
...Welcome to Alpha Female, guys✨...
...Selamat membaca💕...
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
Pagi harinya, ketika Bunga tengah merapikan peralatan Sekolahnya ke dalam tas. Seseorang menghubungi Bunga. Orang tersebut, terpaksa menghentikan tugas yang diberikan Bunga. Mereka juga rela, untuk mengembalikan uangnya.
"Tolong saya, ini beneran penting. Apa anda, beneran nggak bisa?" mohon Bunga pada seorang Hacker.
"Maaf, semua komputer, handphone dan laptop saya rusak, karena virus yang orang itu kirim. Mbk-nya, bisa cari Hacker yang lebih hebat lagi," kata orang di balik handphone.
"Tapi... Ya udah lah. Uangnya nggak usah dibalikin. Lagi pula, karena saya juga, anda jadi kerepotan gini. Maaf ya," ucap Bunga merasa bersalah.
"Baik Mbk, nggak papa. Saya jadi banyak pelajaran juga, setelah menghadapi orang itu."
Bunga hanya bersyukur, jika Hacker tersebut tidak benar-benar menderita. Dia pun menutup handphonenya, setelah pembicaraan mereka selesai. Bunga tampak begitu murung dan sedih.
...<\=>...
Cantika yang baru saja selesai berolahraga, hendak pergi menuju kamar mandi. Namun, langkah kakinya terhenti. Ketika melihat Innara, berjalan sempoyongan. Dia pun pergi menghampiri Innara. Beruntungnya, saat Innara hendak jatuh, Cantika langsung dengan sigap, menangkap tubuh dia.
"Lo sakit ya?" tanya Cantika, khawatir. Dia membantu Innara, untuk berdiri tegak.
Innara yang terlihat begitu lemah pun menganggukkan kepala, kecil. Dia mengiyakan, pertanyaan Cantika dan meminta tolong, untuk dibantu jalan ke UKS. Cantika mengiyakannya. Dia dengan senang hati, menuntun Innara ke UKS.
Saat Innara dan Cantika pergi ke UKS. Ruangan itu, tampak begitu sepi. Cantika pun, membantu Innara, untuk berbaring di atas ranjang kecil itu.
"Gue mintain teh anget dulu ya?" kata Cantika, ijin pamit.
Innara menolak, dengan melambaikan salah satu tangan ke depan. "Gue nggak begitu suka teh. Gue cuman mau, istirahat sebentar aja. Lo bisa temenin gue di sini sebentar?"
Cantika sedikit ragu. Jika, dia membolos saat jam pelajaran. Dia bisa saja terkena masalah. Melihat keresahan di raut wajah Cantika, membuat Innara paham. "Urusan beasiswa, masih bisa gue atur. Lo nggak perlu risau. Gue cuman butuh lo di sini sebentar doang. Gue nggak boleh ketiduran soalnya," ucap Innara, membuat Cantika mengernyitkan kening.
"Kenapa?" tanya Cantika.
"Ada lah," sahut Innara, tak ingin memberitau Cantika. Dia pun mengalihkan topik, dengan bertanya, "Ohhh iya, udah lama banget, gue pingin ngobrol sama lo."
"Hmm?"
"Gue yakin, kalau bukan karena tuh beasiswa. Lo pasti, udah habisi tuh para pengecut!" pikir Innara, membuat Cantika diam.
Pengecut yang dimaksud Innara, adalah para pembully Cantika. Anak lelaki yang beraninya ngajak ribut Cantika. Dan Anak perempuan, kalau kalah pasti akhirnya mengancam, dengan nama Sekolah atau beasiswa. Bagi Innara, mereka sangatlah menjijikan dan hina. Bagaimana bisa, ada orang sememalukan itu.
Cantika yang diam, akhirnya bicara, "Kalaupun, bukan karena beasiswa. Gue juga, bakalan kayak gini. Gue nggak mau, bikin masalah sampek kedenger langsung sama orang tua. Gue juga pingin. Jadi Kakak yang bisa diandalkan dan bikin Adek-adek gue bangga. Gue nggak bisa bayangin, kalau mereka sampek sedih, karena tau hal ini."
Innara mengerti maksud Cantika. Dia sendiri juga menyembunyikan masalah dari orang tuanya. Melihat Innara yang diam saja. Cantika pun melirik ke arah tangan Innara yang diperban. Meskipun, dia mengenakan sweter panjang. Namun, ketika lengannya tertarik sedikit, perban itu pun terlihat jelas.
Innara baru saja sadar, jika dia hanya diam saja. Dia pun meminta maaf dan berkata, jika dirinya tak tau harus bilang apa. Namun, sedari tadi dia telah mendengarkan Cantika dan memahaminya.
"Apa lo nyembunyiin ini dari orang tua juga?" tanya Cantika, setelah Innara selesai bicara, sebari menunjuk perban itu.
Innara melihat perbannya dan dia tutupi. "Iya," sahutnya malu dan murung.
Cantika memegang tangan Innara dan tersenyum lembut. "Menyerah pada kehidupan ini, nggak ada gunanya. Percaya deh, lo di akhirat sana juga bakalan ngerasain, hal paling pedih dari pada di dunia ini! Tapi, lo juga bisa ngerasain hal paling indah dan menakjubkan di akhirat nanti. Jika itu, memang layak untukmu, loh."
Innara hanya diam dan tiba-tiba tersenyum. "Iya, apa yang lo omongin ada benarnya. Dokter gue juga bilang, kalau bunuh diri, bukan jalan yang tepat, untuk lari dari kenyataan hidup ini."
"Tuhh kan." Cantika mulai besar kepala.
Innara tersenyum kecut, melihat reaksi Cantika. "Btw, kita belum saling kenalan kan?"
" Gue sih tau, kalau elo Innara," ucap Cantika, songong.
Innara tampak sedikit kesal. "Gue juga tau, elo tuh Cantika!" tak mau kalah.
Melihat tingkah mereka satu sama lain, membuat keduanya tertawa sumbang, untuk memecah kecanggungan dan kesunyian yang ada. Innara dan Cantika, tampak saling ingin bicara, hingga akhirnya tabrakan. Keheningan pun, kembali muncul.
Innara memilih, untuk mengeluarkan handphone dari kantong roknya dan menyodorkan ke Cantika. "Minta nomor lo, dong."
"Oke," sahut Cantika dan mengetikkan nomor di handphone Innara. Selesai menyimpan nomornya. Dia pun memberikan handphone itu ke Innara. "Ohhh iya, lo tadi sempat bilang, katanya kepingin ngobrol sama gue, kenapa?
"Hmmm," Innara berpikir sejenak, untuk merangkai kata-katanya. "Gue cuman seneng aja. Lihat lo, kalau lagi ribut omongan sama anak-anak cowok. Lo kek nggak ada takutnya. Diem lo juga, demi mertahanin beasiswa."
"Ohhh, tanpa lo sadari. Lo tuh ngagumi gue, ya? Maap, gue nggak doyan LGBT." Cantika tersenyum sombong dan sok cantik.
Innara melotot, tak percaya. "Heh! Gue normal ye! Lo kalau ngomong, emang asal jeplak aja, ya?! Bisa difilter dikit nggak?".
"Maksud lo?" Innara ingin memastikan. Jika, Cantika tidak mengetahui soal dirinya yang dilecehkan oleh Alex.
Cantika memastikan, jika di ruangan itu, hanya ada mereka berdua. "Gue tau, kalau lo disiksa sama Alex. Alasan lo pingin bunuh diri, juga karena hal itu kan?" sedikit pelan.
Innara benar-benar terkejut. Dia mulai khawatir dan juga resah. "Lo tau dari mana? Jangan-jangan, ada anak lain juga yang tau soal ini?"
"Gue nggak tau soal itu. Tapi, gue tau hal ini, secara nggak sengaja. Gue pernah lihat lo ciuman di kelas, waktu Sekolah agak sepi," jelas Cantika, membuat Innara lemas.
Innara merasa, kondisi tubuhnya semakin memburuk, setelah mendengar ucapan Cantika. Tampak dari raut wajah Cantika, dia merasa gelisah dan meminta maaf. Guru UKS, tak berselang lama datang. Dia menyuruh Cantika, untuk segera masuk ke dalam Kelas.
...<\=>...
Kelas tampak sedikit rame. Bunga yang sedang sibuk menyendiri dipojokan, tampak kesepian. Sudah tak ada lagi, orang yang mau berteman dengannya.
Seorang Siswi dari Kelas Aizha datang, mengunjungi Siswi di Kelas Bunga. Siswi itu, tampak mengembalikan jaket teman Bunga dan mengobrol sedikit. Bunga juga sempat mendengar sekilas, jika Aizha tak masuk Sekolah kembali.
Bunga yang mendengar hal itu pun, langsung menghubungi Aizha. Namun, sayang sekali, Aizha tak menerima panggilannya berulang kali.
Bel pergantian jam pun berbunyi. Siswi yang berasal dari kelas Aizha itu, segera pergi dari Kelas Bunga, sebelum Guru masuk. Namun, Siswi tersebut malah bertemu Guru, di ambang pintu Kelas. Nampak, Siswi tersebut kaget dan tersenyum malu.
Ketika Guru itu selesai berurusan, dengan Siswi tersebut. Sang Ibu Guru langsung pergi ke depan kelas. Tampak, Guru dan Murid saling menyapa serta berbincang sedikit.
"Kalian tau nggak, Pak Eko. Bisa-bisanya loh, dia ngajakin rapat waktu saya ngajar! Nggak tau apa ya, saya harus nyimpen nilai kalian, buat laporan!" gerutu Bu Guru, kesal.
"Lohh Bu, bukannya kita udah ada nilai?" tanya sang Ketua Kelas.
"Nilai keterampilan kalian itu kan belum ada to, cah!" sahut Bu Guru dan beberapa Murid pun, ber-ohh. "Nah, sekarang kalian bikin kelompok dan buat tugas, kliping. Bab satu kelompok ini dan seterusnya."
Sang Ketua Kelas, mencek paket sejarah Indonesia. "Bu, semester satu doang kan, ya?"
"Iya, Bapak Ketua Kelas," sahut Ibu Guru, membuat beberapa Murid tertawa kecil. "Tolong kamu kordinir teman-temanmu, ya! Keburu Pak eko ngamuk dan ceramah panjang lebar entar."
"Malah bagus dong, Bu. Bisa ada jamkos," ujar Siswa yang duduk di bangku paling belakang. Bangku favorit, para anak-anak bermasalah.
"Kalian ini! Gelemme nek enak e tok! Sekolah pingine mung jamkos... terus! Tapi, njaluk biji sing apik!" omel Bu Guru, dengan bahasa jawa.
"Buuu! Ibu itu ngomong apa? Kita semua nggak ngerti!" tegur salah seorang Murid lain.
"Kalian itu loh! Maunya yang enak-enak doang! Sekolah suka e, cuman jaskos melulu. Giliran nilai aja, mintanya yang bagus, di atas KKM pula!" jelas Bu Guru, sembari mengomel.
"Oalahhh," sahut beberapa Murid.
"Udahlah, Ibu mau rapat dulu. Kalian langsung bikin kelompok dan list di grup chat kita ya!" pinta Bu Guru dan langsung di-iyakan oleh para Murid-Murid. "Jangan sampai, Ibu lihat kalian nggak akur atau pilih-pilih teman!"
"Siap Bu!" sahut beberapa Murid.
Ibu Guru pun pamit pergi. Sang Ketua Kelas dan Wakilnya, berjalan ke depan kelas. Mereka berdua, langsung melaksanakan perintah Guru. Nampak, beberapa Murid langsung membentuk kelompok mereka masing-masing dan hanya tersisa Bunga.
"Bunga masuk kelompoknya Vlora ya?" tanya sang Wakil Ketua Kelas, perempuan.
"Gue nggak bisa, maaf. Gue nggak sanggup, kalau harus repotin orang tua lagi, buat menjamu dia," tolak Vlora, lagi-lagi mencuci otak para Murid di Kelas.
"Ya udah, kelompok dua gimana?" tanya sang Wakil Ketua Kelas, pada yang lain.
"Ogah! Rumah gue nggak setara sama dia. Beda jauh kita," tolak Siswi lain.
Sang Wakil Ketua kelas pun, menawarkan kelompoknya sendiri. Namun, teman-teman dia menolak, dengan tegas. Ketua Kelas juga mengajukan Bunga, untuk masuk ke kelompoknya. Tetapi, para anak lelaki juga menolak, hingga menghina Bunga. Mereka berdua mulai kesal.
"Kalau nggak ada yang mau sama Bunga. Kita bisa kena masalah!" ujar Pak Ketua Kelas, berusaha sabar.
"Harusnya, lo tegur anak-anak cewek noh! Ya kalik, Bunga cewek sendiri di ke kelompok cowok!" komen Siswa lain.
"Kenapa kita yang salah ya?" protes anggota kelompok perempuan.
"Kelompok campuran tuh!" ujar anggota kelompok perempuan satunya.
"Ogah ya!" tolak anggota dari kelompok campuran.
Bunga tampak menangis seorang diri, mendengar perdebatan teman-temannya. Melihat Kelas semakin kacau. Bunga memutuskan untuk pergi dari Kelas. Ketus Kelas terus memanggil. Namun, dia segera masuk. Saat seorang Guru muncul.
...××××××××××××××××××××××××××××××××...
...Terima kasih💕...