cantika.
Cantika pun menerima, dengan gengsi. Dirgantara meneguk minuman botol itu dan bertanya, "Gue sebenarnya ngerasa aneh, kayak nggak biasanya kek gini. Ada yang beda dari gue. Elo tau, kenapa?"
Cantika sempat tersedak, dengan ucapan Dirgantara. Dia pun menutup botol minuman itu dan menaruhnya ke atas meja. "Enggak," sahutnya, berbohong. "Lo udah sadar? Ada yang berbeda sama kelakuan lo sekarang?"
"Iya, gue kayak bingung sendiri. Waktu minta Bibik, bikinin makanan atau minuman manis. Lidah gue, rasanya kayak kaget atau ngerasa asing gitu. Tapi, gue kepingin banget," ungkap Dirgantara dan diangguki oleh Cantika.
"Terus?"
"Gue sempat mikir tuh! Mungkin enggak ya, kalau gue dikekang atau diatur ketat sama orang tua. Tapi, keknya salah juga. Banyak yang bilang, gue berubah sejak kecelakaan hari itu," ujar Dirgantara, yang masih pusing sendiri.
"Ohhh, efek kecelakaan paling. Enggak usah dipikirin kenceng-kenceng, dibuat santai aja. Lo pasti bakalan sembuh dan balik seperti semula!" sahut Cantika, membuat Dirgantara menganggukkan kepala, patuh.
"Apa perlu, gue kasih tau hal ini ke Aizha? Tapi... Dia jadi sedikit menyebalkan. Kalaupun gue biarin hal ini, bisa bahaya nggak ya?" batinnya, resah. Tanpa Cantika sadari, ada seseorang yang hendak mendekat ke arahnya. Beruntung, Dirgantara sigap melindunginya. Matanya terbelalak, melihat sosok itu.
...×××××××××××××××××××××××××××××××...
...Lanjut besok......
...Maaf, kalau ada salah kata ataupun typo. Jika ada nama atau hal yang menyinggung, tolong dimaafkan ya. Ini hanya sekedar karangan, untuk melepaskan rasa gabutku....
...Semoga kalian suka dan membaca hingga tamat. Berikan dukungan kalian, dengan like👍 vote dan hadiah🎁 Tap lopenya juga ya❤️ untuk mengetahui Alpha Female update✨...
...See you...💕...