Alpha Female

Alpha Female
Bab 14



...Welcome to Alpha Female✨...


...××××××××××××××××××××××××××××××××...


"Apa yang darurat? Jangan-jangan, usiaku nggak panjang lagi ya?" ucap Aizha polos.


...[Jangan bercanda!]...


"Aku serius!" ucap Aizha, tidak lagi bercanda.


...[Baiklah]...


...[Biodata Innara]...


Nampak wajah dan data lengkap, tentang Innara terpampang jelas di layar hologram. Mata Aizha membulat, tak percaya. Dia bertanya-tanya, apa yang telah terjadi. Dia pun membacanya, dengan sangat cermat.


"Tuhhh kan bener!" dugaan Aizha selama ini benar. Ada yang aneh, dengan hubungan Alex dan Innara. Mereka tidak seperti yang dirumorkan anak-anak.


Pada data tersebut, tertulis dengan sangat jelas. Jika Innara adalah korban pelecehan si Alex. Ada data juga yang memberitau Aizha, jika Innara sudah satu tahun lebih mengalami ini. Innara juga dipaksa, untuk meminum sebuah obat oleh Alex. Supaya dia tidak hamil. Obat tersebut, semakin lama dikonsumsi, akan bisa membuat seseorang mandul.


"Apa kamu bisa kasih tau aku, berapa persen Innara sekarang bisa hamil?" tanya Aizha, serius. Namun tiba-tiba, dia jadi malu sendiri. "Ehhh, aku cuman penasaran aja, loh. Soalnya kan yang kita bahas tentang beginian."


...[75%]...


"Waduh, gawat dong!" Aizha terkejut, melihat hologram tersebut.


...[Aku mau kamu bantu Innara lepas dari Alex!]...


...[Untuk misi ini, tingkat item cerdas akan aku tingkatkan levelnya dan tenaga yang kamu keluarkan juga, tidak terlalu besar. Kamu hanya akan mimisan sebentar]...


...[Jika kamu berhasil, level kecerdasan akan tetap di angka delapan. Tapi, jika kamu gagal. Levelnya, akan turun di angka tiga]...


"Sebentar, kenapa naiknya drastis banget?"


...[Aku berencana, menjadikan Innara sebagai Alpha Female. Namun, jika dibandingkan dengamu. Kamu lebih sesuai, dengan kriteria itu]...


"Apa?! Sebentar, kalau kalian menemukanku, setelah memberikan sistem ini ke Innara. Apa mungkin, aku bakalan dapet?" tanya Aizha, penasaran.


...[Tidak]...


...[Hanya lima orang terpilih]...


"Satu negara lima orang?"


...[Satu dunia]...


Aizha terkejut, dia hampir saja membuka mulut. "Kenapa aku? Bukankah banyak orang yang dapet kasus bully lebih parah dari ku?"


...[Segera rancang strategimu! Besok malam, Innara akan kembali disiksa oleh Alex, lebih parah dari biasanya. Mungkin saja, Innara tidak akan bisa bergerak, untuk sementara waktu, karena ulah Alex]...


"Ya! Aku masih di bawah umur! Jangan bilang hal begituan!" Aizha menutup matanya, kesal.


...[Jangan sok suci deh! Umurmu juga sudah sesuai. Kamu lupa, soal kasus Biannka sama Jeno? Siapa yang ngide begituan coba_- Kamu lah yang membuatku seperti ini. Aku hanya mengikutimu]...


"Ck, jawab panjang lagi! Padahal, aku tadi dicuekin."


...[Dengan bantuan item cerdas, kamu akan segera menyelesaikannya, dengan sangat cepat. Aku juga akan membantumu sedikit. Setelah selesai, kau harus makan yang bergizi dan istirahat cukup lama]...


"Cih, dicuekin lagi!" maki Aizha, pada sistem Alpha.


...[Ayo lakukan! Jika tidak, kau akan kembali dibully, lebih parah dari pada yang dulu]...


"Sialan!" umpat Aizha, dia pun segera pergi ke lab serba canggihnya. Dia langsung merancang strategi dan mepersiapkan segala hal, untuk besok malam.


...<\=>...


Siang harinya, ketika jam istirahat tiba. Cantika tengah mencari keberadaan Aizha. Namun, sudah sedari tadi pagi. Dia tidak dapat menemukan Aizha.


"Apa dia enggak masuk?" Cantika pun pergi ke area Kelas Aizha. Dia memberanikan diri, untuk bertanya pada teman sekelas Aizha. "Hai!" sapanya.


Gadis berkucir satu itu menoleh. "Ya? Kamu Cantika kan?"


"Ehhh, lo tau?" Cantika tak percaya, jika dirinya populer.


"Ohhh, banyak rumor tentangmu yang beredar, seperti kejadian di Kantin kemarin," ucap gadis itu, berhasil menusuk hati Cantika.


Cantika pun tersenyum kaku dan bertanya, "Apa Aizha hari ini nggak masuk?"


"Dia hari ini ijin nggak masuk, karena sakit. Kalian berdua saling kenal ya, ternyata?"


Cantika langsung melambaikan kedua tangan ke depan, menyangkal. "Enggak, kami... Cu-man sekedar tukar nama, karena dia meminjamiku uang."


"Ohhh, baiknya..." kata gadis itu.


Cantika pun pamit pergi dan diangguki olehnya. Bunga yang bersembunyi di balik jendela kelasnya, risau. Dia yang mendengar pembicaraan Cantika, dengan gadis itu, membuatnya kepikiran. Bunga juga merasa bersalah, karena tak membalas pesan Aizha.


"Kayaknya, aku harus ke rumah Aizha, nanti," ucap Bunga, sambil menggegam handphone.


...<\=>...


"Permisi Pak, saya teman satu Sekolahnya, Aizha. Boleh saya masuk?" pinta Bunga, meminta ijin dan memperkenalkan diri.


"Sebentar ya, Non. Saya konfirmasi sebentar, ke Mbk Aizha-nya," ucap Pak Satpam dan diangguki oleh Bunga.


Tak berselang lama, Pak Satpam kembali bertanya, "Nama Non, siapa?"


"Saya Bunga," sahut Bunga.


Pak Satpam tampak bicara, dengan seseorang. Kemudian, gerbang besar itu pun terbuka. Bunga pun masuk ke dalam mobil. Dia mengendarai mobilnya, masuk ke dalam area halaman rumah megah Aizha. Nampak Pak Satpam, langsung menghampiri Bunga.


"Selamat datang, Non," ucap Pak Satpam dan diangguki oleh Bunga.


"Terima kasih Pak," sahut Bunga dan pergi menuju rumah megah itu.


Bibik yang telah menunggu di depan pintu, membungkukkan badan dan menyalaminya. Bunga pun tersenyum lembut dan menundukkan kepala, sebagai balasan. Bibik mengantar Bunga, untuk duduk di ruang tengah, dengan akuarium yang sangat besar.


"Wahhh, cantik-cantik banget!" kagum Bunga, melihat ikan hias milik Aizha.


Akuarium itu, terlihat sangat cantik dan tertata, dengan begitu rapi. Bunga sudah lama menginginkan akuarium, seperti ini. Namun, dia adalah orang yang tidak tegaan. Dia akan selalu bersedih dan merasa bersalah, jika ikan-ikannya mati. Ayahnya pun melarang keras Bunga, untuk memelihara hewan, khususnya ikan.


"Non Bunga, ini minumnya." Bibik memberikan minum pada Bunga ke meja. Bunga pun duduk di sofa dan berterima kasih pada Bibik.


Bibik melihat akuarium itu dan tersenyum. "Non Bunga, juga suka ikan ya?"


Bunga, nampak tersenyum malu. Dan menganggukkan kepala. "Apa Aizha juga suka ikan, Bik?"


Bibik menggelengkan kepala, tidak. "Akuarium ini hadiah dari Mbk Aizha buat Adiknya. Wihhh, Aden waktu seneng banget! Padahal ya, Bapak itu udah kasih kado robot mahal banget dan Ibunya, ngasih game control yang muncuk di TV, terus ada alat kendali kecil. Apa ya, namanya? Bibik agak lupa. Intinya teh, hadiah mereka mah dilewatin gitu aja!" cerita Bibik, memberitau Bunga, selagi menunggu Aizha.


Bunga pun tertawa kecil. Entah kenapa, dia jadi terpikikar sesuatu. Dia memberanikan diri, untuk bertanya, "Bibik, dimana Adik Aizha sama orang tuanya?"


"Mereka tinggal di luar negeri, Non. Mbk Aizha, seharusnya sekolah di sana juga, tapi ditolak. Bapak, Aden sama Ibu teh, udah paksa Mbk Aizha. Tapi, tetep aja nggak mau," jelas Bibik, tampak pusing sendiri.


"Kenapa?" Bunga semakin penasaran.


"Mbk Aizha, cuman nggak suka aja, sama hal hal yang asing baginya," sahut Bibik dan Bunga pun ber-ohh. "Nahhh, akhirnya Mbk Aizha udah turun. Kalau gitu, saya pamit dulu, Non Bunga."


"Iya Bik, makasih," ucap Bunga. Bibik pun menundukkan kepala dan tersenyum. Dia pergi meninggalkan Aizha dan Bunga berdua di ruangan besar itu.


"Kalian ngobrolin apa?" tanya Aizha, penasaran. Dia duduk di sofa depan Bunga.


"Tuh, akuarium!" Bunga menunjuk akuarium besar Aizha.


"Ohhh," Aizha mengangguk, paham. Dia pun bertanya, "Tumben ke sini, ada apa?"


"Aku denger, kamu tadi nggak masuk Sekolah, karena sakit. Mangkanya, aku jenguk kamu kemari," sahut Bunga dan Aizha pun kembali mengangguk, mengerti. "Ohh iya, aku minta maaf, karena datang ke sini, dengan tangan kosong. Soalnya, setiap toko buah dan roti yang aku datangi tadi, ada yang tutup. Sebagian lagi, aku kurang suka."


"Enggak papa, aku udah seneng banget kok. Kamu mau jengukin aku ke sini," kata Aizha, membuat Bunga tersenyum lega.


Ekspresi Bunga, tiba-tiba berubah. "Emmm, soal chatmu hari itu. Aku juga mau minta maaf, karena nggak ngebales chatnya."


"No problem, aku mengerti kok," ucap Aizha, tidak masalah. "Jadi gimana? Apa kamu seneng, bisa lepas dari Vlora dan kawan-kawannya?"


Ekspresi wajah Bunga, kembali berubah. Dia mulai serius. "Nahhh, soal itu Zha! Aku tau banget, si Alpha lah ulah dari kejadian di Aula, hari itu. Aku minta seseorang, buat cari tau. Siapa Alpha yang sebenarnya!"


"Ehhh," Aizha tampak terkejut. "Ka-kamu yakin Bunga?"


"Iya! Aku juga, bakalan cek CCTV. Cari tau, siapa orang di Sekolah yang megang laptop waktu kasus Bianka sama Jeno dan Vlora! Orang itu, pastilah Alpha yang sebenarnya!"


Aizha mulai risau, namun hologram kembali muncul dan mengingatkan. Jika, dia telah mensabotase CCTV dan semua teknologi canggih di Sekolah. Orang yang akan mencaritau Aizha, tidak akan pernah bisa. Aizha juga telah mengatur sistem, dengan sangat baik, untuk mereka yang ingin meretas Aizha. Mereka tidak akan, dengan mudah menemukan Alpha yang sebenarnya.


Aizha merasa sedikit lega. Namun, ketika di UKS hari itu. Bunga melihatnya secara langsung, jika dirinya sedang sibuk berkutip di handphone. Hari itu juga, Bunga tampak mencurigakan.


"Ohh iya, Bunga. Waktu di UKS, kok kamu tau bilang, kalau aku udah bekerja keras?" tanya Aizha, tampak Bunga tak paham.


Bunga mengingat kembali, hari itu. Kejadian ini ada di Bab 3. Bunga yang teringat pun menjawab, "Ohhh, waktu itu, aku cuman asal bicara aja. Aku cuman teringat sama Kakak Sepupuku. Dia juga sering mimisan, karena sibuk ngampus dan terlalu maksain diri, buat kuliah kilat. Waktu mau pingsan aja. Dia minta aku, buat ngejamin dan kalau udah tiba waktunya, disuruh bangunin, karena ada urusan yang harus dikerjakan."


"Oalahhh," Aizha benar-benar merasa lega. Pantas saja, Bunga langsung menemui Dokter waktu itu, untuk minta obat, buat dia. "Sekarang, kondisi Kakakmu gimana?"


"Meninggal," sahut Bunga, singkat. Aizha terkejut, mendengarnya. Dia pun meminta maaf, karena tidak mengetahuinya.


Bunga pun tersenyum dan menggelengkan kapala, "Nggak papa, aku harap kamu sehat selalu ya. Udah Sore juga, aku harus pulang. Maaf ya, kalau aku udah ganggu kamu."


"Nggak papa, aku malah seneng kok. Aku udah dari lama juga, pingin dijenguk kayak gini, hehehe," ucap Aizha malu-malu.


Bunga pun tersenyum senang. Aizha dan Bunga, pergi ke luar rumah. Mereka tampak berbincang sedikit dan pamit. Aizha melambaikan tangan kanannya ke atas, ketika Bunga telah pergi, dengan mobilnya. Tak berselang lama, sebuah hologram muncul.


...[Ayo bersiap-siap!]...


"Yes!" Aizha tampak senang. Dia pun segera masuk ke dalam rumah.


...××××××××××××××××××××××××××××××××...


Tinggalkan jejak kalian di novel ini ya, guys! Terima Kasih💕


See you ...